KAMPUA Uang Kain dari Kerajaan Buton

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

Satu lagi mata-uang "aneh" dalam khasanah numismatik Indonesia,yaitu uang yang terbuat dari kain tenun, yang disebut KAMPUA. Kampua adaah mata-uang yang dulu pernah berlaku di kerajaan Buton di Sulawesi dan daerah sekitarnya. Uang ini bersifat seperti uang "Token",yaitu uang yang diciptakan oleh suatu daerah setempat dan mempunyai area peredaran yang sangat terbatas pula. Oleh karena itu Kampua hanya berlaku sebagai alat tukar khusus untuk wilayah kesultanan Buton, bukan untuk daerah-daerah lainya.

Menurut legenda, Kampua diciptakan pertama kali oleh Ratu Buton yang kedua "Bulawambona" yang memerintah sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal, lalu diadakan suatu "pasar" sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan buton. Pada pasar tersebut, orang-orang berjualan mengambil tempat dengan mengiilingi makan Ratu Bulawambona. Seteah selesai berjualan, para pedagang memberikan upeti yang ditaruh diatas makam tersebut yang nantinya akan dimasukan ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton bahkan tradisi tersebut berlasngsung sampai dengan tahun 1940 !

Pada jaman bertahtanya Sultan Buton yang keempat, yaitu Sultan Dayan Ihsanuddin ( La'Elangi ), sekitar tahun 1597 - 1631, erdagangan di Kerajaan Buton mengalami masa kejayaan. Para pedagang dari daerah-daerah lain, termasuk pedagang-pedagang dari China dan Portugis datang dengan kapal-kapalnya ke kerajaan Buton. Mengingat bahwa semua transaksi di wilayah kerajaan Buton harus menggunakan uang Kampua, maka sebelumnya para pedagang harus menukarkan uang mereka dengan uang Kampua. Penukaran dilakukan di "Money Changer" yang banyak terdapat di pelabuhan, ataupun di lokasi-lokasi perdagangan. Setelah selesai berdagang, mereka boleh menukarkan sisa uang Kampua yang dimilikinya dengan mata uang yang diinginkan. Namun tentunya ada juga pedagang-pedagang yang tidak menukarkan tetapi menyimpan Kampua tersebut sebagai kenang-kenangan "uang aneh" dari Buton.

Dalam Proses pembuatan dan peredaran Kampua, mandat sepenuhnya diserahkan kepada Mentri Besar atau disebut "Bonto Ogena". Dialah yang akan melakukan pengawasan serta pencatatan atas setiap lembar kain Kampua, baik yang telah selesai ditenun maupun yang sudah dipotong-potong. Perhitungan mengenai situasi dan kondisi wilayah serta jumlah perkembangan penduduk yang ada, perlu diperhitungkan agar jumlah peredaran Kampua tetap dapat dikontrol dan tidak menimbulkan inflasi. Pengawasan oleh "Bonto Ogena" juga diperlukan agar tidak timbul pemalsuan-pemalsuan sehingga hanpir setiap tahunya motif dan corak Kampua akan selalu dirubah-rubah

Setelah kain-kain selesai ditenun, kemudian dipotong-potong untuk menjadi uang Kampua. Pemotongan lembaran kain menjadi Kampua itu juga ada prosedurnya yang juga ditentukan oleh Mentri Besar. Cara memotongnya adalah dengan mengukur panjang dan lebar Kampua, dengan cara : ukuran emapt jari tangan-untuk panjangnya. Sedangkan tangan yang dipakai sebagai alat tukar adalah sang Mentri Besar atau "Bonto Ogena" itu sendiri! Oleh karenaya ukuran lebar dan panang Kampua yang diproduksi tidak selalu sama, tergantung dari panjang pendeknya ukuran tangan Mentri Besar yang saat itu berkuasa. Jika nantinya yang menadi Mentri Besar mempunyai tangan yang pendek, maka ukuran Kampua akan menjadi pendek pula. Sebaliknya jika "Bonto Ogena" mempunyai tangan yang lebih panjang, maka hasil jadi Kampua akan lebih panjang, sesuai dengan ukuran tanganya !

Pada wal pembuatanya, standard yang dipakai sebagai nilai tukar untuk satu "Bida" (lembar) Kampua adalah sama dengan nilai satu butir telur ayam. Namun dalam perkembangany selanutnya, standard ini diganti dengan nilai "Boka", dimana satu Bida sama dengan 30 Boka. Boka adalah suatu standard nilai yang umum digunakan oleh masyarakat Buton, yang biasanya digunakan pada waktu upacaraa2-upacara adat perkawinan, kematian, dan seenisnya. Namun setelah Belanda mulai memasuki wilayah Buton kira-kira tahun 1851, fungsi Kampua sebagai alat tukar lambat laun mulai digantikan dengan uanguang buatan "Kompeni". Sampai akhirnya nilai Kampua menjadi sangat tidak berarti, dimana pada waktu itu nilai tukar untuk 40 lembar Kampua sama dengan 10 sen Duit tembaga Netherlands Indies, atau setiap 4 lembar Kampua hanya mempunyai nilai sebesar 1 sen saja! Walaupun demikian, Kampua tetap digunakan pada desa-desa di Kepulauan Buton sampai 1940 !

Puji Harsono Pengamat numismatic

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools