MENDATA Oeang Daerah TAPANULI

From Help

(Difference between revisions)
Jump to: navigation, search
Line 1: Line 1:
:{{daftarartikel}}
:{{daftarartikel}}
 +
MENDATA Oeang Daerah TAPANULI
-
Oeang Daerah - MENDATA  TAPANULI
+
Kata Tapanuli / Tapanoeli tercantum pada 4 macam Uang Kertas:
-
 
+
ORITA (H-870 / 877)
-
Kata Tapanuli / Tapanoeli tercantum pada 4 macam Uang Kertas :
+
URIPS Bukittingi yang berlaku buat daerah Tapanuli (H-553)
-
ORITA (H-870 / 877)
+
ORI Keresidenan Tapanoeli Kaboepaten Nias (H-702)
-
URIPS Bukittingi yang berlaku buat daerah Tapanuli (H-553)
+
ORI Daerah Tapanuli Kabupaten Nias (H-703 / 705)
-
ORI     Keresidenan Tapanoeli Kaboepaten Nias (H-702)
+
ORITA yang menurut KUKI 1996 : Oeang Republik Indonesia Keresidenan Tapanoeli, mungkin cuma sebutan saja. Kita bisa menyoal mengapa Rep-U-blik bukan Rep-OE-blik. Atau benarkah OE-ang, karena pada UK-nya tertulis WANG Kertas. Ada pula, “Kepala Kantor Pengawasan Ke-WANG-an Tapanoeli”. Terakhir, “Alat Pembajar yang Berlakoe dalam daerah Tapanoeli“ ini selalu memakai kata “DAERAH” walau setiap pecahannya diterbitkan berdasarkan ketetapan RESIDEN Tapanoeli. Boleh juga ditambahkan (maaf) tapi kami memang TIDAK menemukan satupun kata “Republik Indonesia” pada UK-“Oh-Rita” ini.
-
ORI     Daerah Tapanuli Kabupaten Nias (H-703 / 705)
+
Untuk masing-masing pecahan dapat kita data Tanggal dan Nomor Ketetapan Pak Residen berikut:
-
 
+
*R.5 -- No.1322, 8 Agoestoes 1947
-
ORITA yang menurut KUKI 1996 : Oeang Republik Indonesia Keresidenan Tapanoeli, mungkin Cuma sebutan saja. Kita bisa menyoal mengapa Rep-U-blik bukan Rep-OE-blik. Atau benarkah OE-ang, karena pada UK-nya tertulis WANG Kertas. Ada pula, “kepala Kantor Pengawasan Ke-WANG-an Tapanoeli”. Terakhir, “Alat Pembajar yang Berlakoe dalam daerah Tapanoeli “ini selalu memakai kata “DAERAH” walau setiap pecahanya diterbitkan berdasarkan ketetapan RESIDEN Tapanoeli. Boleh juga ditambahkan (maaf) tapi kami memang TIDAK menemukan satupun kata “Republik Indonesia” pada UK- “Oh-Rita” ini.
+
*R.10 -- No.1444, 8 September 1947
-
 
+
*R.1 -- G(unung). Sitoli, 25 Sep(tember). 1947
-
Untuk masing-masing pecahan dapat kita data Tanggal dan Nomor Ketetapan Pak Residen berikut :
+
*R.25 -- No.1780, 18 November 1947
-
R. 5 No. 1322, 8 Agoestoes 1947
+
*R.5 -- Bukittinggi, 1 Djanuari 1948
-
R.         10 No. 1444, 8 September 1947
+
*R.10 -- Bukittingi, 1 Djanuari 1948 (dari Katalog Pick)
-
R. 1 G(unung), Sitoli, 25 Sep(tember), 1947
+
*R.50 -- No.646, 28 Aperil 1948
-
R.         25 No. 1780, 18 November 1947
+
*R.100 -- No.1423, 11 Oktober 1948
-
R. 5 Bukittinggi, 1 Djanuari 1948
+
*R.200 -- No.3/Trt, 23 November 1948
-
R.         10 Bukittingi, 1 Djanuari 2948
+
*R.100 -- (Nias), 20 December 1948
-
R.         50 No. 646, 28 Aperil 1948
+
*R.200 -- (Nias), 20 December 1948
-
R.       100 No. 1423, 11 Oktober 1948
+
*R.500 -- (Nias) No.1/1949, 5 Januari 1949
-
R.       200 No. 3/Trt, 23 November 1948
+
Ada jejak sejarah disana, bukan hanya No-V-ember 1947 yang diganti No-P-ember tahun 1948, atau Ap-E-ril yang "kebablasan". Nomor Ketetapan Pak Residen rasanya diganti baru tiap awal tahun baru. Nomor yang 3/Tri. bisa berarti yang ke-3 di Ta-Ru-Tung. Apakah kantor “baru” ?
-
R.       100 (Nias), 20 December 1948
+
Potret Pak Rediden, Dr. Ferdinant Lumban Tobing, kami kutip dari Medan Area Mengisi Proklamasi hal.530. Buku Republik Indonesia, Prop. Sumatera Utara (Kementrian Penerangan, 1953) mencatat : Dengan Keputusan Gubernur Sumatera, Ibukota Keresidenan Tapanuli dikembalikan ke Sibolga, resminya tgl. 15 Mei 1946 (hal.5). Sebelumnya, pada tgl. 5 Oktober (1945) dibentuklah Pusat Pemerintahan Resmi di Tarutung (Medan Area Mengisi Proklamasi, hal.164)
-
R.       200 (Nias), 20 December 1948
+
-
R.       500 No. 1/1949, 5 Januari 1949
+
-
* dari katalog Pick
+
-
 
+
-
Ada jejak sejarah disana, bukan hanya No-V-ember 1947 yang diganti No=P-ember tahun 1948, atau Ap-E-ril yang kebablasan. Nomor ketetapan pak Residen rasanya baru diganti baru tiap awal tahun baru. Nomor yang 3/Tri, bisa berarti yang ke-3 di Ta-Ru-Tung. Apakah kantor “baru” ?.
+
-
 
+
-
Potret Rediden : Dr. Ferdinant Lumban Tobing, kami kutip dari Medan Area Mengisi Proklamasi hal. 530. Buku republik Indonesia, Prop. Sumatera Utara (Kementrian Penerangan, 1953) mencatat : Dengan keputusan Gibernur Sumatera, Ibukota Keresidenan Tapanuli dikembalikan ke Sibolga, resminya tgl. 15 Mei 1946 (hal. 5). Sebelumnya, pada tgl. 5 Oktober (1945) dibentuklan Pusat Pemerintahan Resmi di Tarutung (Medan Area Mengisi Proklamasi, hal. 164)
+
-
 
+
-
<div align="center">
+
-
[[File:Tapanuli_06.JPG|200px|link=]]
+
-
</div>
+
-
 
+
-
Hingga awal kemerdekaan, keresidenan Tapanuli terbagi atas 4 kabupaten (afdeling) : Tapanuli Tengah (Sibolga en omstreken; Sibolga & sekitarnya) dengan ibukota Sibolga, Tapanuli Selatan (Angkola & Siipirok) dengan ibukota Padang Sidempuan, Tapanuli Utara (Bataklanden; Tanah Batak) dengan ibukota Tarutung, dan Nias dengan Ibukota Gunung Sitoli.
+
-
 
+
-
Tahun 1947 Tapanuli dibagi menjadi 9 Kabupaten : Di Utara – Silindung (dengan ibukota Tarutung), Humbang (Dolok Sanggul), Toba/Samosir (Balige), Dairi (Sidikalong); Di Tengah – Sibolga (Sibolga); Di Selatan – Angkola (Padang Sidempuan), Batang Gadis (Penyambungan), Padang Lawas (Gunung Tua) di Selatan; dan Nias (Gunung Sitoli). Pusat pemerintahan Keresidenan dipindahkan dari Sibolga ke Aek Sitahuis (Sibolga II); hal. 145
+
-
 
+
-
Agresi Belanda I (21 Juli 1947) mencerai-beraikan Pemerintahan Sumatra Timur. Tapanuli menampung beratus ribu pengungsi yang mebanjir dari Sumatra Timur (hal.145). Semua ORITA dan ORIDA Sumatra Timur tertanggal setelah tanggal tersebut. Pada tanggal  15 Agustus 1947, Pemerintah Keresidenan Tapanuli mencetak Orita (Uang Republik Indonesia Tapanuli). Maksud semula hanya mengeluarkan uang harga Rp5,- dan Rp10,- untuk memudahkan penukaran Orips cetakan Pematang Siantar harga Rp100,- yang dibawa oleh pengungsi (hal. 145)
+
-
 
+
-
Patut dicatat Bon R.I Kawedanan Barus (KUKI 1996 : H-490) tertanggal 26 Desember 1947. Barus terletak ditepi pantai, utara Sibolga. Nilainya yang R. 500 Sulit dimengerti. Bandingkan dengan R.1 Nias (25-9-1947) dan R. 25 ORITA (18-11-1947).
+
-
Berkenaan dengan ORITA perlu kiranya dicatat : tgl. 23 September 1947 Keresidenan Tapanulii (dengan Residen Dr. Ferdinand Lumban Tobing) ditambah kabupaten Asahan, Deli Serdang, Labuan Batu, Simalungun yang juga disebut Keresidenan Sumatra Timur-Selatan (dengan Residen Mr.Abu Bakar Djaar) berada dibawah Gubernur Militer Dr.Gindo Siregar. Kabupaten Langkat dan Tanah karo digabung dengan Keresidenan Aceh dibawah Gubernur Militer Tgk.M. Daud Beureueh. Penataan ulang TNI di kedua wilayah itu berlangsung penuh ketegangan, terutama di Tapanuli.
+
-
 
+
-
Perlu dicatat bahwa mulai 15 April 1948 Keresidenan Aceh, Tapanuli, dan sisa Sumatra Timur berada dibawah Gubernur Propinsi Sumatra Utara, Mr. S.M. Amin, walau Mr. T.M. Hasan baru berhenti menjabat Gubernur Sumatera sejak 1 Juni 1948. Buku Dr.Mr.TH.Moehammad Hasan (Dwi Purwoko, Pustaka Sinar Harapan, 1995, hal 44) mencatat ketetapan No. 46/Bkt/U tgl. 15 April 1948 yang memberi kuasa kepada Residen Tapanuli untuk mengeluarkan Orips sejumlah dua milyard rupiah buat keperluan : Pembelian Beras Rp 1.500.000.000,- dan pembelanjaan Pemerintahan Rp500.000.000,-. Perhatikan tanggal 28 April 1948 pada ORITA R. 50; nilai yang tinggi untuk ORIDA.
+
 +
Hingga awal kemerdekaan, Keresidenan Tapanuli terbagi atas 4 kabupaten (afdeling) : (1) Tapanuli Tengah (Sibolga en omstreken; Sibolga & sekitarnya) dengan ibukota Sibolga; (2) Tapanuli Selatan (Angkola & Sipirok) dengan ibukota Padang Sidempuan; (3) Tapanuli Utara (Bataklanden; Tanah Batak) dengan ibukota Tarutung; dan (4) Nias dengan Ibukota Gunung Sitoli.
 +
Tahun 1947 Tapanuli dibagi menjadi 9 Kabupaten : Di Utara – Silindung (dengan ibukota Tarutung), Humbang (Dolok Sanggul), Toba/Samosir (Balige), Dairi (Sidikalong); Di Tengah – Sibolga (Sibolga); Di Selatan – Angkola (Padang Sidempuan), Batang Gadis (Penyambungan), Padang Lawas (Gunung Tua) di Selatan; dan Nias (Gunung Sitoli). Pusat pemerintahan Keresidenan dipindahkan dari Sibolga ke Aek Sitahuis (Sibolga II); hal.145
 +
Agresi Belanda I (21 Juli 1947) mencerai-beraikan Pemerintahan Sumatra Timur. Tapanuli menampung beratus ribu pengungsi yang mebanjir dari Sumatera Timur (hal.145). Semua ORITA dan ORIDA Sumatra Timur tertanggal setelah tanggal tersebut. Pada tanggal 15 Agustus 1947, Pemerintah Keresidenan Tapanuli mencetak Orita (Uang Republik Indonesia Tapanuli). Maksud semula hanya mengeluarkan uang harga Rp.5,- dan Rp.10,- untuk memudahkan penukaran Orips cetakan Pematang Siantar harga Rp.100,- yang dibawa oleh pengungsi (hal.145)
 +
Patut dicatat Bon R.I. Kawedanan Barus (KUKI 1996 : H-490) tertanggal 26 Desember 1947. Barus terletak ditepi pantai, utara Sibolga. Nilainya yang R.500 sulit dimengerti. Bandingkan dengan R.1 Nias (25-9-1947) dan R.25 ORITA (18-11-1947). Berkenaan dengan ORITA, perlu kiranya dicatat : tgl. 23 September 1947 Keresidenan Tapanulii (dengan Residen Dr. Ferdinand Lumban Tobing) ditambah kabupaten Asahan, Deli Serdang, Labuan Batu, Simalungun yang juga disebut Keresidenan Sumatra Timur-Selatan (dengan Residen Mr. Abu Bakar Djaar) berada dibawah Gubernur Militer Dr. Gindo Siregar. Kabupaten Langkat dan Tanah Karo digabung dengan Keresidenan Aceh dibawah Gubernur Militer Tgk. M. Daud Beureueh. Penataan ulang TNI di kedua wilayah itu berlangsung penuh ketegangan, terutama di Tapanuli.
 +
Perlu dicatat bahwa mulai 15 April 1948 Keresidenan Aceh, Tapanuli, dan sisa Sumatra Timur berada dibawah Gubernur Propinsi Sumatra Utara, Mr. S.M. Amin, walau Mr. T.M. Hasan baru berhenti menjabat Gubernur Sumatera sejak 1 Juni 1948. Buku Dr. Mr. T.H. Moehammad Hasan (Dwi Purwoko, Pustaka Sinar Harapan, 1995, hal.44) mencatat ketetapan No.46/Bkt/U tgl. 15 April 1948 yang memberi kuasa kepada Residen Tapanuli untuk mengeluarkan Orips sejumlah dua milyard rupiah buat keperluan : Pembelian Beras Rp http://www.facebook.com/l/ed5bcLXIqc-7DyTFYzDyJk9XUFQ/1.500.000.000,- dan pembelanjaan Pemerintahan Rp 500.000.000,-. Perhatikan tanggal 28 April 1948 pada ORITA R.50; nilai yang tinggi untuk ORIDA.
Perlu pendalaman sejarah untuk mengerti apa yang terjadi sebelum dan sesudah Peristiwa 10 September 1948. Konon ada suasana mirip “perang saudara” antara pihak Utara yang “diwakili” Brigade Banteng Negara pimpinan Liberty Malau di Tarutung dan pihak Selatan dengan Brigade B pimpinan Mayor Bedjo di Padang Sidempuan. Keduanya berasal dari para laskar Medan Area (Sumatera Timur). Sibolga menjadi ajang perebutan.
Perlu pendalaman sejarah untuk mengerti apa yang terjadi sebelum dan sesudah Peristiwa 10 September 1948. Konon ada suasana mirip “perang saudara” antara pihak Utara yang “diwakili” Brigade Banteng Negara pimpinan Liberty Malau di Tarutung dan pihak Selatan dengan Brigade B pimpinan Mayor Bedjo di Padang Sidempuan. Keduanya berasal dari para laskar Medan Area (Sumatera Timur). Sibolga menjadi ajang perebutan.
-
 
+
Seruan Pak Residen lewat surat 27 Oktober 1948 untuk menghentikan pertempuran dan masing-masing tinggal dulu pada tempatnya yang sekarang, rupanya tidak mendapat tanggapan. Tercatat : dengan mundurnya Brigade Banteng Negara dari Sibolga turut serta Residen Dr. F. Lumban Tobing, Sementara wakil Residen Binanga Siregar dengan staff Pemerintahan Keresidenan Tapanuli lainya tinggal di Sibolga, dan Panglima Sumatera yang ke Tarutung untuk menjumpai Residen Dr. F. Lumban Tobing dan mengadakan pembicaraan dengan pimpinan Brigade Negara kiranya menjelaskan ORITA R.200 yang dikeluarkan dengan ketetapan No.3/Trt. Tertanggal 23 Nopember 1948. Per