Salah Kodrat Atau Salah Tahun

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.


Uang kertas yang dikatakan pertama kali dicetak Bank Indonesia adalah tahun 1952, dikenal dengan sebutan Seri Kebudayaan. Dari buku KUKI (Katalog Uang Kertas Indonesia) tahun 2005, no H-226 s/d H-232, seri ini diedarkan dalam tujuh pecahan: 5 rupiah gambar Kartini, 10 rupiah patung Ken Dedes, 25 rupiah sepasang pohon hayat, 50 rupiah pohon bercorak, 100 rupiah Diponegoro, 500 rupiah Relief Hindu, dan 1.000 rupiah gambar patung dan relief Hindu. Semua uang kertas ini ditandatangani oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Indra Kasoema. Pada bagian atas tercantum nama Bank Indonesia dan di bagian bawah tertera tahun 1952.

Salahkodrat01.jpg

Salahkodrat02.jpg

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah benar seri 1952 itu dicetak oleh Bank Indonesia, mengingat bahwa bank sentral ini baru berdiri pada tanggal 1 Jui 1953.

De Javasche Bank

Cikal bakal dari Bank Indonesia adalah De Javasche Bank, yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 24 Januari 1928. Atas keputusan Gubernur Jendral Van der Cappelen dengan pengumuman dalam staadblad no. 1. Modal awalnya ditentukan f 2.000.000, kemudian tahun 1861 menjadi f 4.000.000, dan akhirnya menjadi f 6.000.000 pada tahun 1864.

Pertama kali berdiri, uang kertas yang dicetaknya tahun 1828 adalah Seri Biljet yang terdiri 7 pecahan,25, 50, 100, 200, 300, 500, dan 1.000 Gulden. Karena tekanan gubernur Jendral Van den Bosch, pencetus "Cultuur Stelsel" atau "Tanam Paksa" yang sangat memberatkan rakyat Indonesia, tanggal 23 Agustus 1832 dicetak seri uang kertas Tembaga dalam 8 pecahan (1, 5, 10, 25, 50, 100, 500 dan 1.000 Gulden). Terbitan kedua ini diedarkan dengan pertimbangan sulitnya pembayaran untuk nilai yang tinggi bila dilakukan dengan mata uang tembaga. Dengan digunakan uang kertas, maka bahan tembaganya sendiri dapat disimpan. Pada masa Tanam paksa, uang tembaga dicetak dalam jumlah ratusan juta keping oleh percetakan uang di Surabaya, yang digunakan pemerintah untuk membeli produk-produk pertanian yang dihasilkan rakyat dengan harga yang telah ditetapkan.

Salahkodrat03.jpg

Dengan berjalannya waktu, De Javasche Bank mencetak seri-seri uang kertas yang indah-indah, yang sekarang menjadi incaran para kolektor numismatika. Uang kertas cetakan terakhirnya adalah terbitan tahun 1948 dalam tiga pecahan (0,5, 1 dan 2,5 Rupiah), dimana saat itu sedang berkecamuk perang revolusi.

Setelah Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaannya, nama De Javasche Bank masih tetap dipakai sebagai bank sirkulasi di Indonesia. Tanggal 24 Januari 1953 masih dilakukan peringatan 125 tahun berdirinya De Javasche Bank. Saat itu yang menjadi Presiden (Gubernur) de Javasche Bank adalah Mr. Sjafruddin Prawiranegara, sedangkan Mentri keuangannya adalah Dr.R.M. Sumitro Djojohadikusumo. Baru tanggal 1 Juli 1953, dengan UU No. 11 tahun 1953, didirikanlah Bank Indonesia menggantikan fungsi De Javasche Bank, yang tamat riwayatnya sejak 30 Juni 1953.

Kembali pada seri 1952 diatas, jika dilihat dari urutan kejadianya, maka uang kertas tersebut dapat dikatakan "berlawanan dengan kodratnya". Karena apakah mungkin sebuah bank yang belum ada tapi sudah mampu melahirkan uang kertasnya?.

Kalau melihat dari pencantuman tahun 1952, seharusnyalah nama De Javasche Bank yang dicetak pada seri tersebut. Namun jika melihat dari tanggal terbitnya, memang sudah menjadi wewenang Bank Indonesia untuk mengedarkanya. Seri Kebudayaan ini walau bertahun 1952, tapi baru diedarkan tahun 1953, sehari setelah lahirnya Bank Indonesia.

Menurut Katalog Uang Kertas Bank Indonesia edisi 2006, dari museum Artha Suaka, Bank Indonesia, Jakarta, dapat diperoleh informasi tentang tanggal terbit dan ditariknya uang kertas seri 1952.

  • Pecahan 5 dan 10 rupiah terbit 2 Juli 1953.
  • Pecahan 25 rupiah tanggal 8 Juni 1954.
  • Pecahan 50 rupiah tanggal 13 Agustus 1954.
  • Keempat uang kertas diatas ditarik dari peredarannya pada tanggal 16 Januari 1961.
  • Pecahan 100 rupiah terbit 16 Desember 1953, ditarik 15 Desember 1961.
  • Pecahan 500 rupiah terbit 25 Januari 1955, ditarik 21 September 1959.
  • Pecahan 1.000 rupiah terbit 23 November 1954, ditarik 7 Agustus 1958.

Tapi masalahnya, orang akan pertama kali melihat pada tahun terbitnya, yaitu tahun 1952, bukan dari kapan uang tersebut diedarkan. Sama seperti para kolektor yang menata uang kertasnya berdasarkan urutan tahun cetakan. Pencantuman tahun 1952 ini tentu akan membingungkan fakta sejarah yang ada, dalam arti Sejarah Keberadaan Bank Indonesia. Adalah lebih tepat bila seri ini bertahun 1953, sesuai dengan urutan tahun kelahiran Bank Indonesia. Karena dengan mencantumkan tahun 1952, kalau tidak disebut sebagai "Salah Kodrat", maka dapat dikatakan juga sebagai uang "Salah Tahun" !.....

Salahkodrat4.jpg

Ditulis oleh: Adhitya M

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools