Anda Adalah Yang Anda Bayarkan

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.


Pembaca, mari pejamkan sejenak mata kita sembari membayangkan uang kertas Rp 1000 ~ Rp 5000 ~ Rp 20.000 dan seterusnya, yang dalam keseharian selalu kita damba dan pergunakan. Kemudian tanyakan pada diri sendiri: "Gambar apakah yang melekat pada sisi depan (obverse) dan belakang (reverse) uang-uang kertas itu?" Untuk menjawab teka-teki itu apakah anda mampu menjawabnya secara spontan atau harus membuka laci/dompet terlebih dahulu sebelum mampu menghangatkan memori?

Mungkin karena mudahnya kita kehilangan daya ingat terhadap hal yang "diremehkan" inilah, Marcell Duchamp (1887-1968) seorang pelukis kondang dari Perancis melakukan pemberontakan melalui seni Dada dengan memamerkan sebuah karya yang berjudul Fountain (Air Mancur) yakni sebuah urinoir tempat kita membuang air seni! Olala…! Hal serupa dilakukan perupa Amerika Roy Lichtenstein dengan pop art-nya. Ia berasyik-masyuk dengan lukisan bergaya komik yang keluar dari pakem seni lukis. Mereka berdua memaksa pemirsa untuk menikmati keindahan barang-barang yang dalam keseharian selalu menjadi pecundang memori.

12 004.jpg 12 006.jpg
Kiri: "Fountain" 1917 karya Marcel Duchamp, kanan: Karya Roy Lichtenstein

Berkaitan dengan hal tersebut di atas sungguh menarik pernyataan Bank Indonesia yang diwakili oleh konsultan seni-nya, Astari Rasjid, yang dimuat dalam Tempo 15 Juni 2003, hal 132: bahwa BI setidaknya memiliki dua tujuan dalam mengkoleksi ratusan benda seni bernilai tinggi. Yang pertama adalah untuk menghidupkan gedung BI yang berkesan kaku dan dingin. Kedua sebagai wujud penghargaan BI atas kekayaan budaya Indonesia. Lebih lanjut ia mengatakan: "Melihat karya seni yang baik bisa mengobati stress dan mengasah kepekaan kita".

12 007.jpg 12 009.jpg
Contoh lukisan koleksi Bank Indonesia - Jl. M.H. Thamrin - Jakarta

Pembaca, alasan yang dikemukakan BI melalui konsultan seni-nya mengingatkan kita pada alasan flag carrier perusahaan penerbangan Indonesia yakni Garuda yang waktu itu memaksa mengganti logo berbiaya milyaran rupiah dengan alasan bahwa para perusahaan jasa penerbangan utama lain di dunia – salah satunya adalah Singapore Airlines – telah memakai logo ciptaan Landor sebuah perusahaan advertising kesohor. Oleh karenanya menjadi klien perusahaan itu adalah sebuah kebanggaan dan dengan demikian menggunakan logo baru dapat menambah citra positif penggunanya, demikian kilah pejabat Garuda waktu itu.

12 011.png 12 013.png

Tapi kemudian di belakang hari masyarakat dapat mengadili argumen itu: bagaimana kinerja Garuda dibanding SIA setelah menggunakan logo dari perusahaan yang sama? Masyarakat tidak otomatis mengalihkan kebutuhan jasa penerbangan pada Garuda karena basic need mereka adalah mutu penerbangan, sesuatu yang Garuda tak mampu berikan. Belakangan Pertamina mengikuti jejak Garuda dengan mengganti logo dari perusahaan yang sama, namun juga tetap tidak mampu mengejar prestasi adik bungsunya yaitu Petronas dari Malaysia.

Nama Bank Indonesia - sebagai pewaris dari Javasche Bank – muncul pertama kalinya dalam uang kertas Indonesia pada tahun 1952. Dari disain yang ala kadarnya pada Oeang Republik Indonesia (ORI) masa revolusi, seterusnya BI memiliki uang kertas yang mampu bersaing dengan uang kertas milik negara lainnya baik ditinjau dari segi mutu kertas, cetakan, pengamanan (security feature) maupun estetika yang menjadi bahasan utama tulisan ini. Keindahan uang kertas BI adalah sesuatu yang melekat dalam setiap penerbitan uang kertas, sebuah hal yang membuat mata penggemar numismatik menjadi tidak gampang lelah.

Sampai tahun 1988 pada uang kertas tercantum nama dibubuhi kata "del." yang berarti delinavit alias disainer uang tersebut. Kebiasaan itu muncul tenggelam dan hilang sama sekali semenjak emisi 1992. Perlu mendapat acungan jempol adalah Yunalies disainer uang karyawan BI kelahiran Bukittinggi. Karya-karyanya menggambarkan ragam budaya Indonesia, dapat dipertanggung jawabkan estetikanya secara teknis dan kreativitas.

Sanering dan inflasi adalah hantu bagi pemegangnya. Sebagai akibat sampingan uang kertas Indonesia kehilangan nilai numismatik di mata penggemarnya. Namun kelemahan utama dari uang kertas Indonesia yakni gampang kehilangan daya beli akibat ketidak mampuan mengurus ekonomi adalah sesuatu di luar pokok pembahasan tulisan ini.

Roda zaman bergulir, disain uang kertas BI terus bertumpu pada kemampuan karyawan-karyawannya. Statis, jika tak dapat disebut kemunduran. Sebagai contoh tengoklah lembaran Rp 10.000 emisi 1998 yang bergambar Tjut Njak Dhien milik anda. Kaku, dingin, teknik anatomi wajah yang berkesan asal jadi baik pada obverse maupun reverse. Pecahan ini dapat anda bandingkan dengan Rp 10.000 emisi 1992 yang bergambar Hamengku Buwono IX, terlebih lagi dengan Rp 10.000-1975 bergambar Relief Borobudur karya Yunalis.

12 015.jpg
Perbandingan disain pecahan Rp 10.000 uang kertas Indonesia dari masa ke masa.

Demikian pula polymer face value terbesar milik bangsa ini, Rp 100.000-1999 bergambar komposisi dan proporsi torso Proklamator yang anti estetika, bahkan lebih mundur dibandingkan disain polymer Soeharto Rp 50.000 emisi 1993.

12 017.jpg 12 019.jpg

Sementara itu negara lain telah menapak lebih jauh dengan optimalisasi teknologi dan computerized, estetika uang kertas bukanlah prioritas sekunder. Estetika uang seakan menjadi jendela tingkat budaya negara pengedarnya. Pada majalah Tempo terbitan yang sama hal. 134-135, sekilas tampil uang Belanda 100 Gulden-1992, Swiss 10 Frank-1995 dan 20 Frank-1994. Pada World Paper Money Catalog dari Krause Publication ketiga uang disebut termasuk pada Selection of Currency Printer’s Art yang berarti pengakuan dunia numismatik terhadap disain uang kertas negara yang termaksud. Selanjutnya pada cetakan tahun 2000 uang Swiss 20 Frank-1994 yang menampilkan wajah pemusik A. Honegger, uang kertas itu disempurnakan dengan micro perforate security membuat uang indah ini semakin dan sulit dipalsukan. Lebih jauh masalah estetika dan security features menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Alhasil uang kertas ini menjadi sebuah karya seni yang membuat pemegangnya enggan melipat dan memasukkan ke dalam saku.

12 021.jpg 12 023.jpg
Gambar depan dan belakang 20 Swiss Frank

Sebuah alasan sempurna bagi ketertinggalan mutu uang kertas Indonesia adalah: "Pembanding di atas adalah terlampau berlebihan karena Belanda dan Swiss adalah negara maju". Jika hal itu sempat terlintas dalam pikiran atau terucap, silahkan pembaca mengamati kembali Selection of Currency Printer’s Art tersebut di atas dan anda akan menemukan keindahan pada uang kertas seluruh lapisan negara di dunia, sesuatu yang uang kertas Indonesia belum pernah alami.

Sebagai penggemar dan pengamat uang kertas Indonesia, menggantung sebuah rasa penasaran: bagaimana BI sebagai institusi tertinggi justru lebih sibuk mengurus segala tetek bengek karya seni, namun justru melupakan mutu estetika produk utamanya? Statis dan kemunduran - pada nilai estetika dan security features. Ketimpangan pada kedua hal ini sangat merugikan dunia numismatis dan publik yang memilikinya: sakit di mata dan rawan pemalsuan.

Pembaca, memang kita sebagai bangsa Indonesia tampaknya masih memiliki mental feodal yang kental. Kualitas seseorang diukur dari gelar atau status simbol yang disandangnya, lupa akan "mutu" yang seharusnya menjadi prioritas utama. Sudah saatnya BI meminta pendapat konsultan seni mengenai tingkat estetika produk utamanya, tidak sekadar bergelut dengan diversifikasi benda seni rupa lainnya.

Jakarta, 29 Desember 2008
UnO
(Pengamat numismatik)

Catatan penulis:
Pada tahun 2004 dan 2005 Bank Indonesia telah membuat langkah perbaikan dalam usaha meningkatkan estetika disain uang kertas,

semisal: Rp 10.000 Sultan Mahmud Badarudin, Rp 20.000 Oto Iskandar Di Nata dll.

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools