Kode Rahasia Uang Revolusi Indonesia (Oeang Republik Indonesia ORI 1945-1948)

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

PENGANTAR

Dalam mempersiapkan takluknya militer Jepang di Asia Pasifik, pemerintah Hindia Belanda dalam pengasinganya mendapat izin dari Kerajaan pada th 1943 untuk memproduksi uang kertas baru. Inilah uang NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang sebelumnya dicetak di Amerika Serikat dan berikutnya disimpan di Australia hingga dapat dibawa dan diedarkan setelah Perang Dunia II untuk membantu pemerintah Belanda mengukuhkan kembali kekuasaanya di Hindia Belanda. Orang Indonesia sendiri menyebutnya sebagai “Uang Merah”.

Ori 01.jpg

Dalam kenyataanya mengedarkan uang NICA banyak menemui kendala politik dan praktis. Lebih dari setahun sebelum Jepang takluk dan sebelum Perang Dunia II berakhir, uang tersebut telah beredar di luar daerah pendudukan di selatan New Guinea, kemudian di utara dan di daerah bebas yang lain. Kesemuanya adalah bagian dari Hindia Belanda yang berikutnya menjadi daerah (sementara) dibawah kekuasaan Belanda.

Pada 17 Agustus 1945 – 2 hari setelah menyerahnya Jepang – Soekarno menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah RI juga telah berencana memiliki dan mengedarkan uang kertas sendiri secepat mungkin untuk mendukung cita-cita revolusi. Pengedaran Uang Putih atau ORI menjadi halangan utama dalam mengenalkan uang NICA. Secara umum Hindia Belanda terbagi menjadi 3 bagian, yaitu pertama : Wilayah dibawah kekuasaan Belanda tempat uang NICA beredar, kedua : Wilayah Republik tempat ORI beredar, dan ketiga : wilayah yang disebabkan alasan praktis (baca : kendala logistik) dimana ORI tidak beredar sehingga masing-masing penguasa lokal, regional dan perusahaan dapat memproduksi dan mengedarkan uang mereka sendiri.

Dalam kurun waktu 1946-1948, pemerintah Republik mengeluarkan empat emisi uang kertas (ORI I - 17 Oktober 1945, ORI II – 1 January 1947, ORI III – 26 Juli 1947 dan ORI IV – 23 Agustus 1948). Produksi pertama (kurang lebih mencapai volume 3 meter kubik) yang dicetak sejak awal 1945 telah disita oleh militer Inggris sebagai anggota Sekutu pada pertengahan 1946. Cetakan ulangnya dikerjakan di percetakan Kolff di Malang dan akhirnya diedarkan pada Oktober 1946 setelah melalui kampanye besar-besaran. Untuk keperluan ini di iklankan di halaman depan koran kaum Republik “Merdeka” pada 26 Oktober 1946 dan disebarkan pamflet tentang peredaran yang akan segera dilaksanakan. Ini dapat diasumsikan bahwa sitaan produksi awal di belakang hari tetap dapat diedarkan.

Berbagai keadaan menyebabkan uang kertas ORI diproduksi dengan buruk. Bagi kebanyakan kolektor uang ORI sangat tidak menarik sebagai bahan koleksi. Jelek kualitas kertasnya, pencetakan, gambar- desain, tidak ada keseragaman kualitas – warna – finishing dalam satu seri yang sama, membuat ORI kurang dihargai dan tidak populer bagi kolektor. Meskipun demikian saat memfocuskan penelitian pada periode penjajahan Belanda & perjuangan kemerdekaan Indonesia yang menarik ini, akan ditemukan berbagai kejutan dan penemuan baru.

Kolektor yang memiliki banyak ORI akan menjumpai banyaknya variasi dan susunan penomor serial. Beberapa, terutama yang pecahan kecil tidak memiliki atau sangat sederhana nomor serinya dan hanya memiliki sedikit huruf saja. Pecahan besar memiliki serial yang berisi 5-6 nomer dikombinasikan dengan huruf-huruf.

Kenyataan bahwa uang ORI berkualitas kurang baik dibuktikan dengan pemalsuan yang relatif mudah. Menyadari bahwa pemalsuan adalah ancaman serius bagi kepercayaan terhadap uang ORI, maka otoritas keuangan Republik mencari solusi untuk melawanya. Salah satunya adalah menerapkan kode rahasia untuk mengidentifikasi sehingga petugas bisa mengenali uang palsu dengan mudah.

Beberapa tahun mengoleksi berbagai macam variasi ORI, berkenalan dengan banyak rekan kolektor, mempelajari dan menelitinya berjam-jam, akhirnya bisa menarik kesimpulan bahwa pola tersebut dapat dikenali. Berikut ini adalah bagaimana saya bisa mendapatkan cara menyimpulkan bahan bahasan dalam artikel ini.

Dengan mengirimkan banyak email ke rekan saya Uno dari Indonesia, ia menulis bahwa Adi Prtomo seorang senior kolektor, mengungkapkan adanya hubungan antara huruf pada nomer seri dengan kalimat pada beberapa ORI. Du acontoh utama Rp100 / 1947 (KUKI H-207, Pick 29A) dan Rp400 / 1948 (KUKI H-212, Pick 35). Pada uang Rp 100 memiliki kalimat “SERATUS TEMBAKAUAN” karena bergambar “ladang tembakau”. Menurut Uno, Adi Pratomo juga mengungkapkan adanya kaitan antara huruf pertama dengan huruf kedua di beberapa jenis ORI. Dengan dasar dan informasi yang tidak lengkap inilah saya memulai berpetualang beberapa tahun untuk membuktikan kebenarannya. Karena uang jenis Rp100 / 1947 sangat mahal ! (Saya memiliki dua lembar dan melihat tiga lembar lainya) saya tidak memiliki cukup untuk penelitian ini. Karenanya selama beberapa tahun saya mencoba mengumpulkan ORI ini sebanyak-banyaknya dan merekam semua informasi, merekam gambar diberbagai pelelangan, katalog, koleksi orang,dlsb. Akhirnya saya memiliki sekitar 30 lembar Rp100 / 1947, menghabiskan sepanjang malam, sepanjang libur akhir minggu untuk menyusun “puzzle” dan menemukan rantai hubungan antara huruf di nomer seri dengan kalimat “Seratus Tembakauan”.

Salah satu Rp100 / 1947 tembakauan koleksi saya bernomer seri 05629 UA EZ. Susunan nomer lainya dalam seri sejenis adalah sama : 6 nomer & 4 huruf. Berdasarkan pengamatan semuanya selalu berawalan dengan ) (nol) dan nomer serinya terdiri dari 10 angka (000001-009999, 010000-019999, dst). Lebih jauh setiap rentang memiliki hubungan unik dengan huruf pertama (dari empat huruf yang ada). Huruf “U” di koleksi saya memiliki hubungan yang pasti dengan rentang 050000-059999.

Tahap berikutnya adalah menemukan kaitan antara pengetahuan diatas dengan kalimat “Seratus Tembakauan”. Saya memiliki 10 huruf berbeda untuk setiap rentang dan berkaitan dengan 17 huruf kalimat tersebut. Beberapa huruf cocok, juga ada huruf yang kembar seperti “e”, “s” dan “a”. Saat memproses menemukan mata rantai, saya memerlukan beberapa jam untuk memilah angka, membuat tabel, melihat informasi dari sudut pandang yang berbeda, tetapi gagal menemukanya. Selanjutnya setelah beristirahat selama beberapa hari. Semuanya tiba-tiba saja muncul di benak saya untuk menyingkirkan huruf kembar ( dri kiri ke kanan) dari kalimat, saya memiliki 10 huruf. “Seratus Tembakauan”, akan menjadi “Seratumbkn” dan seluruh huruf tersebut cocok dengan seluruh 10 huruf yang berbeda dari nomer seri itu. Eureka !! (Horeeey

Ori 02.jpg

Sejujurnya, saya sangat puas dengan penemuan ini. Saya memiliki ORI Rp400 dan memiliki adanya kesamaan prinsip yang diterapkan. Sekarang waktunya pekerjaan utama dimulai dan saya mulai mempelajari seluruh ORI lain untuk menemukan rahasia tersembunyi. Saya memiliki banyak ORI dan saya bisa me-rekonstruksi kalimat pecahan Rp250 (“Dua Ratus Lima Puluh” yang menjadi “duartslimp” setelah menyingkirkan huruf yang kembar).

Selama proyek itu, saya berhasil membuktikan bahwa hampir seluruh identifikasi uang ORI juga memiliki kesamaan rahasia. Lebih jauh kepastian adanya mata rantai antara nomer seri dan huruf, meskipun dalam beberapa kasus hanya ada kaitan diantara sesama huruf saja.

Hasil menarik dari pemecahan kode rahasia ini adalah perkiraan jumlah masing-masing uang yang beredar. Sebagai contoh Rp100 / 1947, bisa jadi hanya dicetak sejumlah 99.999 lembar, karena hanya ada 10 rentang angka (1 dari 9.999, dan 9 dari 10.000) dan itu hanya muncul dengan huruf yang specifik. Jumlah ini terbilang sangat sedikit dibandingkan luas area penyebaran, sehingga satu-satunya kemungkinan untuk memproduksi lebih banyak adalah dengan memproduksi uang dengan identifikasi seri yang sama juga. Saya belum menemukan bukti, tetapi ada desas-desus soal ini pada uang ORI.

Alasan pemegang otoritas kaun Republik memberlakukan kode rahasia pada nomer seri ini adalah untuk membedakan pemalsuan. Berdasarkan publikasi terbatas mengenai artikel ini pada buku peringatan ulang tahun ke 20 IBNS cabang Belanda pada tahun 2006, saya menerima banyak tanggapan dari para kolektor bahwa mereka curiga mengenai ORI yang mereka miliki dan mereka lalu menyingkirkannya atau setidaknya menganggap palsu. Dalam beberapa tanggapan saya merasakan adanya kekecewaan karena; memang benar banyak ORI palsu beredar, diakui sebagai asli dan dijual kepada kolektor.

Dibawah ini adalah bahasan semua ORI yang beredar yang meiliki nomer seri. Jumlah peredaran mengakibatkan perbedaan bentuk penomoran. Hal ini meliputi perbedaan jenis huruf & cetakan (normal, tebal, italic), jenis huruf (tinggi dan lebar), kombinasi huruf besar dan kecil. Saya enggan untuk menyebut setiap perbedaan sebagai variasi karena terlalu banyak perbedaan dan tidak jelas mana yang awal atau aslinya. Lebih banyak penelitian dan bahan sangat dibutuhkan dalam menarik kesimpulan. Lebih lanjut perlu dipikirkan batasan mengenai arti “variasi”

Berikutnya adalah pembahasan disertai kesimpulan dan asumsi, berdasarkan jumlah material dan penelitian yang terbatas dan berupa pengumpulan sementara. Informasi dan penelitian lebih jauh serta adanya materi baru, akan menghasilkan visi dan cara pandang yang baru pula.

EMISI OEANG REPUBLIK INDONESIA (ORI) ATAU “UANG PUTIH” - JAKARTA 17 OKTOBER 1945, A.A. MARAMIS

Rp ½ (KUKI H-183, Pick 16)

Identifikasi nomer seri uang ini berdasarkan 6 angka + 2 huruf. Enam angka ini diawali dengan angka 0, 1, 2, 3, 4. Sedangkan kedua huruf adalah huruf besar. Huruf awal = L, M, N, O, P, R, S, T. Dan Huruf kedua = P, R, T, U, V, W, X. Huruf “X” biasanya lebih sedikit dibandingkan dengan yang lainya.

Ori 03.jpg


Rp1 (KUKI H-194, Pick 17 : Hurf tanpa angka dan 6 angka + 2 huruf

Ori 04.jpg
Ori 05.jpg

Ada dua jenis penomoran yang berbeda yaitu memiliki dua huruf besar, dan lainya memiliki 6 angka + 2 huruf. Jenis yang kedua ini mempunyai pola antara angka pertama dan huruf kedua sbb :

S6.jpg

Rp5 (KUKI H-195, Pick 18)

Seri ini memiliki dua jenis variasi penomoran : 6 angka + 2 huruf, dan : 6 angka + 3 huruf Variasi pertama  : Kedua huruf adalah jenis kapital Variasi kedua  : Huruf pertama selalu kapital, selalu huruf kecil

Keduanya menunjukan pola hubungan antara angka pertama dan huruf pertama sbb :

S7.jpg


Rp10 (KUKI H-196, Pick 19)

Jenis ini memiliki dua jenis penomoran : 6 angka + 2 huruf, dan : 6 angka + 3 huruf. Kedua variasi tersebut, huruf pertama selalu besar, huruf kedua bisa besar atau kecil Pada variasi kedua : 2 huruf awal adalah huruf besar dan yang ketiga adalah huruf kecil. Huruf ketiga selalu sama dengan huruf kedua.

Kedua variasi memiliki pola adanya hubngan antara angka pertama dan hurud pertama, sbb :

S8.jpg


Rp100 (KUKI H-197, Pick 20)

Penomoran seri ini terdiri dari 5 angka + 2 huruf besar, dan ada hubungan antara angka pertama

S9.jpg

Banyak jenis palsu beredar, umumnya cetakan kurang tajam, terutama di dasi sukarno terisi penuh (tinta) diantara garis-garisnya. Juga nomer serinya dicetak dengan berbagai variasi merah, lebih muda maupun lebih tua. Saya melihat jenis palsu berwarna hijau, dan saya belum pernah melihat asli berwarna hijau untuk tahun emisi 1945.

EMISI ORI II JOGJAKARTA, 1 JANUARY 1947, SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA

Rp5 (KUKI H-198, Pick 21)

Penomoran seri jenis ini memiliki dua variasi : 6 angka + 2 huruf, atau : 6 angka + 3 huruf Variasi pertama : huruf pertama selalu besar, sedangkan huruf kedua bisa besar atau kecil. Variasi kedua : huruf pertama selalu besar, huruf kedua besar atau kecil, huruf ketiga selalu kecil Kedua variasi memiliki pola adanya hubungan antara angka pertama dengan huruf pertama, sbb :

S10.jpg


Ori 11a.jpg Ori 11b.jpg

Rp10 (KUKI H-199 Pick 22) Penomoran seri jenis ini memiliki dua variasi : 6 angka + 2 huruf, atau : 6 angka + 2 huruf. Kedua variasinya berhuruf pertama selalu besar, sedangkan huruf kedua bisa bedar atau kecil Variasi kedua : huruf pertama dan kedua selalu besar, huruf ketiga selalu kecil. Huruf ketiga selalu sama dengan huruf kedua.

Kedua variasi memiliki pola adanya hubungan antara angka pertama dengan huruf pertama, sbb :

S9.jpg

Rp25 (KUKI H-200 Pick 23)

Penomeran seri jenis ini memiliki dua variasi : 6 angka + 2 huruf. Huruf pertama selalu besar, sedangkan huruf kedua bisa bedar atau kecil.

Huruf pertama memiliki hubungan dengan angka pertama, sbb :

S13.jpg


Ori 14.jpg Ori 15.jpg


Rp100 (KUKI H-201, Pick24)

Penomeran seri jenis ini menggunakan 6 angka + 2 huruf. Angka pertama selalu “0” / nol. Huruf pertama selalu besar, sedangkan huruf kedua bisa besar atau kecil.

Huruf pertama hanya muncul dalam kombinasi tertentu dengan angka kedua, sbb :

S16.jpg

EMISI ORI III JOGJAKARTA, 26 Juli 1947, A.A. MARAMIS

Rp ½ (KUKI H-202 Pic 25)

Penomoran seri ini menggunakan hanya 2 huruf, kedua tercetak didepan. Kombinasi hurufnya : AD, AL, AN, AT, DA, KE, UL.

Ori 17.jpg Ori 18.jpg

Rp2 ½ (KUKI H-202 Pick 25)

Jenis ini juga hanya memiliki nomer seri 2 huruf saja, tercetak pada seperempaat bagian depan di kanan atas dan kiri bawah. Berdasarkan pengamatan kombinasinya, sbb : AN, AT, BL, DA, DI, DJ, ER, IK, IN, KE, NE, PU, RA, RE, RI, SA, TU.

Ada pemalsuan jenis ini yang menggunakan huruf “GA”. Tercetak merah dan mudah untuk dikenali dengan timbulnya garis vertikal ditengah bagian belakang. Garis ini sepertinya akibat penggandaan uang kertas asli yang terlipat vertikal.

Rp25 (KUKI H-204, Pick 27)

Semua jenis ini memiliki nomer seri sama (SDXI) yang terletak dibagian depan. Saya yakin banyak jenis ini yang palsu. Tidak ada cara yang spesifik untuk membedakan alsi dan palsu, meskipun demikian menurut saya cetakan yang lebih tajam lebih besar kemungkinan aslinya. Pembedaan ini bisa dilakukan dengan membandingkan beberapa jenis yang sama.

Ori 20.jpg

Rp50 (KUKI H-205, Pick)

Jenis ini mempunyai penomoran 6 angka + 2 huruf. Kode rahasianya terletak pada angka pertama dan huruf pertama, sbb :

S21.jpg

Dugaan saya huruf pertama “LMHSIAUDRK” memiliki hubungan khusus dengan deskripsi Indonesia untuk uang jenis ini, seperti halnya Rp100 (KUKI H-207) yang telah dijabarkan di tulisan ini. Sayang saya belum bisa memecahkan kode ini, meskipun demikian dengan mendapatkan banyak material dan penelitian lebih lanjut dimasa depan, pemecahan ini hanya masalah waktu. Dengan metode menghubungkan satu huruf tertentu dengan rentang angka yang tertentu pula, dapat disimpulkan bahwa total uang yang diedarkan untuk jenis ini adalah paling banyak 999.999 lembar.

Rp100 (KUKI H-206, Pick 29)

Setiap uang dari jenis ini memiliki penomoran yang sama (SDA 1) yang tercetak biasa di bagian depan. Diyakini banyak jenis palsu dari uang jenis ini. Tidak ada cara yang spesifik untuk membedakan alsi dan palsu, mekipun demikian menurut saya cetakan yang lebih tajam lebih besar kemungkinan aslinya. Pembedaan ini bisa dilakukan dengan membandingkan beberapa jenis yang sama.

Ori 22.jpg Ori 23.jpg

Rp100 (KUKI H-207, Pick 29A)

Penomoran jenis ini terdiri dari 6 angka + 2 huruf (dua, masing-masing sepasang). Rahasia penomeranya tersusun, sbb : Nomer awal selalu “0” / nol

Huruf Pertama :

Uang ini dicetak dengan 10 rentang angka yang berbeda (1 hingga 9.999, dan 9 hingga 10.000), setiap rentang memiliki huruf yang unik dan spesifik. Ada 10 huruf yang diperlukan. Susunan dari 10 huruf ini adalah deskripsi Indonesia dari uang ini “SERATUS TEMBAKAUAN” KARENA UANG INI MEMILIKI PECAHAN Rp100 dan menggambarkan ladang tembakau. Saat huruf ganda (dari kiri kekanan) disingkirkan dari deskripsi, akan tersisa 10 huruf “SERATUTEMBKN”

Rentang nomer seri dan huruf pertama :

S24.jpg

Huruf kedua dan keempat

Huruf kedua dan keempat memiliki hubungan pasti. Huruf kedua adalah alphabet dibawah huruf keempat. Saat huruf kedua adalah “A” maka huruf keempat adalah “Z”. Untuk mencegah kebingungan, huruf “J” dihilangkan, kombinasi “JI” dan :KJ” tidak dipergunakan. Meskipun demikian kombinasi “KI” tetap ada. Demikian juga huruf “Q” dihilangkan dan kombinasi “QP” dan “RQ” tidak dipergunakan. Meskipun begitu kombinasi “RP” tetap ada.

Huruf ketiga :

Huruf pertama ada hubungannya dengan huruf ketiga, sbb :

S25.jpg

Karena penomoran seri sesuai dengan huruf yang unik pertama, maka aman untuk disimpulkan bahwa jumlah maksimum uang ini adalah 99.999 lembar.

Rp250 (KUKI H-208, Pick 30)

Penomoran jenis ini terdiri dari 6 angka + 2 huruf. Susunan kode rahasia adalah, xbb : Angka pertama selalu angka “0” / nol

Huruf pertama :

Jenis ini dicetak dengan 10 rentang angka yang berbeda ( 1 hingga 9.999, dan 9 hingga 10.000), masing-masing rentang memiliki huruf yang spesifik dan unik. Ada sepuluh huruf. Sebenarnya 10 huruf ini adalah deskripsi Indonesia untuk pecahan “DUA RATUS LIMA PULUH”. Jika huruf ganda (dari kiri ke kanan) disingkirkan dari deskripsi tersebut, maka akan tersisa 10 huruf “DUARTSLIMP”

S26.jpg

Huruf kedua :

Tidak jelas apakah ada hubunganya antara huruf pertama dengan huruf kedua. Kombinasi yang sudah diamati adalah, sbb :

S27.jpg

Karena penomeran seri sesuai dengan huruf unik pertama, maka aman untuk disimpulkan bahwa jumlah maksimum uang ini adalah 99.999 lembar. Diketahui ada beberapa perkecualian atas kode diatas. Beberapa lembar jenis ini ada yang memiliki nomer seri dengan huruf ketik. (Sebagai contoh adalah 036137 SQ)

Ori 28.jpg Ori 29.jpg

EMISI ORI IV JOGJAKARTA, 23 AGUSTUS 1948, Drs.MOHAMMAD HATTA

Rp40 (KUKI H-209, Pick 33)

Penomoran jenis ini terdiri dari 4 (2 x 2) huruf. Terbaca dari kiri kekanan, terdapat beberapa kombinasi, sbb : AA PZ, AC PB, AG PF, AI UH, AL UK, AN UM, MB RA, MD RC, MF RE, MH RG, MK TI, MM TL, PP SO, PW SV

Huruf kedua dan keempat memiliki hubungan. Huruf kedua adalah alphabet dibawah huruf keempat. Saat huruf kedua adalah “A” maka huruf keempat adalah “Z”. Untuk mencegah kebingunan, huruf “J” dihilangkan, kombinasi “JI” dan “KJ” tidak dipergunakan. Meskipun demikian kombinasi :KI” tetap ada. Demikian juga huruf “Q” dihilangkan dan kombinasi “QP” dan “RQ” tidak dipergunakan, namun kombinasi “RP” dipakai. Sayangnya tidak ditemukan uang dengan kombinasi ini, oleh karenanya tidak ada bukti.

Rp75 (KUKI H-210, Pick 33A)

Penomoran seri ini terdiri dari 5 angka + 2 huruf, dan 6 angka + 2 huruf. Kode untuk 2 huruf tersebut adalah, sbb :

Awalnya uang ini (dengan 5 angka) memiliki huruf “MM”. Dimulai dengan nomer 48587 (atau lebih rendah namun tidak dibawah nomor 29603), huruf kedua adalah “A”. Berikutnya huruf pertama meningkat secara alphabet dari “M” ke “N”, lalu “P” dan seterusnya. Sejalan dengan itu huruf kedua juga meningkat secara alphabet dari “A” ke “B”, “C”, “D” dan seterusnya. Dengan cara seperti inilah tersusun kombinasi : MM, MA, NB, OC, PD, RF, SG, TH, UI.

Peralihan dari 5 ke 6 angka terjadi di kombinasi “PD”. 193218 UI adalah angka tertinggi yang diketahui. Tidak ada kombinasi huruf lainya seperti “VJ” dan “WK”, meskipun mungkin sekali diluar pengetahuan penulis. Karena penomoran seri mempertimbangkan rentang angka dan huruf kombinasi, maka dapat diperkirakan paling banyak 199.999 lembar jenis ini beredar.

Ori 30.jpg Ori 31.jpg

Rp100 (KUKI H-211, Pick 34)

Penomoran jenis ini terdiri dari 6 angka + 4 huruf (dua, masing-masing sepasang). Rahasia penomorannya tersusun, sbb : Nomer awal selalu “0” / nol

Huruf pertama :

Uang ini dicetak dengan 10 rentang angka yang berbeda (1 hingga 9.999 dan 9 hingga 10.000), setiap rentang memiliki huruf yang unik dan spesifik. Ada 10 huruf berbeda yang diperlukan. Susunan dari 10 huruf ini adalah deskripsi Indonesia dari uang ini : ‘SERATUS TEMBAKAUAN’ karena uang ini memiliki pecahan Rp100 dan menggambarkan ladang tembakau. Saat huruf ganda (dari kiri ke kanan) disingkirkan dari deskripsi, akan tersisa 10 huruf “SERATUTEMBBKN”

Rentang nomer seri dan huruf pertama

S32.jpg

Huruf kedua dan keempat “

Huruf kedua dan keempat memiliki hubungan pasti. Huruf kedua adalah alphabet dibawah huruf keempat. Saat huruf kedua adalah “A” maka huruf keempat adalah “Z”. Untuk mencegah kebingungan, huruf “J” dihilangkan, kombinasi “JI” dan “KJ” tidak dipergunakan. Meskipun demikian kombinasi “KI” tetap ada. Demikian juga huruf “Q” dihilangkan dan kombinasi “QP” dan “RQ” tidak dipergunakan. Meskipun begitu kombinasi “RP” tetap ada.

Huruf ketiga :

Huruf pertama ada hubungannya dengan huruf ketiga, sbb :

S33.jpg

Karena penomoran seri sesuai dengan rentang angka dengan huruf unik pertama, maka aman untuk disimpulkan bahwa maksimum uang ini adalah 99.999 lembar.

Rp400 (KUKI H-212, Pick 35)


Penomeran jenis ini terdiri dari 6 angka + 4 huruf (2 x 2) huruf. Rahasia penomeran tersusun, sbb : Nomer awal selalu “0” / nol

Huruf pertama :

Uang ini dicetak dengan 10 rentang angka yang berbeda (1 hingga 9.999, dan 9 hingga 10.000), setiap rentang memiliki huruf yang unik dan spesifik. Ada 10 huruf berbeda yang diperlukan. Susunan dari 10 huruf ini adalah deskripsi Indonesia dari uang ini “EMAPT RATUS TEBUAN” karena uang ini pecahan Rp400 dan menggambarkan ladang tebu. Saat huruf ganda (dari kiri ke kanan) disingkirkan dari deskripsi, akan tersisa 10 huruf ‘AMPTRUSEBN”

Rentang penomeran seri dan huruf pertama

S34.jpg

Huruf kedua dan keempat :

Huruf kedua dan keempat memiliki hubungan pasti. Huruf kedua adalah alphabet dibawah huruf keempat. Saat huruf kedua adalah “A” maka huruf keempat adalah “Z”. Untuk mencegah kebingunan, huruf “J” dihilangkan, kombinasi “JI” dan “KJ” tidak dipergunakan. Meskipun demikian kombinasi “KI” tetap ada. Demikian juga huruf “Q” dihilangkan dan kombinasi “QP” dan “RQ” tidak dipergunakan. Meskipun begitu kombinasi “RP” tetap ada. Sayangnya tidak ada uang jenis dengan kombinasi ini sehingga tidak ada bukti.

Huruf ketiga :

Huruf pertama ada hubunganya dengan huruf ketiga, sbb :

S35.jpg

Ada beberapa uang ini yang bernomer seri dalam rentang 090000 – 099999 dengan hiruf pertama “M” dan huruf ketiga “G”. Diketahui ada beberapa perkecualian atas kode diatas. Beberapa dari uang tersebut bernomer seri dengan menggunakan huruf “ketikan”,contoh 055905 UL EK. Karena penomeran seri sesuai dengan rentang angka degan huruf unik pertama, maka aman untuk disimpulkan bahwa jumlah maksimum uang ini adalah 99.999 lembar.

Diketahui banyak pemalsuan dari jenis uang ini. Biasanya jenis ini memiliki nomer seri yang tidak sesuai dengan kode rahasia diatas. Kebanyakan palsu muncul dengan kombinasi BK-NI, EK-MD, MD-FC, UL-FC dan UL-NR. Meskipun beberapa jenis huruf sesuai dengan kode rahasia yang dimaksud, uang ini berada jauh rentang angka yang spesifik itu. Dalam beberapa kasus juga masuk dalam rentang itu namun hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Ori 36.jpg


Oleh : Rob Huisman

S38.jpg


Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com


Personal tools