Hikayat Rupiah

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

Ada beberapa hal yang menunjukkan ke-Indonesia-an - kami tak tahu apakah secara tata-bahasa tepat - yaitu Merah-Putih yang bendera kita, Indonesia Raya karya cipta Wage Rudolf Soepratman yang menjadi lagu kebangsaan kita, Garuda (konon Elang Jawa) dengan perisai Pancasila (dasar negara kita) dan pita Bhineka Tunggal Ika (Beragam Tapi Satu) dalam genggamannya sebagai lambang negara kita, mungkin pula Bahasa Indonesia (bahasa persatuan kita) walau pun ibu saya dulu menyebutnya bahasa Melayu.

Namun yang paling dekat dengan dunia Numismatika tentu saja Rupiah, satuan hitung nilai uang kita. Namun entah mengapa, tidak seperti pernik kebangsaan lainnya, terkesan seperti tidak menarik para pakar untuk mencari asal usulnya. Yang mirip dengan bunyi Rupiah tentu saja Rupee (baca: Rupi) yang kini menjadi satuan uang India, dan tulisan Rufiyaa yang tertera pada uang Maladewa (negara kepulauan di barat laut Sumatera).

Tanpa disangka, kami mendapat sedikit riwayat tentang Rupiah dalam buku Hikayat Abdullah (Djambatan, Djakarta 1953), otobiogafi Abdullah bin Abdul Kadir. Munsji, sesuai yang diceritakan di sana adalah bahasa Hindustan yang artinya guru bahasa. Abdullah lahir tahun 1796 di Malaka (delapan bulan setelah Inggeris mengambil Malaka dari tangan Holanda). Riwayat hidup ini ditulis tahun 1840.

Abdullah adalah keturunan asing … adapun moyangku laki-laki itu seorang 'Arab, negerinya Yaman dan bangsanya 'Usmani dan namanya Sjeich 'Abdul Kadir … ia itu turun dari Yaman ke bawah angin, maka singgahlah ia di tanah Keling dalam negeri Nagur … maka diperistrikan oranglah akan dia … kemudian dari matinya itu, maka anak-anaknya itupun turunlah ke bawah angin ini … Adapun anaknya yang bernama Muhammad Ibrahim itu, datanglah ke Malaka, maka diperistrikan oranglah ia dengan nenekku perempuan, yang bernama Partjatji … maka beranakkanlah bapaku; maka ditaruhlah nama anaknya itu Sjeich 'Abdul Kadir, dari sebab mengambil berkat nama bapanya. Adapun asal ibuku itu neneknya orang Hindu dan negerinya Kedah. Maka datanglah mereka itu ke Malaka, masuk agama Islam; ia pun beranakanlah ibuku itu dalam Malaka, maka dinamainya Salmah (hal.5,7).

Sedikit riwayat tentu perlu untuk mengenal wawasan penulisnya. Kita pun bertambah wawasan, setidak-tidaknya tahu apa yang dimaksud dengan nenek-moyangku orang pelaut. Dunia Abdullah sering terasa asing bagi kami karena rentang waktu yang membuat jarak. Kalimat moyangku laki-laki seORANG Arab NEGERInya Yaman dan BANGSAnya Usmani, jelas tidak bisa dibaca dengan pola pikir kita sekarang. NEGERI bagi Abdullah selain Yaman adalah Nagur di TANAH Keling, Malaka, Singapura, Kedah, lalu Sedayu (kota kecil dekat Surabaya) dan Semarang di tanah Jawa, juga Ambon. Negeri-negeri Melayu pada masa Abdullah adalah Riau dan Lingga, Pahang, Trengganu dan Kelantan, dan (!) Palembang. Dan selain ORANG Arab, Abdullah juga mengenal orang Keling, Melayu, Cina. Di Malaka pada masa itu ada empat kapitan; masing-masing bangsa dengan kapitannya, yang sudah jadi adat sejak zaman Holanda: ada kapitan Keling, ada kapitan Melayu, ada kapitan Cina, ada kapitan Nasrani (hal.29). Dan kami pun terkenang Pattimura yang juga seorang Kapitan.

Selain bahasa Arab dan Melayu, Abdullah diserahkan ayahnya kepada seorang guru untuk belajar bahasa Keling dan suratnya, yaitu bahasa Hindu, karena adalah adat dalam negeri Malaka, dari zaman nenek-moyang semuanya, anak orang baik-baik dan orang-kaya semuanya belajar bahasa itu. Adapun gunanya itu supaya mengetahui ilmu kira-kira dan hitung-menghitung dan boleh (bisa) bertutur bahasa Keling, karena pada zaman itu penuh sesak saudagar-saudagar Keling dalam negeri Malaka (hal.29).

Pada masa itu, tulis Abdullah, di Malaka segala rakyat (maksudnya pegawai) Inggeris adalah Supai (prajurit berkuda), semua mereka itu orang Benggala (kini Bangladesh) dan orang Hindustan. Munsji yang lekat dengan nama Abdullah adalah bahasa Hindustan, bahasa lain yang dipelajarinya, ketika itulah digelar oleh mereka itu akan daku Munsji, artinya guru atau pengajar dalam (sekarang mungkin pakar) bahasa-bahasa (hal.35).

Satuan nilai uang yang umum disebutkan Abdullah adalah Ringgit. Ada pula seuang atau lima enam duit (hal.14). Emas dan perak palsu juga bukan hal baru (diberinya batu-uji di tanganku, supaya tiada boleh aku terkena emas lancungan atau perak lancungan; hal.21). Kata Rupiah pertama kali muncul di hal.53: … Maka upahnya pun makin naik. Yang dibayar sehari setengah rupia, menjadi satu rupia. Abdullah menulisnya Rupia bukan Rupiah.

Rupiah yang diceritakan Abdullah terkait dengan kedatangan Raffles dan kapal-kapal Inggeris yang datang berhimpun ke Malaka hendak pergi perang ke tanah Djawa. … kapal-kapal itu bermuat lasjkar dan Supai orang Benggali. Dan kemudian datanglah sebuah kapal terlalu besar, membawa orang Supai, trup (troop) namanya … mereka semua itu orang Islam … tahu ia mengaji dan tahu bahasa Arab, istimewa (terutama) bahasa Hindustan … kebanyakan di antara mereka itu peranakan Arab … bangsa Sajjid. Abdullah pun bertanya, "Dari mana engkau orang sekalian dibawa oleh Inggeris?" Maka jawabnya, "Negeri kami sekalian Dilli … kami sekalian ini orang Nabab … Inggeris pergi ke sana minta orang … sebab itulah diberi oleh Nabab tiga ratus orang. "Berapa gaji tuan-tuan pada sebulan?" Tiga ratus RUPIA SIKKAH dibayar oleh Nabab … demikianlah juga dibayar oleh Inggeris. Dan lagi adalah perjanjiannya kepada kami sekalian, jikalau dapat tanah Djawa itu, nanti ia beri hadiah lain dari pada gaji yang tersebut itu (hal.93). Dari penuturan Abdullah tentang Jenderal Madras dan Bombay, keduanya adalah pangkalan Kompeni Inggeris. Atasan Raffles, Lord Minto adalah Jenderal Calcutta.

Maka pada masa itu di Malaka segala jenis makanan pun mahallah. Telur ayam tiga buah dua uang dan ayam seekor satu rupia sikkah … di Malaka pada masa itu tiadalah kelihatan ringgit atau uang-uang yang lain melainkan rupia sikkah sahaja, semuanya baru-baru belaka (hal.95).

Dilli agaknya Delhi. Rupiah mungkin dari penulisan lewat aksara Jawa: Rupiyah, karena penulisan Rupiya akan dibaca Rupiyo. Yang tak jelas adalah mengapa disebut Rupia Sikkah.

Berita Abdullah agaknya hanya berlaku di Malaka. Scholten mendata tiga macam Ropij yang pernah dicetak Kompeni Hindia-Timur Belanda (VOC): Paliakatsche Sicca Ropij (sebelum 1739), lalu Javasche Ropij (sejak 1747) dan Colombo Ropij (sejak 1784). Sicca tentunya Sikkah. Paliakate adalah nama stad (kota?) di pantai Coromandel yang dikenal Abdullah dengan nama Pelikat.

Scholten mendata uang emas bertanda-tahun 1744, 1745, 1746 yang disebutnya Javasche Dukaat (Dukat Jawa), namun yang tertera pada uangnya adalah aksara Arab yang diterjemahan Scholten: Ila djazirat Djawa al-kabir 1744 (depan) dan Derham min Kompani Welandawi (balik), dan konon disebut Derham Jawi. Ada pula uang yang bernilai Dubele Dukaat (2-Dukat) bertanda-tahun 1746, 1747, 1748. Pada terbitan 1748 kata Derham diganti Dinar. Mengacu Scholten beratnya 7,5-Stuiver (1-Dukat) dan 15-Stuiver (2-Dukat) dengan kadar 20-karat.

Yang patut dicatat, konon VOC tidak berhak membuat uang sendiri. Semua uang, emas - perak - bahkan duit tembaga, dibuat di Belanda. Derham Jawa ini dibuat di Batavia oleh Theodorus Justinus Rheen (1744-45), kemudian oleh Paulus Dorsman (1745-51) dengan alasan dipesan oleh Keyser van Java, de soesoehoenan van Mataram. Tahun selanjutnya yang didata Scholten adalah Dukaat Belanda, buatan Holland (HOL 1750 - 1753 - 1758), West-Friesland (WESTF 1754 - 1755 - 1758 - 1759), Zeeland (ZEL 1758 - 1759), dan Utrecht (TRA 1758 - 1759). Uang emas ini ditera kata "Jawa" dalam aksara Arab.

Uang perak yang disebut Scholten Javasche Ropij dibuat oleh Paulus Dorsman di Batavia dengan tanda-tahun 1747 - 1748 - 1749 - 1750. Beratnya 20,5-Stuiver dengan kadar 11-penning 10-grein (95,1%). Mengacu Scholten, berat dan kadarnya setara dengan Suratsche Ropij. Patut dicatat, yang tertera pada uangnya adalah Derham dalam aksara Arab (seperti Dukat terbitan sebelum 1748).

Tahun 1764 - 1765 - 1766 - 1767 lalu 1782 - 1783 - 1784 - 1785 - 1786 - 1787 - 1788 - 1789 kemudian 1795 - 1796 - 1797 - 1798 - 1799, Scholten mendata Javasche Ropij yang beratnya 23-Stuiver dengan kadar 10-penning (83,3%), namun mulai terbitan 1795 diturunkan 9,5-penning (79,2%).

Scholten juga mendata Gouden Javasche Ropij (Rupiah emas Jawa) tahun 1783 - 1784 dan 1796 - 1797 serta Halve Gouden Ropij (Setengan Rupiah emas) tahun 1783 - 1784 - 1785 dan 1798 - 1799. Mengacu Scholten, beratnya 28-Stuiver dan 14-Stuiver, dan kadarnya yang semula 20-karat diturunkan menjadi 19-karat, agaknya mulai terbitan 1796.

Pada masa Republik Betawi (Bataafsche Republiek) juga dibuat 0,5-Rupiah emas dan 1-Rupiah perak tahun 1800 - 1801 - 1802 - 1803. Mengacu Scholten, kadar Rupiah emas tinggal 18-karat.

Tahun 1804 dipakai cetakan baru dengan teraan dalam aksara Arab yang diterjemahkan Scholten: … Djazirat Djawa al-kabir 1804 (depan) dan Derham fi al-kompeni al-wilandawi (balik). Nama yang tertera tetap Derham. Scholten mendata pecahan 1-Rupiah perak tahun 1804 - 1805 - 1806 - 1808 dan 0,5-Rupiah perak tahun 1805 - 1806 - 1807.

Raffles juga membuat 0,5-Rupiah emas tahun 1813 - 1814 - 1815 - 1816, 1-Rupiah perak tahun 1813 - 1814 - 1815 - 1816 - 1817 dan 0,5-Rupiah perak tahun 1813 - 1814. Pada pecahan 0,5-Rupiah emas tertera tiga macam tahun: tahun Masehi (yang dipakai Belanda), tahun Jawa-nya Sultan Agung, dan tahun Hijriah (Islam). Pada Rupiah perak tahun Masehi bahkan tidak tercantum. Ini satu-satunya jejak tahun Jawa pada dunia Numismatika kita. Tahun Hijriah juga tertera pada Uang Kertas 1815 (KUKI-1996 H.52-H.57).

Mengacu Scholten, mulai terbitan 1815 kadar 0,5-Rupiah emas dikembalikan 20-karat, kadar Rupiah perak dikembalikan 10-penning.

Pada uangnya tertera (dalam aksara Jawa yang diterjemahkan Scholten): Kempni hingglis Jasa Hing soera-pringga (depan) dan (dalam aksara Arab yang diterjemahkan Scholten) Hinglisj sikkah kompani sanah … dhoeriba dar djazirat djawa. Tak ada kata Derham, tapi Sikkah. Sikkah mungkin berarti Uang. Duwit dalam bahasa Jawa, yang kini berarti Uang, adalah Duit, satuan uang tembaga VOC (Belanda). Uang tembaga adalah uang receh. Uang yang dulu bahasa Melayu pada masa Abdullah konon berharga 10-Duit. Dari hitungan 3-Uang = 30-Duit = 1-Tali = 25-Sen inilah pepatah SETALI TIGA UANG berasal. Artinya jelas sama saja. Di Malaysia, pepatah yang dilagukan adalah SERINGGIT SI DUA KUPANG.

Kalau semula agaknya sebutan bagi uang perak adalah Derham dan bagi uang emas adalah Dinar, Scholten mencatat Rupiah emas juga disebut Mohur. Kita mungkin bisa mengaitkannya dengan uang Mahar yang biasa diberikan pengantin laki-laki. Kita juga mengenal Real (Riyal) bagi uang perak dan Escudo bagi uang emas yang diedarkan Spanyol. VOC sejak 1726 mengedarkan Dukaton yang berarti Dukat perak. Dukat adalah uang emas. Ranggawarsita menyebutnya Rupiyah Keton. Gulden yang kita kenal sebagai satuan uang Belanda baru diedarkan di Hindia sejak 1786.

Yang mengherankan, dari data berikut tampak Rupiah atau Derham lebih sering dibuat daripada Dukaton atau Gulden.

  • Dukaton 1728-1733 (6); 1737-1742 (6); 1748-1751 (4)
  • Rupiah 1747-1750 (4); 1764-1767 (4); 1783-1789 (7); 1795-1799 (5); 1800-1806 (7); 1808 (1); 1813-1817 (5)
  • Gulden 1786-1787 (2); 1789-1791 (3); 1802 (1)

Mengapa Kompeni Hindia-Timur Inggris dan Belanda menggalakkan Rupiah di akhir abad 18 adalah tugas para pakar Sejarah. Yang perlu dicatat, pada masa yang kurang-lebih sama, Hindia yang di Barat (Amerika) tengah bergejolak. Mengacu The New Encyclopaedia Britannica, Perang Kemerdekaan Amerika dimulai tahun 1775 disusul Proklamasi Kemerdekaan pada 4 Juli 1776. Tahun 1778 Perancis bergabung dan menyatakan perang kepada Inggris, diikuti Spanyol (1779) dan Belanda (1780). Perang diakhiri dengan Treaty of Paris (3 September 1783), Inggris mengakui kedaulatan 13 negara (bagian) Amerika. Spanyol mendapat Florida. Mungkinkah VOC dan EEIC juga berminat melepaskan diri dari induknya?

Kini kita tahu mengapa, paling tidak di Yogyakarta ada Gelo (Gulden) dan ada pula Rupiah. Kedua satuan itu memang semula tak sama. Pertanyaan lain adalah, Mengapa Rupiah? Tak mudah dijawab. Kalau pun mengikuti pasar, tak ada bukti bahwa Mataram sebelumnya sudah mengenal Rupiah. Yang lazim disebut adalah Riyal. Patut pula dicatat bahwa satuan Gulden sudah dipakai di Belanda sejak 1680, yang mengacu data Scholten baru diedarkan untuk Hindia tahun 1786, sekitar seabad kemudian dan 40 tahun setelah Rupiah.

Tentang nama Rupiah, Katalog World Coins dan The Coin Atlas berkisah: Seperti para pendahulunya, Zahir-ud-din Muhammad Babur dari Kabul, yang mengaku orang Mongol keturunan Timur, tahun 1525 merebut Delhi dan Agra dari Sultan Ibrahim, dinasti Lodi, dan memulai dinasti Mughal (Mogul, Mongol). Anaknya, Nasir-ud-din Muhammad Humayun sempat terusir (1546-1555) namun akhirnya berhasil merebut Delhi kembali, dan anaknya, Jalal-ud-din Muhammad Akbar berhasil menguasai (kini) Pakistan, India (utara) hingga Bangladesh. Konon, pada masa Akbar inilah tata nilai uang perak Rupi dan uang emas Mohur berasal.

Penguasa ke-4, Nur-ud-din Muhammad Jahangir mungkin kurang dikenal, tetapi anaknya, Shihab-ud-din Muhammad Shah Jahan cukup tenar dengan Taj Mahal-nya. Mengacu Katalog World Coins, Agra disebut Akbar-abad dan Delhi disebut Shah-Jahan-abad. Pada masa Muhi-ud-din Muhammad Aurangzeb yang wafat tahun 1707, hampir seluruh India telah ditahlukkan.

Mengacu Katalog World Coins, Rupi dan Mohur ditera dengan berat yang sama, 11,6-gram. 1-Mohur dinilai 8-Rupi dan 1-Rupi dinilai 40-Dam tembaga. Melirik Rusia, kata Roubel terdengar mirip. Mengacu The Coin Atlas, In the late 14th century the word Ruble began to replace Grivna to describe a set of weight of silver, an ingot of about 200 grams. Mengacu The New Encyclopaedia Britannica, tahun 1240 Batu, cucu Genghis Khan, menghancurkan Kiev dan tahun 1382 Timur membakar Moskwa. Jadi?

Adi Pratomo, 25 Mei 2002 Jurnal Rupiah No.77 (Juli 2002)

Tanggapan Atas Tanggapan

Judul yang kami pilih - Hikayat - dengan tepat menyatakan bahwa kami masih memerlukan lebih banyak bukti pendukung. Sampai saat ini, tulisan yang sempat kami baca menyatakan demikian.

Tidak seperti prasasti, babad, hikayat, yang sering tak punya kembaran dari masa yang sejaman, bukti mata uang sulit direkayasa demi sesuatu kepentingan karena jumlahnya yang cukup berlimpah dan tahunnya yang cukup bersambung. Tentang Rupi atau Rupiah, kita perlu menengok bahwa Bangladesh setelah merdeka (1973) mengganti Rupi Pakistan dengan Taka, konon kembali ke Tanka yang dulu bergambar sapi, Nandi yang Hindu. Jelas bukan masalah agama.

Di Sri Langka ada Tanga, di Myanmar ada Tangka, di India ada Takka, dan di Goa (Portugis) ada Tanga, bahkan di Rusia ada Denga dan Tenga (Turkestan), yang bisa ditelusuri balik hingga abad 8 dan bisa menyadarkan penanya bahwa Jurnal kita berbicara sejarah bukan dari pola pikir kebangsaan; sama seperti anda kini tidak keberatan memakai meter dan gram.

Tahun Saka yang banyak dipakai di sini (terakhir oleh Sultan Agung Mataram) juga bukan asal India, tetapi wilayah yang sekarang Afghanistan. Mengacu Katalog World Coins, nama Afghanistan baru dipakai pada abad 18, dan semula lebih dikenal dengan nama Khorasan dan Aryana. Yang terakhir mengingatkan kami pada Arya Penangsang, lalu siapa Drawida-nya?

Mengacu Britannica, Tahun Saka diduga berasal dari masa Kanishka, raja Kushana, yang berkuasa dari Bukhara hingga Patna di tepi (sungai) Gangga. Mengacu The Coin Atlas, uang logam mereka memakai aksara Yunani, yang mengingatkan kami pada Panca yang Penta, Sapta yang Hepta, Dasa yang Deka.

Tentang Mongol, sumber yang kami kutip menyebutnya "pengakuan". Menilik babad, memang adakalanya pengakuan bisa disangsikan kebenarannya. Yang perlu dipahami sebenarnya adalah sebutan Mongol (Turki bagi Barat) yang menunjuk pada rumpun Asia Tengah. Jejaknya konon bisa disidik lewat raja yang bergelar Khan, tanah atau negara yang Istan (Hindustan, Kurdistan, Kazakhstan), dan kota yang Abad (Islamabad, Jalalabad, Hyder-(Haidar)-abad). Penjajahan Mongol (Kublai Khan) mengakhiri dinasti Song di Tiongkok dan memulai dinasti Yuan (Mongol). Di Nusantara, Majapahit berjaya.

Mengapa kita sering tercengang adalah soal lain. Barangkali ini bukti bahwa yang kita pelajari di bangku sekolah bukan history tapi his-story. Sejarah yang berkaitan dengan dunia Numismatika kita jelas soal lain. Yang dikehendaki adalah fakta, setidaknya opini yang didukung fakta.

Adi Pratomo, 17 Juli 2002

Jurnal Rupiah No.78 (Agustus 2002)

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools