Oeang Repoeblik Tapanoeli

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

Bertemu “Si Jendral” Pemilik Percetakan yang mencetak “Oeang Repoeblik Tapanoeli”

Orang tua berusia 67 tahun ini pada masa mudanya dikenal dengan sebutan “Si Jendral”, yaitu pada zaman pendudukan Jepang di Tapanuli, Sumatra Utara, sebelum Indonesia merdeka. Sebutan ini bukan berasal dari pejuang-pejuang rekanya sebangsa, tapi justru dari perwira Jepang sendiri.

“Kau sehebat Jendral Yamashita”, kata seorang perwira Jepang dalam bahasa negrinya kepada pemuda Batak ini seusainya upacara militer di Tarutung. Saat itu, perwira Jepang dan pejuang Indonesia itu sama-sama bertugas menjadi perwira upacara. Memang “teriakan aba-aba” pejuang Indonesia itu lebih keras dan lebih mantap dari perwira Jepang itu. Karena komentar itu terdengar juga oleh pejuang-pejuang Indonesia di samping prajurit-prajurit Jepang sendiri, maka sejak itu terkenalah ia dengan sebutan “Si Jendral”

Nama Jendral Yamashita begitu terkenal pada masa itu karena tindakan-tindakanya yang mengejutkan. Ia dengan cepat menguasai Malaya (ketika itu) dan Singapura sampai-sampai ia disebut “Singa Malaya”. Begitulah terkenalnya Yamashita dan begitu pula keterkenalan “Si Jendral” di Tapanuli saat itu. Ketika Maraden Panggabean (ketika itu Pangab) mengunjungi desa gerilya di Sitahuis (Tapanuli Tengah) pada bulan Juni 1969, ketua DPR-GR kabupaten itu., PR Hutabarat, mengingatkan ketua DPA sekarang itu untuk tidak melupakan jasa “Si Jendral” dalam pencetakan uang “ORITA” – Oeang Repoeblik Tapanuli.

Tapanuli 01.JPG Tapanuli 02.JPG Tapanuli 03.JPG


Siapa “Si Jendral”??_Pemuda pejuang yang kini sudah kakek dan sedang berkunjung ke Jakarta melihat anak-anak dan cucu-cucunya adalah Bistok Siregar, pemilik percetakan Philemon Bin Harun Siregar di Sibolga. Ia merupakan generasi ke-3 keluarga Siregar pemilik percetakan yang berdiri tahun 1921 di ibukota Tapanuli Tengah itu (percetakan serupa di Tarutung didirikan dua tahun lebih awal). Generasi pertama adalah Arun (bukan Harun) Siregar, Generasi kedua adalah Philemon Siregar dan keempat, yang kini mengelola peretakan bersejarah itu adalah putra Bistok, Horas Tongam Siregar.

Pada saat perang kemerdekaan itu, pemerintah Republiken untuk pertama-kalinya mencetak uang di Yogyakarta. Namun uang “ORI” itu hanya beredar sekitar dua sampai tiga bulan. Sesudah itu, untuk daerah Sumatra dicetak di Pematang Siantar (Pada saat itu ibukota propinsi, Medan, sudah diduduki Belanda). Uang yang dicetak di Siantar itu diberi nama “Oeang Republik Soematra Oetara”

Kareana pada agresi I tahun 1974 itu Pematang Siantar juga kemudian diduduki Belanda, maka pencetakan uang perjuangan itu menjadi terhenti. Tidak berapa lama, datanglah Residen Dr. Ferdinand Lumban Tobing meminta Bistok Siregar untuk mencetak uang bagi keperluan perekonomian di Tapanuli saat itu. Bistok yang saat itu menjadi Komandan Brigade Pasukan Ksatria dan sama sekali tidak tertarik akan bidang usaha percetakan tapi dialah pemilik percetakan yang diwariskan kepadanya, menyetujui permintaan itu. Ia menganggapnya termasuk kegiatan untuk membantu perjuangan masa itu. Maka mulailah percetakan Philemon itu mencetak uang “Oerita” (Oeang Republik Tapanoeli). Pencetakan pertama berlangsung di lokasi percetakan sekarang yaitu di Jalan Bahagia, Sibolga. Nama jalan ini sekarang sudah diubah menjadi jalan Ferdinand Lumban Tobing, mengenang jasa-jasa mantan pejuang dan residen itu.

Pencetakan dilakukan dengan penjagaan polisi. Kertasnyapun biasa-biasa saja, yaitu kertas HVS. Empat mesin dipekerjakan. Semua uang yang dicetak ditandatangani terlebih dahulu sebelum diedarkan. Sebagian mempunyai nomer urut. Tapi karena lama-kelamaan situasi kot Sibolga sudah tidak aman, maka diputuskanlah untuk memindahkan percetakan itu ke desa yang kemudian terkenal dalam lagu “Butet”, yaitu desa Sitahuis, 21 km dari Sibolga, kearah Tarutung. Disinilah kemudian pencetakan dilanjutkan dan suatu tempat lainya yang disebut Sibolga II.

Bistok tidak mengingat lagi siapa-siapa yang bertugas menandatangani uang itu atas nama pemerintah darurat saat itu, tapi ia menyebut tiga orang antara lain Oberlin Lumban Tobing, Frinus Lumban Tobing dan seorang marga Hutagalung. Sedang seorang pekerja percetakan itu sampai kini masih bekerja di percetakan di Sibolga, yaitu Mula Simatupang.

Klise yang digunakan adalah klise biasa dengan huruf-huruf yang disusun dari huruf yang ada, bukan dari suatu gambar “art” seperti umumnya untuk uang-uang sekarang ini. Dengan demikian, segi rahasia atau pengamanan uang itu tidak ada. Tapi Siregar membantah, walaupun uang-uang itu tidak mempunyai “pengamanan”, semuanya selalu ditandatangani. Ini dikatakanya, karena ada yang menulis akibat “permintaan mendadak” dari komandan-komandan tentara, ada diantara alat penukar itu diberikan begitu saja. Itu tidak benar, sampai-sampai tangan-tangan penandatangan itu sakit, kata Bistok Siregar. Uang yang dicetak terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 100 dan 200 Rupiah, tapi Siregar mengatakan tidak tahu sampai seberapa banyak uang-uang itu sempat dicetak.

Tapanuli 04.JPG Tapanuli 05.JPG

Ketika Belanda menyerang Sitahuis, satu dari dua percetakan yang dibawa dari Sibolga itu hancur. Karena serangan itu, satu peretakan yang ukuranya kecil dipindahkan ke tempat yang lebih terpencil, disebut Sibolga III. Disinilah pekerjaan pencetakan itu dilanjutkan.

Serangan yang menghancurkan percetakan itu secara tertulis disaksikan oeh Drs. SK. Bonar, mantan pejabat di Departemen Penerangan dalam suatu suratnya tanggal 9 September 1969 diatas kertas surat Departemen Penerangan. Mesin-mesin cetak yang digunakan adalah “Go-don”, buatan AS (Ohio) tahun 1921. Jenis ini masih digunakan di percetakan di Sibolga tsb.

Pada mulanya Bistok Siregar cukup lama tidak mau mengungkit-ungkit jasanya kepada pemerintah ini. Kalau bukan karena desakan anak-anaknya ia juga tidak akan mengurus keveterananya dan itu baru dikerjakanya tahun 1973 lalu. Dalam keveterananya itu ia berpangkat Kapten. Tidak ada maksud saya membangga-banggakan apa yang sudah lewat, tapi anak-anak saya mendorong saya. Saya sendiri sudah merasa puas dengan hidup ini, kata orang tua yang sudah susah untuk berjalan itu.

Ia hanya mengusulkan sebaiknya pemerintah memperhatikan fakta-fakta ini dalam rangka penyusunan sejarah perjuangan dari tiap daerah dalam ranngka perjuangan keseluruhan bangsa. Menanggapi adanya usul untuk mendirikan suatu museum di desa Sitahuis, desa gerilya yang juga dikenal baik oleh Jendral Panggabean itu, dan pejuang-pejuang Tapanuli lainya, ia hanya menyerahkanya kepada pemerintah. “Mana yang baiklah, asal fakta-fakta sejarah itu tidak hilang begitu saja”, kata Bistok Siregar..................... (SHM / Moxa Nadeak)

Sumber : kliping rekan Ong Pohan

Tulisan ini kami angkat untuk melengkapi telaah tentang ORI daerah Tapanuli. KUKI 1996 hanya mendata nama pencetaknya “Bin Harun”. Buku Peruri malah tidak memberi data yang cukup. Kalaupun terkesan.....uang “Ori” (Jawa) hanya beredar sekitar dua sampai tiga bulan (di Tapanuli ?). Sesudah itu, untuk daerah Sumatra dicetak di Pematang Siantar........ ini patut kita catat dengan tanda tanya. Soal Uang yang dicetak di Siantar itu diberi nama “Oeang Repoeblik Soematra Oetara”......... Jelas sebuah kekeliruan. Kala itu Pematang Siantar termasuk karesidenan Sumatra Timur, hanya ada satu Propinsi Sumatra, dan Sub-Propinsi Sumatra Utara meliputi Karesidenan Aceh, Sumatra Timur, dan Tapanuli. “Pasukan Ksatria” yang dimaksud jelas “Ksatrya”-nya Pesindo, laskarnya PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang diketuai Soetan Sjahrir. Pada buku Medan Area Mengisi Proklamasi, Maraden Panggabean tercatat sebagai “Seksi Kelaskaran” Dewan Pimpinan Pesindo Tapanuli. Tercatat pula nama Djames Lumban Tobing sebagai “Seksi Penerangan”. Nama “Oberlin” dan “Frinus Lumban Tobing” tidak berhasil kami jajaki. Sayang memang, belum ada pembaca Jurnal kita yang berasal dari atau putra Tapanuli.

Adi Pratomo

Jurnal Rupiah No. 61 (Januari 2001)

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools