MENDATA Oeang Daerah TAPANULI

From Help

(Difference between revisions)
Jump to: navigation, search
Line 29: Line 29:
Potret Rediden : Dr. Ferdinant Lumban Tobing, kami kutip dari Medan Area Mengisi Proklamasi hal. 530. Buku republik Indonesia, Prop. Sumatera Utara (Kementrian Penerangan, 1953) mencatat :  Dengan keputusan Gibernur Sumatera, Ibukota Keresidenan Tapanuli dikembalikan ke Sibolga, resminya tgl. 15 Mei 1946 (hal. 5). Sebelumnya, pada tgl. 5 Oktober (1945) dibentuklan Pusat Pemerintahan Resmi di Tarutung (Medan Area Mengisi Proklamasi, hal. 164)
Potret Rediden : Dr. Ferdinant Lumban Tobing, kami kutip dari Medan Area Mengisi Proklamasi hal. 530. Buku republik Indonesia, Prop. Sumatera Utara (Kementrian Penerangan, 1953) mencatat :  Dengan keputusan Gibernur Sumatera, Ibukota Keresidenan Tapanuli dikembalikan ke Sibolga, resminya tgl. 15 Mei 1946 (hal. 5). Sebelumnya, pada tgl. 5 Oktober (1945) dibentuklan Pusat Pemerintahan Resmi di Tarutung (Medan Area Mengisi Proklamasi, hal. 164)
 +
 +
<div align="center">
 +
[[File:Tapanuli_06.JPG|200px|link=]]
 +
</div>
Hingga awal kemerdekaan, keresidenan Tapanuli terbagi atas 4 kabupaten (afdeling) : Tapanuli Tengah (Sibolga en omstreken; Sibolga & sekitarnya) dengan ibukota Sibolga, Tapanuli Selatan (Angkola & Siipirok) dengan ibukota Padang Sidempuan, Tapanuli Utara (Bataklanden; Tanah Batak) dengan ibukota Tarutung, dan Nias dengan Ibukota Gunung Sitoli.
Hingga awal kemerdekaan, keresidenan Tapanuli terbagi atas 4 kabupaten (afdeling) : Tapanuli Tengah (Sibolga en omstreken; Sibolga & sekitarnya) dengan ibukota Sibolga, Tapanuli Selatan (Angkola & Siipirok) dengan ibukota Padang Sidempuan, Tapanuli Utara (Bataklanden; Tanah Batak) dengan ibukota Tarutung, dan Nias dengan Ibukota Gunung Sitoli.

Revision as of 14:12, 29 March 2011

Lihat daftar artikel.

Oeang Daerah - MENDATA TAPANULI

Kata Tapanuli / Tapanoeli tercantum pada 4 macam Uang Kertas  : ORITA (H-870 / 877) URIPS Bukittingi yang berlaku buat daerah Tapanuli (H-553) ORI Keresidenan Tapanoeli Kaboepaten Nias (H-702) ORI Daerah Tapanuli Kabupaten Nias (H-703 / 705)

ORITA yang menurut KUKI 1996 : Oeang Republik Indonesia Keresidenan Tapanoeli, mungkin Cuma sebutan saja. Kita bisa menyoal mengapa Rep-U-blik bukan Rep-OE-blik. Atau benarkah OE-ang, karena pada UK-nya tertulis WANG Kertas. Ada pula, “kepala Kantor Pengawasan Ke-WANG-an Tapanoeli”. Terakhir, “Alat Pembajar yang Berlakoe dalam daerah Tapanoeli “ini selalu memakai kata “DAERAH” walau setiap pecahanya diterbitkan berdasarkan ketetapan RESIDEN Tapanoeli. Boleh juga ditambahkan (maaf) tapi kami memang TIDAK menemukan satupun kata “Republik Indonesia” pada UK- “Oh-Rita” ini.

Untuk masing-masing pecahan dapat kita data Tanggal dan Nomor Ketetapan Pak Residen berikut : R. 5 No. 1322, 8 Agoestoes 1947 R. 10 No. 1444, 8 September 1947 R. 1 G(unung), Sitoli, 25 Sep(tember), 1947 R. 25 No. 1780, 18 November 1947 R. 5 Bukittinggi, 1 Djanuari 1948 R. 10 Bukittingi, 1 Djanuari 2948 R. 50 No. 646, 28 Aperil 1948 R. 100 No. 1423, 11 Oktober 1948 R. 200 No. 3/Trt, 23 November 1948 R. 100 (Nias), 20 December 1948 R. 200 (Nias), 20 December 1948 R. 500 No. 1/1949, 5 Januari 1949 * dari katalog Pick

Ada jejak sejarah disana, bukan hanya No-V-ember 1947 yang diganti No=P-ember tahun 1948, atau Ap-E-ril yang kebablasan. Nomor ketetapan pak Residen rasanya baru diganti baru tiap awal tahun baru. Nomor yang 3/Tri, bisa berarti yang ke-3 di Ta-Ru-Tung. Apakah kantor “baru” ?.

Potret Rediden : Dr. Ferdinant Lumban Tobing, kami kutip dari Medan Area Mengisi Proklamasi hal. 530. Buku republik Indonesia, Prop. Sumatera Utara (Kementrian Penerangan, 1953) mencatat : Dengan keputusan Gibernur Sumatera, Ibukota Keresidenan Tapanuli dikembalikan ke Sibolga, resminya tgl. 15 Mei 1946 (hal. 5). Sebelumnya, pada tgl. 5 Oktober (1945) dibentuklan Pusat Pemerintahan Resmi di Tarutung (Medan Area Mengisi Proklamasi, hal. 164)

Tapanuli 06.JPG

Hingga awal kemerdekaan, keresidenan Tapanuli terbagi atas 4 kabupaten (afdeling) : Tapanuli Tengah (Sibolga en omstreken; Sibolga & sekitarnya) dengan ibukota Sibolga, Tapanuli Selatan (Angkola & Siipirok) dengan ibukota Padang Sidempuan, Tapanuli Utara (Bataklanden; Tanah Batak) dengan ibukota Tarutung, dan Nias dengan Ibukota Gunung Sitoli.

Tahun 1947 Tapanuli dibagi menjadi 9 Kabupaten : Di Utara – Silindung (dengan ibukota Tarutung), Humbang (Dolok Sanggul), Toba/Samosir (Balige), Dairi (Sidikalong); Di Tengah – Sibolga (Sibolga); Di Selatan – Angkola (Padang Sidempuan), Batang Gadis (Penyambungan), Padang Lawas (Gunung Tua) di Selatan; dan Nias (Gunung Sitoli). Pusat pemerintahan Keresidenan dipindahkan dari Sibolga ke Aek Sitahuis (Sibolga II); hal. 145

Agresi Belanda I (21 Juli 1947) mencerai-beraikan Pemerintahan Sumatra Timur. Tapanuli menampung beratus ribu pengungsi yang mebanjir dari Sumatra Timur (hal.145). Semua ORITA dan ORIDA Sumatra Timur tertanggal setelah tanggal tersebut. Pada tanggal 15 Agustus 1947, Pemerintah Keresidenan Tapanuli mencetak Orita (Uang Republik Indonesia Tapanuli). Maksud semula hanya mengeluarkan uang harga Rp5,- dan Rp10,- untuk memudahkan penukaran Orips cetakan Pematang Siantar harga Rp100,- yang dibawa oleh pengungsi (hal. 145)

Patut dicatat Bon R.I Kawedanan Barus (KUKI 1996 : H-490) tertanggal 26 Desember 1947. Barus terletak ditepi pantai, utara Sibolga. Nilainya yang R. 500 Sulit dimengerti. Bandingkan dengan R.1 Nias (25-9-1947) dan R. 25 ORITA (18-11-1947). Berkenaan dengan ORITA perlu kiranya dicatat : tgl. 23 September 1947 Keresidenan Tapanulii (dengan Residen Dr. Ferdinand Lumban Tobing) ditambah kabupaten Asahan, Deli Serdang, Labuan Batu, Simalungun yang juga disebut Keresidenan Sumatra Timur-Selatan (dengan Residen Mr.Abu Bakar Djaar) berada dibawah Gubernur Militer Dr.Gindo Siregar. Kabupaten Langkat dan Tanah karo digabung dengan Keresidenan Aceh dibawah Gubernur Militer Tgk.M. Daud Beureueh. Penataan ulang TNI di kedua wilayah itu berlangsung penuh ketegangan, terutama di Tapanuli.

Perlu dicatat bahwa mulai 15 April 1948 Keresidenan Aceh, Tapanuli, dan sisa Sumatra Timur berada dibawah Gubernur Propinsi Sumatra Utara, Mr. S.M. Amin, walau Mr. T.M. Hasan baru berhenti menjabat Gubernur Sumatera sejak 1 Juni 1948. Buku Dr.Mr.TH.Moehammad Hasan (Dwi Purwoko, Pustaka Sinar Harapan, 1995, hal 44) mencatat ketetapan No. 46/Bkt/U tgl. 15 April 1948 yang memberi kuasa kepada Residen Tapanuli untuk mengeluarkan Orips sejumlah dua milyard rupiah buat keperluan : Pembelian Beras Rp 1.500.000.000,- dan pembelanjaan Pemerintahan Rp500.000.000,-. Perhatikan tanggal 28 April 1948 pada ORITA R. 50; nilai yang tinggi untuk ORIDA.

Perlu pendalaman sejarah untuk mengerti apa yang terjadi sebelum dan sesudah Peristiwa 10 September 1948. Konon ada suasana mirip “perang saudara” antara pihak Utara yang “diwakili” Brigade Banteng Negara pimpinan Liberty Malau di Tarutung dan pihak Selatan dengan Brigade B pimpinan Mayor Bedjo di Padang Sidempuan. Keduanya berasal dari para laskar Medan Area (Sumatera Timur). Sibolga menjadi ajang perebutan.

Seruan Pak Residen lewat surat 27 Oktober 1948 untuk menghentikan pertempuran dan asing-masing tinggal dulu pada tempatnya yang sekarang rupanya tidak mendapat tanggapan. Tercatat : dengan mundurnya Brigade Banteng Negara dari Sibolga turut serta Residen Dr. F. Lumban Tobing, Sementara wakil Residen Binanga Siregar dengan staff Pemerintahan Keresidenan Tapanuli lainya tinggal di Sibolga, dan Panglima Sumatera yang ke Tarutung untuk menjumpai Residen Dr. F. Lumban Tobing dan mengadakan pembicaraan dengan pimpinan Brigade Negara kiranya menjelaskan ORITA R. 200 yang dikeluarkan dengan ketetapan No. 3/Trt. Tertanggal 23 Nopember 1948. Perhatikan tanggal pada ORITA R.100 yang 11 Oktober 19948, yang masih di Sibolga.

Letkol. A.E. Kawilarang baru menjabat Komandan Sub Territorium VII(Tapanuli & Sumatera Timur-Selatan) mulai 28 Nopember 1948; terlambat 6 bulan dari surat tugas yang ditanda-tangani Wakil Presiden tgl. 24 Mei 1948 (Ramadhan KH, “A.E. Kawilarang”, Pustaka Sinar Harapan, 1988, hal. 138).

Pertanyaan kami : Bagaimana wilayah edarnya? Seluruh Tapanuli?. Termasuk Sumatera Timur-Selatan? KUKI 1996 mendata URIPS Bukittinggi 1-1-1948 R. 5 yang Berlaku Buat Sumatera Timur (H-550) dan Katalog Pick mendata pecahan 10 sen (S-211) dan ½ Rupiah (S-212_. KUKI 1996 juga mendata ORIDA Keresidenan Sumatera Timur-Selatan pecahan ½ Rupiah terbitan Rantau Prapat 1-1-1948 (H-827). Kesan kami, ORITA tidak dapat dipelajari lepas dari ORIDA Sumatera Timur lainya dan “sejarah” para laskarnya.

Yang lebih numismatis adalah seri-nomor dan tandatangannya. Semua ORITA bernomor 5-angka. Ada yang serinya 1 huruf-besar (ditambah titik), dan ada yang ditambah 1 huruf kecil. KUKI 1996 menyajikan contoh H-872 (1-huruf) dan H-871 (2-huruf), atau H-873 (1-huruf) dan H-874 (2-huruf). Ada perbedaan lainya, yang dirinci Pick : Harga R X,- / X ROEPIAH untuk yang 1-huruf dan R.X,- / X ROEPIAH / R X,- untuk yang 2 huruf. Ragam 1-huruf hanya tercatat pada pecahan R. 5, R. 10, dan R. 25. Ragam 2-huruf tercatat pada pecahan R. 5, R. 10, dan R. 25. Ragam 2-huruf tercatat pada semua pecahan.

KUKI 1996 mendata “salah tera” pada R. 50, Nomor Ketetapan yang mestinya “646” tertera “464” (Sayang gambarnya bukan yang dimaksud). Ada pula bed warna dasar pada R. 100 (merah, kuning, dan hijau) dan R. 200 (kunign dan Hijau) Ragam seri yang 2-huruf tampak seperti berpola. Tengok saja :

  • R. 5 Ca, Cb, Ce .........................“Cx”
  • R. 10 Bj, Bk...............................“Bx”
  • R . 25 Ae,Ai, Al, An, Ap, At, Ax............“Ax”
  • R. 50 Dd, De, Di, Dk, Dn, Dp, Dr, Dv.......“Dx”
  • R. 100 Eb, Ec, Ed, Ef, Ei, Ej, El.............“Ex”
  • R. 200 Fa, Ff.................................“Fx”

Seri “D” ORITA R. 25 kami data dari gambar S-394 Pick, yang membuat kami menduga semua ragam 1-huruf dimulai dari seri A. Agaknya ragam 1-huruf adalah terbitan pertama, dan selayaknya dikelompokan sendiri. Pada ragam 2-huruf kami temukan beda pada huruf ke-2 yang umumnya huruf kecil, yaitu : EL pada R. 100 ( dari Banknotes and Coins from Indonesia 1945-1990, hal. 132) dan F f pada R. 200


PIC_2--------------

ORITA R. 50 ragam “464” hanya kami jumpai pada seri Dd, De, Di, dan tertinggi 38165 Dk. Seri Dp, Dr, Dv, dan terendah 72575 Dn semua ragam “646”. Agaknya salah tera yang baru kemudian disadari.

ORITA R. 100 cetak dasar (atau warna sisi balik) “merah” tampak pada seri 39515 Ec dan 83038 Ed. Cetak dasar “hijau-kuning” tampak pada seri 56827 Ei, 15191 dan 29585 Ej. Yang “hijau benar” tampak pada seri 53545 El, kalau warna buku Banknotes and Coins from Indonesia 1945-1990 bisa dipercaya. Agaknya juga antara cetakan awal dan cetakan berikutnya.

Tanpa data yang cukup, sulit bagi kami membedakan mana yang kuning, mana yang hijau dan mana yang kunig-hijau, walau dari sisi baliknya. Itulah yang kami rasakan saat mencoba membedakan hijaunya ORITA R. 200 seri 83971 Ff koleksi kami dan 60766 Fa pada KUKI 1996.

Tentang tandatanganya ada yang menarik. Inilah ORIDA yang ditandatangani paling banyak saksi (tertulis : Diperikan oleh kami Panitia), dan tandatangan utamanya bukan oleh Residen tetapi kepada Kantor Pengawasan Kewangan Tapanuli, dan tidak begitu jelas berapa orang yang bertugas sebagai Kepala di Kantor tersebut. Apakah perlu didata? Katalog Pick telah mendata 22 tandatangan Kepala (pada sisi muka) dan 4 cap Panitia (pada sisi baliknya) berikut :


Pic_3------------------------

Apakah kita dapat menambahkan? Bukan itu masalahnya, Panitia (d) rupanya memang urutan terakhir dan paling sering kami jumpai. Panitia (d) tercatat pada seri : Al, An, Ap, At – Bj, Bk –Ce – Di, Dk, Dn, Dp, Dr, Dv – Ec, Ed, Ei, Ej, El –Fa, Ff. Panitia (c) baru tercatat pada seri A1 – De. Panitia (b) yang hanya 4 orang, baru tercatat pada seri Ae – Cb – Dd. Panitia (a), seri Ai oleh Panitia (c), dan Al/An/Ap/At oleh Panitia (d), lalu Dd (b) – De (c) – Di/Dk/Dn/Dp/Dr/Dv (d) menunjukan adanya pola.

Dari seri B pecahan R. 10 dalam buku Banknotes and Coins from Indonesia 1945-1990 (hal. 131) kami kuitp Panitia yang lebih awal, yang hanya 3 orang. Inilah tambahan kami. Sebut saja Panitia (e)


Pic_4-----------------

Tandatangan para Kepala Kantor Pengawasan Kewangan lebih beragam. Maklumlah karena rupanya ditandatangani lembar-demi-lembar dan benar-benar dengan tangan (bukan cap). Barangkali itulah sebabnya tampak seperti ada banyak Kepala, padahal yang banyak adalah “Juru Tanda-Tangan”. Terdata pada KUKI 1996: Tambunan, Anwar Loebis, P Hutagalung, Simamora, M. Sidabutar, Manullang, Hutahuruk, M. Siregar, yang mungkin tak berarti banyak bagi kita selain nama-nama marga Tapanuli.

Kalau berminat anda dapat mengumpulkan semua ragam tandatangan pada setiap pecahan. Bisa pula satu setiap tanda-tangan mengingat harga yang dipatok KUKI 1996. Berikut kami data ragam ORITA yang sempat terpantau. Tanda-tangan yang kami data dengan #22a dapat anda lihat pada UK H-872. Bandingkan dengan tandatangan #22 pada KUKI H-873; kami kira orang yang sama (A......gani ?). Yang kami data #23 adalah tanda-tangan pada UK H-875A. Terdata pula pada KUKI 1996 : #21 (H-876); #14 (H-877); #10 (H-874); #7 (H-870); # (H-875).

  • ORITA I Seri-nomor : 5-angka, 1-huruf (X.)
    • R. 5 Panitia : ? Kepala : ?
    • R. 10 Panitia : ( e ) N; ( ? ) D. Kepala : 22a
    • R. 25 Panitia : ( ? ) D/F Kepala : 22
  • ORITA II Seri-nomor : 5-angka, 2-huruf
    • R. 5 Panitia : ( ? ) C a; ( b ) Cb; ( d ) C e Kepala : 7, 19.
    • R. 10 Panitia : ( d ) Bl/Bk Kepala : 2, 23
    • R. 25 Panitia : ( b ) Ae; ( c ) A1; (d) Al/Ax Kepala 1, 6, 10, 11, 12, 19
    • R. 50 Ragam : 464 Panitia : (b) Dd; ( c ) De; ( d ) Di Kepala : 7, 15, 17 Ragam : 646 Panitia : ( d ) Dk/Dv Kepala : 2, 8, 9, 18, 19, 23
    • R.100 Ragam : merah Panitia : ( ? ) Eb; ( d ) Ec/Ed Kepala : 2, 3, 10 Ragam : hijau Seri : (1) Ei, Ej; ( 2 ) Ei Panitia : ( d ) Ei/El Kepala : 5, 12, 21
    • R.200 Seri : ( 1 ) Fa; ( 2 ) Ff Panitia : ( d ) Fa/Ff Kepala : 5, 14.

Kami data contoh tandatangan #1, #5, #8, #9, #12, #17, #18 dari koleksi. Dari Banknotes and Coins from Indonesia 1945-1990 dikutip tandatangan #15 dan #19. Kami masih menunggu contoh #3, #4, #6, #11, #13, #16, # 20 dan tandatangan lain yang belum terdata untuk melengkapi jurnal kita.


Pic_5----------------------------


Penulis : Adi Pratomo Artikel : Jurnal Rupiah No. 58 (12 Maret 2000)

Lihat pula


Personal tools