Sekilas tentang Uang Djambi

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

Dunia uang daerah (Urida) sebenarnya relatif baru saya geluti akhir-akhir ini saja. Meski telah lama mengetahui eksistensi jenis ini, namun saya tidak pernah melirik padanya karena penampilannya yang sekena-kenanya dan menggunakan teknik sangat sederhana. Lihat saja KUKI # H 692 dan 693, Urida dari Ketjamatan Lima Poeloeh, sekilas lebih mirip ramalan buntut togel ketimbang alat bayar yang sah. Urida Palembang H # 746 - 758 konon menggunakan ukiran ubi sebagai alat stempel / mencetak!

Urida menggunakan bahan apa adanya: kertas tulis, kertas bungkus semen, pembungkus roti, dll. Mutu dan kondisinya yang rata-rata di bawah standard koleksi dalam album saya. Lagi pula harga Urida tidak lebih murah ketimbang lainnya. Dengan harga yang setinggi itu, saya lebih tertarik berbelanja jenis Netherlands Indies atau Indonesia lainnya yang lebih high profile.

Menjelang akhir 2003, melalui dunia maya dan perantara Javaman691, saya berkenalan dengan Mr. Rob Huisman (kawan dekat dari Hans van Weeren: seorang kolektor senior uang Indonesia). Ia cukup aktif melanglang di eBbay memburu Urida kita. Rasa penasaran terhadap minatnya inilah yang membuat saya ingin berkenalan lebih jauh padanya. Ternyata laki-laki yang mudah diajak berdiskusi ini justru kurang menyukai uang kertas dari Belanda, negeri tempat ia berasal. Ia lebih berminat dengan uang Indonesia sebelum kemerdekaan dan Urida. Selanjutnya Rob Huisman adalah orang yang mempengaruhi saya untuk menekuni jenis ini.

Saat itu saya merasakan betapa pengetahuan saya terhadap Urida tidak sepadan jika dibandingkan Rob. Saya mengingat dengan jelas, jenis pertama yang saya miliki adalah uang Djambi nominal Rp 25 (KUKI # H-580). Malam menjelang akhir tahun 2003, dari hasil berdiskusi dengannya saya memperoleh beberapa pengetahuan terhadap sistem penomoran Urida Djambi. (Ulasan ini ternyata pernah pula dibahas dalam "Jurnal Rupiah" yang ditulis oleh peneliti senior tentang numismatika dari Kota Pahlawan yakni Adi Pratomo)

Deretan huruf yang dipakai, ternyata tidak sembarangan rangkaian melainkan kode huruf sebagai alat kontrol peredaran uang. Dipergunakan pada uang kertas daerah Djambi H-575 s/d H-579. Adapun kode tersebut adalah sbb:

  • Huruf pertama: A — Z
  • Huruf kedua: N — Z, A — M
  • Huruf ketiga: Z — A
  • Huruf keempat: M — A, Z — N
  • Huruf kelima: Z — A (skipping character)

Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini:

Urida Djambi dengan berbagai kode huruf (gambar berasal dari Buletin ANI)
Huruf 1 Huruf 2 Huruf 3 Huruf 4 Huruf 5
ANZMY
BOYLW
CPXKU
DQWJS
ERVIQ
FSUHO
GTTGM
HUSFK
IVREI
JWQDG
KXPCE
LYOBC
MZNAA
NAMZZ
OBLYX
PCKXV
QDJWT
REIVR
SFHUP
TGGTN
UHFSL
VIERJ
WJDQH
XKCPF
YLBOD
ZMANB


Sedangkan sebagian H-575: Rp. 5,31 Maart 1948 dan H-579: Rp.5,20 Mei 1948, dipergunakan kode sisipan sbb.:

Urida Djambi menunjukkan sisipan (gambar berasal dari Buletin ANI)
Huruf 1 Sisipan Huruf 2 Huruf 3 Huruf 4 Huruf 5
AbNZMY
BcOYLW
CdPXKU
DeQWJS
EfRVIQ
FgSUHO
GhTTGM
HiUSFK
IjVREI
JkWQDG
KlXPCE
LmYOBC
MnZNAA
NoAMZZ
OpBLYX
PqCKXV
QrDJWT
RsEIVR
StFHUP
TuGGTN
UvHFSL
VwIERJ
WxJDQH
XyKCPF
YzLBOD
ZaMANB

Saya menyadari sepenuhnya bahwa mengoleksi jenis Urida sulit diharapkan akan membawa keuntungan dalam tempo singkat seperti halnya jika kita berinvestasi jenis Netherlands Indies. Idealisme adalah motivasi utama dalam upaya melestarikan Urida. Sebelum tulisan ini berakhir saya ingin mengemukakan dua pokok yang termuat dalam tulisan ini yang berkaitan dengan ketertarikan saya terhadap jenis Urida ini.

Pertama: ada rasa malu pada diri sendiri, mengapa mereka sebagai orang asing bersedia bersusah payah mengoleksi jenis ini, sedangkan saya sebagai orang Indonesia justru menyepelekannya? Apa jadinya jika saya yang mengaku sebagai seorang numismatis berasal dari Indonesia namun tidak memiliki pengetahuan apapun terhadap Urida jika berhadapan dengan mereka?

Kedua: ada rasa "tidak rela" jika Urida harus ke luar negeri dan masyarakat kita membiarkannya begitu saja karena ketidaktahuan atau tidak memiliki minat di bidang ini. Kata TIDAK RELA saya tulis dalam tanda kutip untuk menegaskan bahwa ketidak relaan itu bukan dalam arti rasa nasionalisme yang sempit / chauvinisme atau xenophobia, karena jika Urida dimiliki atau dicintai oleh numismatis seluruh dunia hal itu menunjukkan mereka telah ikut serta melestarikan warisan bangsa, dan menimbulkan kebanggaan tersendiri.

Ketidak relaan ini timbul dari rasa memiliki terhadap Urida dan ingin menularkan rasa ini kepada rekan numismatis Indonesia lainnya. Jika kita tidak memulainya (mencintai Urida) maka kelak untuk mendapatkannya kita harus mengetuk pintu toko mereka.

Jakarta 25 April 2005 Rupadhatu

Bagian kedua

Berkaitan dengan artikel mengenai uang daerah lebih khusus lagi uang Djambi yang dimuat pada bulletin ANIJ edisi 4-5 tanggal 15 September 2005, penulis menemukan adanya penyimpangan penomoran dan kode pengaman uang tersebut. Pada artikel tersebut ditulis sbb: "Sedangkan sebagian H-575: Rp 5 tanggal 31 Maart 1948 dan H-579: Rp 5 tanggal 20 Mei 1948 dipergunakan kode sisipan sbb"

Huruf 1 Sisipan Huruf 2 Huruf 3 Huruf 4 Huruf 5
AbNZMY
BcOYLW
CdPXKU
DeQWJS
EfRVIQ
FgSUHO
GhTTGM
HiUSFK
IjVREI
JkWQDG

Sekarang perhatikan gambar di bawah ini yang hanya menampilkan lima (5) macam huruf termasuk sisipannya "GhTTM". Artinya huruf keempat yang semestinya ada ternyata dihilangkan. Hampir dapat dipastikan hal ini disebabkan tidak disebabkan adanya kesalahan cetak, sebab penulis mendapati semua kode berawalan huruf "G" yang memiliki sisipan "h", memang hanya memiliki lima (5) huruf.

Urida djambi 3.jpg


Urida djambi 4.jpg Urida djambi 5.jpg

Urida Djambi Rp 5 Kuning 29 Mei 1948, KUKI H-579 hanya memiliki 5 huruf kode pengaman "GhTTM" (gambar berasal dari Buletin ANI)

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools