Kisah Koin Batavia Crown th 1646

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.
BataviaCrown.jpg

Pada awal tahun 1960-an saya sebagai penulis diberi hak istimewa untuk bekerja pada pameran numismatika yang diadakan oleh Museum Nasional di Jakarta, Indonesia. Djakarta (sekarang Jakarta) dulu disebut Batavia, dan Indonesia dikenal sebagai Hindia Belanda pada masa kolonial Belanda, 1594-1962. Indonesia yang dulu sebagai Nusantara sangat dikenal sebagai kepulauan rempah-rempah karena semua rempah-rempah yang bermutu tinggi dan beraneka-ragam ditemukan di nusantara, dan pada periode tersebut Columbus sedang mencari rute yang lebih pendek untuk menuju ke kepulauan rempah–rempah, ketika akhirnya Colombus "menemukan" benua Amerika.

Saya adalah seorang sersan Angkatan Udara di Kantor Atase Udara di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, dan selama bertugas di sana saya bertemu seseorang melalui Duta Besar Amerika, Mr Howard P. Jones, Mr Bang Bang "Pak Bambang" (nama yang umum di Indonesia) di suatu malam pada pesta koktail. Pak Bambang adalah kolonel Angkatan Udara Indonesia dan merangkap sebagai direktur Museum Nasional. Dia telah mendengar bahwa saya seorang kolektor koin, Kolonel Bambang bertanya apakah saya bisa membantu stafnya mengelola koleksi numismatik yang dimiliki Museum Nasional, lantaran tidak ada kurator untuk mengelola ruang pamer benda-benda numismatik yang dimiliki Museum.

Saya sangat terkejut setelah mengetahui museum memiliki koleksi numismatik yang bagus dan dengan senang hati saya membantu mereka. Kolonel Bambang mengatakan kepada saya bahwa pihak museum tidak bisa membayar saya dan apa yang saya lakukan pada museum harus atas dasar sukarela tanpa imbalan apapun. Tentu saja saya sama sekali tidak keberatan dan saya katakan bahwa saya dengan senang hati untuk melakukanya. Saya diberi kedudukan sebagai asisten kurator. Letak museum berada di seberang jalan dan tidak jauh dari kantor Kedutaan dan saya bisa melihat gedung museum dari kantor saya.

Kolonel Bambang meminta saya untuk datang ke museum pada hari Senin karena pada hari Senin museum tutup, dan kami bisa bekerja untuk persiapan pameran tanpa gangguan. Untungnya, saya bisa mengatur jadwal kerja saya untuk bekerja Sabtu jadi saya bisa libur pada hari Senin. Saya memerlukan ijin persetujuan komandan saya untuk bekerja membantu di museum dan dia dengan senang hati serta ringannya memberi ijin kepada saya.

Ketika saya pertama kali diperlihatkan ruang pamer, saya sangat kagum pada besarnya koleksi. Ruang pamer ini tertutup untuk umum sejak jaman pendudukan Jepang di Indonesia karena museum tidak memiliki tenaga kurator. Saya diberi tahu bahwa museum dibangun pada tahun 1850 dan Mr. J.P Moquette adalah kurator terakhir dari museum ini, terdapat foto-foto Moquette terpasang di tembok museum. Bangunan gedung museum merupakan bangunan tua mirip dengan gaya arsitektur rumah dari Presiden Thomas Jefferson, atau Monticello, seperti gambar di koin Amerika nickel 5 cent sebelah belakang.

Walaupun saya telah mengumpulkan, baik koin Amerika maupun koin-koin beberapa negara, namun sangat minim sekali pengetahuan saya tentang koin-koin Belanda, lebih-lebih koin VOC. VOC singkatan dari Veerenigde Oost-Indische Compagnie, kalau dalam bahasa Inggrisnya "the United East India Company", merupakan serikat dagang untuk daerah Hindia Belanda dan didirikan pada tahun 1602. Pemerintah Belanda juga mendirikan perusahaan dagang untuk daerah Hindia Barat dengan kantor pusatnya di New York setelah membeli pulau Manhattan dari seorang Indian pada tahun 1624, seharga US$ 24 dalam bentuk perhiasan dan beberapa peralatan. Perusahaan Belanda tersebut mempunyai pabrik-pabrik di daerah koloninya yaitu di Kepulauan Karibia dan Guyana-Belanda, sekarang Suriname di Amerika Selatan.

Saya memiliki akses sepenuhnya ke perpustakaan museum dan gudang kecuali koin-koin yang ditampilkan di ruang pamer. Dia menginginkan saya untuk menyusun koin-koin sesuai dengan urutan semestinya dan mencatat sesuai dengan katalog koin yang asli sesuai catatan Moquette. Katalog koinnya disebut "the Batavian Museum Catalogue", yang diterbitkan pada tahun 1895 dan katalog tersebut telah usang, banyak bercak, kotor dan bahkan berkutu.

Sekitar 30 pembungkus koin terlihat sudah usang dan berkarat menjadikanya susah untuk dibuka. Hampir semua koleksi diletakkan bertumpukan yang tidak karuan dan harus disusun kembali secara teratur dan diberi nomor agar sesuai dengan nomor dalam katalog museum. Museum masih memiliki foto-foto koin beserta pelindung dan saya menggunakannya sebagai panduan untuk mengatur koin agar sesuai dengan katalog. Saya juga harus memeriksa beberapa kotak berisi koin, yang berada di gudang untuk disusun dan memberi tanda agar tesusun rapi.

Koin-koin Jepang sangat menarik bagi saya karena saya pernah tinggal di Tokyo dan mengoleksi beberapa koin Jepang. Tampak kota-kotak koin Jepang terlihat kosong, mungkin disita (diambil/dijarah) oleh tentara Jepang sewaktu pendudukan Jepang, Februari 1942 sampai Agustus 1945. Menurut BMC, seharusnya ada Obans Jepang yang langka, kobans, chogins dan koin-koin Jepang modern, dalam buku Scholten tentang koin "the Dutch Overseas Territories", "Keicho" (1596-1614) Koban dengan gambar singa, telah tercatat di BMC tapi hilang dari kotak. Padahal koin tersebut merupakan koin sangat langka. Lihat buku Scholten untuk informasi lebih detail tentang kelangkaan koin Koban.

Saya menulis surat kepada teman baik saya Randolph Zander dan memintanya untuk mengirimkan saya buku koin dan bahan referensi yang saya butuhkan untuk mempermudah pekerjaan saya. Perpustakaan museum hampir sama sekali tidak memiliki bahan referensi numismatik. Setelah saya menerima bahan-bahan sebagai referensi dari Mr. Zander, hal tersebut sangat membantu saya dalam membenahi barang-barang koleksi, tentunya bahann-bahan yang saya dapatkan dari Mr. Zander membangkitkan saya dalam membenahi koleksi yang ada. Akhirnya buku tersebut saya sumbangkan ke Museum.

Mr Zander adalah seorang analis intelijen dan telah bekerja bersama saya sebagai staff angkatan udara (ACS/I) di Pentagon waktu saya masih aktif bekerja. Kegiatan sampingannya juga sebagai pedagang numismatik, kolektor dan peneliti numismatik. Saya turut berduka baru-baru ini mendengar bahwa dia telah meninggal dunia di usia 99 tahun.

Saya segera jatuh cinta dengan mata uang VOC dan mulai melakukan penelitian dan mengumpulkannya dengan sungguh-sungguh. Karena koin VOC masih gampang didapat di Indonesia pada awal tahun 1960-an, saya berusaha untuk mendapatkan dari toko barang antik, tempat penukaran uang, toko perhiasan dan bahkan di pasar loak. Saya segera tertegun mendapatkan koleksian koin-koin VOC termasuk beberapa koin VOC java dan juga Perak Java Rupee seperti di buku Scholten #527 dan #534, beberapa koin saya dapatkan dari anak-anak yang sering menyelam di dermaga Tanjung Priok. Saya biasanya memberi mereka uang US$5 agar mereka mau menyelam seharian mencari koin di dasar laut. Saya sering berkeliling Indonesia sehubungan dengan kegiatan USAF (US Air Force atau Angkatan Udara Amerika), kadang sampai ke Palembang and Bengkulu di Sumatra Selatan, dimana saya menemukan koin 1783 Fort Marlbro 1 dan 2 Suku dan koin-koin lainya yang saya beli seharga perak.

Ada seorang bapak yang berjualan dengan pikulan sering datang ke rumah hampir setiap sore, bahkan hampir setiap malam berkeliling di kompleks perumahan kedutaan menjual barang dagangannya. Tukang jualan tersebut selalu memakai peci (seperti yang dipakai Presiden Sukarno), pakai sarung, dan sandal, berdagang keliling dengan dua keranjang dipikulnya. Dia menjual lampu kuningan, patung-patung, "barang-barang antik," dll, untuk orang asing dalam kompleks perumahan.

Suatu hari bapak itu meminta saya apa yang saya inginkan karena saya tidak pernah membeli sesuatu dari dia. Saya bilang bahwa saya mengoleksi koin dan apakah bisa bapak membawakan saya koin? Dia bilang "boleh tuwan", saya akan membawa beberapa besok. Dia datang keesokan harinya dengan segenggam doits tembaga yang biasa. Saya bilang pada dia bahwa koin itu koin biasa dan saya sudah punya banyak. Selanjutnya saya bilang "Apakah bisa bawakan koin dari perak atau emas?", dia bilang "Itu mahal".

Minggu berikutnya dia datang dan berkata dia telah ke Surabaya dan menemukan beberapa koin. Dia menunjukkan satu kotak penuh dengan koin perak, yang berisi banyak coin "Spanish Pillar" 4 Reales, perak ringgit 2½ gulden, France and British Trade Dollar, dan juga koin Real Batu. Beberapa koin perak yang ada chopmarked nya dengan tulisan china dan sebagian chop dari sultan.

Saat saya melihat koin-koin di keranjang tersebut, terlihat satu koin Mexico Pillar 4 Reales tahun 1733 dengan "MX", kondisi AU / UNC. Lalu saya ingin cek coin tersebut di buku Mr.Zander yang baru dikirim ke saya. Saya suruh tukang itu menunggu di teras sementara saya meneliti koin tersebut. Saya dapatkan tahun 1733 MX 4 Reales, tetapi tidak ada angka nominal di koinya. Pada buku tersebut tertulis bahwa akhir-akhir ini koin sejenis terjual dengan harga US$650. Saya benar-benar terkejut dan seakan tidak percaya mendapatkan keberuntungan sementara waktu itu tahun 1964, dan saya menyadari bahwa koin tersebut adalah koin langka.

Saya bertanya pada bapak penjual tersebut "berapa harganya"? dan dia bilang, "ini mahal" dimana dia menginginkan seharga 20 karton rokok dan saya bilang "gila" akhirnya saya tawar dengan tukar 5 karton. Waktu itu penduduk lokal menginginkan barang-barang dari Amerika, terutama rokok, sebab nilai rupiah hampir tidak ada harganya dan nilainya menurun hampir setiap hari, sehingga mereka lebih suka barter.

Kami tawar-menawar sebentar dan akhirnya ia berkata, "10 karton." Saya berkata berkata 5! Dia mengatakan 10 dan kurang. Saya merokok cerutu pada waktu itu dan rokok biasa saya simpan untuk barter. Kebetulan saya memiliki 10 karton di persediaan. Rokok jatah dari kantor 2 karton seminggu berharga sekitar $ 2,50. Akhirnya semua koin saya bayar dengan sekitar harga $ 25, dan saya masih memiliki sebagian dari koin tersebut di koleksi saya.

Sebelum saya meninggalkan Indonesia , Kolonel / Mr.Bambang memberi saya 3 keping koin Batavia Crown yang langka, yaitu tahun 1645 (koin 48 Stuiver), yang lainya 12 Stuiver dan 24 Stuiver. Saya juga diberi beberapa koin perak Dukaton dan saya tahu museum memiliki banyak sekali koin jenis ini. Dua lainnya VOC 48 stuiver (mahkota) saya beli dari seorang kolektor di Jakarta. Ternyata ada satu keping yang keasliannya diragukan dan masih ada di koleksi saya.

Sir John Bucknill ,dengan bukunya yang terkenal: "By Order of the Administration some 1645 VOC Crowns were stamped with a distick form of counter-stamp for special purpose".

Akhir-akhir ini saya menemukan di koleksi saya koin Batavia Crown tahun 1646 dengan "counter stamp" pada sisi coin tersebut. Menurut buku-buku yang ada tentang koin VOC, koin tersebut dibuat sebagai koin darurat dan hanya berlaku dalam periode satu tahun saja. Ada rasa penasaran sehubungan dengan koin tersebut dengan disebutkan di katalog Museum Batavia bahwa kemungkinan besar koin tersebut palsu karena tidak pernah ditemukan lagi yang aslinya.

Selain itu, para peneliti terkemuka numismatik Belanda Van der Chijs dan Netscher dalam karya-karya monumental mereka, yang diterbitkan pada 1863 dan direvisi pada tahun 1878, mengatakan, "Dicetak juga koin 24 stuivers dan 12 stuivers tahun 1646 dan disainnya sedikit berbeda dengan koin sejenis tahun 1645."

Disain pada koin Crown tahun l646 sedikit berbeda dengan koin-koin Crown yang dicetak tahun l645. Baru-baru ini saya mendapatkan informasi menarik ketika saya datang ke Asosiasi Numismatik Amerika di New York untuk penelitian koin-koin VOC. ANS–"American Numismatic Society" - salah satu organisasi yang ekslusif, memiliki buku langka yaitu buku "Van der Chijs and Netscher".

Mr Scholten dalam bukunya "Coins of the Dutch Overseas Territories", dalam buku tersebut tidak menyebutkan koin VOC Crown tahun 1646, seperti yang saya punya. Pada buku tersebut tidak dinyatakan secara spesifik tentang koin tersebut dan hanya menyatakan bahwa koin tersebut diterbitkan sebagai koin darurat dan beratnya kurang dari seharusnya serta mutu perak yang rendah dan tidak lama setelah diterbitkan, koin-koin tersebut ditarik kembali dan dilebur dikarenakan bermunculan koin-koin palsu. Hal ini persis apa yang dikatakan dalam bukunya Sir John Bucknill dan juga beberapa penulis lain, bahwa tidak diketahui jumlah koin yang dicetak dari jenis koin tersebut. Itulah yang sejauh ini saya tahu.

Namun, sewaktu saya di museum, saya melihat dokumen dalam bahasa Belanda yang sudah usang tentang percetakan koin yang menyebutkan bahwa sebanyak 22.000 keping koin VOC Crown dicetak. Tidak terdapat informasi yang dapat ditemukan tentang berapa banyak koin tersebut yang ditarik dan dilebur. Pak Bambang menerjemahkan bahasa Belanda pada buku tersebut kepada saya. Orang-orang yang berpendidikan tinggi dan orang-orang tua di Indonesia umumnya dapat membaca dan menulis bahasa Belanda.

Di gudang museum terdapat alat pencetakan koin, peralatan seperti tempat untuk melebur koin, alat pengepresan ulir dan bahkan master cetakan koin VOC Crown tahun 1646. Saya bertanya kepada Pak Bambang tentang semua itu karena di "BMC" tertera koin VOC Crown tahun 1646, tapi mengapa koin-koin tersebut tidak ada di kotak tempat koin-koin Belanda ataupun di tempat lainya. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu banyak tentang semua itu kecuali bahwa semestinya percetakan koin "mint" mencetak/membuat koin VOC Crown tahun 1646. Dia bilang "hal itu didapat bedasarkan informasi dari catatan percetakan yang tersimpan di Museum, meskipun beberapa catatan hilang dalam pergolakan perang dan dampak dari perang tersebut".

Mr. Hans Schulman, Seorang numismatik terkenal dan juga pedagang numismatik di New York, mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat koin VOC bertahun 1646, walaupun mendengar rumor bahwa koin tersebut sebenarnya ada.

Pada tahun 1966 setelah saya kembali ke Amerika Serikat, saya pensiun dari USAF dan saya singkirkan semua koleksi koin VOC dan koleksi uang asing lainya sehingga saya bisa fokus ke koleksi koin Amerika dan mencari uang di Tokyo untuk bisnis Ventura yang telah saya rencanakan sebelumnya. Saya sangat lancar membaca dan berbicara bahasa Jepang.

Pada tahun 1967 saya menitipkan beberapa koin ke Hans Schulman di New York, untuk menjual sebagian besar koin VOC saya, termasuk tiga keping koin VOC yang saya dapat dari Pak bambang, Selain itu, juga saya titipkan ke Edwin Shapiro dari Teaneck, NJ, dan berhasil menjual dua koin VOC saya bertahun 1645 (48 Stuiver) yang saya beli dari kolektor Belanda yang tinggal di Jakarta. Beberapa bulan kemudian Mr.Shapiro mengembalikan satu keping dari dua keping koin VOC Crown, dan dia bilang bahwa koin yang satu ini bisa jadi tidak asli. Koin inilah yang masih saya miliki di koleksi saya. Koin 4 Reales MX Mexican tahun 1733 yang saya dapat dari pedagang keliling di Jakarta saya jual ke Hans Schulman dengan harga US$1.500, kemudian, katanya koin tersebut dijual ke Mr. Alexander Paterson.

Saya yakin bahwa koin VOC Crown tahun 1646 yang dijual Schulman pada tahun 1967 adalah koin yang sama yang terdapat di lelangnya Mr.Paul Bosco di New York, tahun 1997 dengan No. Lot #123 dan masih tertera tanda museum #34 pada koin tersebut dan tanda tersebut dapat dilihat samar-samar pada koin tersebut di sebelah kanan gambar pegangan pedang. Koin tersebut terjual seharga US$ 30,000, pada taksiran antara U$20.000 sampai $30.000. Koin yang sama VOC Crown tahun 1645 (48 Stuiver) dengan ada tanda #34 terjual lagi di lelang bulan Mei 2008 dengan harga US$139.150. Pada tahun 2005 Koin VOC tahun 1645 Batavian Crown terjual di lelang Dix,Noonan and Webb-Inggris, terjual dengan harga US$ 80.000.

Ijinkan saya untuk sedikit menyimpang dari disertasi saya tentang koin VOC. Mengapa saya fasih berbahasa Jepang dan bisa membaca dan menulis dengan baik? Untuk menjawab hal tersebut, saya harus menunjukkan sketsa biografi diri sendiri. Saya bergabung ke dalam satuan angkatan udara di usia saya 18 tahun, yaitu pada bulan Juli 1946 dan kami dikirim ke Jepang setelah kami menduduki Jepang yaitu seusai Perang Pasifik. Setiap kali saya dipanggil bertugas kembali, selalu bermarkas di Tokyo dan dengan cepat saya mempelajari bahasa Jepang. Saya ditugaskan di Tokyo selama 12 tahun, dari bulan September 1946 sampai dengan January 1962, dan terakhir dimasa dinas saya ditempatkan di kantor atase militer di kedutaan besar Amerika (OAIRA). Setelah bertugas dua tahun di Pentagon, saya ditugaskan ke OAIRA pada kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta pada tahun 1964 sampai dengan tahun 1966.

Setelah saya pensiun dari Angkatan Udara, saya pergi ke Tokyo pada tahun 1969. Saya menikah dengan seorang wanita Jepang dan kami membuka sebuah sekolah bahasa Inggris / asing, toko buku dan toko barang antik. Toko barang antik yang saya punya, dalam perjalananya melakukan jual beli senjata kuno / antik, pedang Jepang dan koin-koin Jepang serta koin negara-negara asing lainya. Toko antik semacam itu hanya ada satu, yaitu usaha saya. Bisnis berjalan sangat baik sekali tapi akhirnya polisi Jepang memaksa saya untuk menutup usaha toko antik tersbut, ya sudahlah itu cerita lama dan panjang. Ketika saya menerbitkan sebuah memoar, saya sertakan kejadian tersebut kedalam satu bab cerita yang berjudul "Perjuangan warga negara asing di Jepang."

Mempersingkat cerita, pada tahun 1980 dan teka-teki koin VOC Crown tahun 1646. Saya masih tinggal di Tokyo di awal tahun 1980-an. Saya mempunyai seorang teman Jepang yang baik , namanya Mr. Kodama, dia memiliki toko perhiasan di hotel "New Japan" dan dia mengetahui bahwa saya mengoleksi koin. Dia kemudian memberi saya 12 keping koin yang ia dapatkan dari menyelam pada sebuah bangkai kapal karam. Dia memberikannya secara cuma-cuma (gratis) sebab saya dianggap kawan baiknya dan pelanggan toko perhiasan miliknya. Dia bukan seorang kolektor koin, dia seorang penyelam amatiran yang dulu sering membuat model perhiasan yangg digabung dengan koin yang didapatkannya dari hasil menyelam dan dijual di toko perhiasanya.

Begitu kagetnya saya melihat di antara 12 keping coin yang dia berikan terdapat satu keping koin VOC tahun 1646 dan juga terdapat satu keping koin VOC 12 Stuiver tahun 1645. Saya masih memiliki koin ini di koleksi saya. Koin Crown Batavia tahun 1646 dan koin lainya terlihat hitam dan kusam karena terlalu lama berada di air laut. Koin Crown tersebut tampaknya memiliki "counterstamp". Saya putuskan untuk mebersihkan koin tersebut dan setelah saya bersihkan semakin terlihat cap Crown (mahkota) pada sisi depan koin. Untuk koin Crown tahun 1646 dalam kondisi yang bagus sekali dengan lambang VOCnya tapi koin tersebut memiliki disain lebih bagus dari versi umumnya, seperti yang saya sebutkan sebelumnya di buku Van der Chijs and Netscher.

Sebagai informasi tambahan yang menarik dalam cerita ini bahwa teman saya Kodama memberi saya kaset video dari kegiatan penyelamannya. Saya percaya apa yang dia katakan bahwa bangkai kapal tersebut adalah "Liefde atau Guldendraek", dan dalam rekaman kaset video tersebut terlihat hiu putih besar muncul dari kegelapan dan mengitari para penyelam beberapa kali dan menggigit kaki Kodama sampai terputus dan Kodama mengatakan kepada saya bahwa waktu itu seorang Australia masih menyelam di bangkai kapal tersebut.

Kembali ke koin VOC Crown tahun 1646 yang saya punya. Counterstamp itu menjadi misteri bagi saya dan tidak bisa dijelaskan sampai saya teringat bahwa Kolonel / Pak Bambang, direktur museum, mengatakan bahwa ada beberapa keping koin VOC dicetak sebagai percobaan pencetakan. Koin VOV Crown tahun 1646 bisa jadi menjadi koin percobaan pencetakan koin waktu itu dan diberi tanda "counterstamp" pada koin untuk menunjukan bahwa koin tersebut adalah koin cetakan percobaan. Pada arsip nasional di Den Haag semestinya ada arsip tentang kapal yang karam tersebut dan tentunya tentang koin VOC Crown tahun 1646 yang terendam dalam air laut selama 3 abad. Semestinya kapal yang karam tersebut dalam perjalanan ke atau dari Belanda sewaktu karam.

Berat koin VOC tahun 1645 (48 Stuiver) tersebut seberat 24,2239 gram, dan koin VOC saya yang tahun 1646 tidak lebih dari 24 gram. Perbedaan berat tersebut bisa jadi diakibatkan korosi air laut mengingat koin tersebut terendam di laut selama 300 tahun atau mungkin juga memang secara sengaja dibuat beratnya lebih ringan. Jika ada peneliti numismatik Belanda atau lainnya dapat memberikan informasi tentang koin VOC Crown tahun 1646, saya akan sangat senang mendengarnya (menerima).

Oleh: Mario L. Sacripante, 04 Mei 2009

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools