URIBA Lahir di Aceh

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

URIBA Lahir di Aceh

URIBA kependekan URI BARU. Disebut demikian karena satuanya ditambah kata “baru”. Rupiah Baru; tentunya URI emisi satu sampai empat adalah Rupiah Lama. Apa singkatanya ? R; Rp; atau apa? Dimana dicetak?

Uriba 01.JPG Uriba 02.JPG


Perkiraan bahwa URIBA dicetak di Aceh pertama kali kami dengar dari rekan Alim A. Sukmana, Jakarta. Berdasarkan pengamatanya, banyak lembaran URIBA Rp100 yang belum dipotong dan diberi nomer berasal dari Aceh. Perkiraan rekan kami jelas hanya senilai dugaan, walau kami bisa sependapat. Menilik nama bulanya yang masih “AUgustus”, sulit diterima kalau URIBA ini dicetak di Jawa. Nama “Djogjakarta” pun sejak emisi ke-3 (21/7/47) sudah diganti “Jogjakarta”. Akhirnya, dua tulisan Bapak M. Hasan Basry : “Dari Ori sampai Bon Kontan” dan “Kemudian : Masa Uang Disunat” dalam majalah Gatra, 13 April 1996 memperjelas riwayat URIBA yang selama ini gelap.

URIBA,tulisanya, adalah Uang Republik terakhir yang dicetak di Sumatra. Dicetak di Pertjetakan Atjeh Negara Republik Indonesia (PANRI),bekas “Atjeh Drukerij” sebelum diambil alih dan diganti nama “Atjeh Insatsu Bu” pada jaman Jepang. Sebelumnya, ditempat yang sama juga dicetak URIKA (URI Karesidenan Atjeh) dan URIPSU (URI Propinsi Sumatra Utara).

URIBA ditanda-tangani Loekman Hakim selaku Mentri Keuangan, bertanggal 17 Agustus 1949. Nama “Djogjakarta” tercantum karena ibukota negara, tak soal dicetak di Solo, Malang (Kendalpayak), Ponorogo (Kanten), dan sekarang di Kutaradja (sekarang : Banda Aceh), ibukota Karesidenan Atjeh, juga Propinsi Sumatra Utara.

Di Sumatra, URIBA diedarkan berdasarkan ketetapan Wakil Perdana Mentri, Sjafrudin Prawiranegara, No. 2/KU/WPM tanggal 22 Oktober 1949, dan dinyatakan sebagai mata uang satu-satunya untuk seluruh Sumatra. Di Aceh ditetapkan Rp1,- URIBA = Rp250 URIPSU. Ketika semua Uang Republik diganti Uang RIS, tercatat : Rp 1 RIS = Rp 125 URIPS (URI Propinsi Sumatra) = Rp 450 URIPSU= Rp 175 URIBA.

Buletin PPKMU yang mengutip harian Merdeka 27 Maret 1950 mencatat Rp1 RIS = Rp 125 URIPS = Rp350 URITA (URI Tapanuli)= Rp450 URIPSU= Rp 175 URIBA (?) Perhatikan bila Rp250 URIPSU = Rp1 URIBA maka Rp450 URIPSU= Rp1,8 URIBA. Rekan Alim Sumana tak tahu apa kepanjanan URISA (Rp1,75 URISA = Rp450 URIPSU). Apakah tak terjadi salah ketik atau salah kutip disini?

Buku Teuku Mohammad Ali Panglima Polim “Sumbangsih Aceh Bagi Republik”, 1996, bab 17” Mr.Sjafrudin-Prawiranegara Menukar Uang Kertas Aceh (URIBA) dengan Sandang Pangan” Kiranya bisa menjadi pelengkap. Pernyataan”......dicetak uang kertas yang dikenal dengan nama URIBA adalah saksi yang menguatkan. Pernyataan bahwa “Uang tersebut dicetak diatas kertas koran yang sebentar saja sudah hancur dan dibuang begitu saja atas kerugian si pemegang” agaknya lebih mengacu pada URIPSU.

URIBA agaknya URI persatuan yang dipersiapkan Sjafrudin; Wakil Perdana Mentri RI, kemudian Mentri Keuangan RIS. Perhatikan bila Rp1 RIS – Rp1,75 URIBA = Rp 2 NICA (karena gunting Sjafrudin), ini berarti tukar URIBA adalah tertinggi. Jadi URIBA lahir di Aceh.

Apakah URIBA beredar di Jawa ?? Kami kira tidak. Kalau buletin PPKMU tidak salah kutip, untuk Jawa menurut harian Mrdeka 27 Maret 1950 hanya ada URI pusat dan daerah dengan nilai tukar Rp1 RIS = Rp 125 URI. Jadi setara dengan URIPS. Bon yang dikeluarkan pemerintah Militer Daerah (Karesidenan) Surakarta tertanggal “1 November 1949” tetap bernilai Rupiah tanpa embel-embel “Baru”.

Uriba 04.jpg


Kalau URIN (URI Nias) ini benar-benar ada, jelas URIBA bukan URI Sumatra yang terakhir. Juga hanya “R” (singkatan Rupiah) tanpa kata “Baru”. Ketetapan yang menyatakan URIBA sebagai mata uang satu-satunya untuk seluruh Sumatra patut diragukan kalau terlaksana. Agaknya URIBA adalah URI Aceh yang terakhir. Seri URIBA yang telah terdata adalah pecahan 10 sen, ½, 1, 10, dan 100 Rupiahh. Hingga edisi ke-6 Katalog Pick tetap mendata pecahan Rp25 “Reported, not confirmed”

Ada 2 variasi warna tanda-tangan, merah dan hitam, juga seri nomernya; suatu yang umum pada URI cetakan Sumatra. Yang bertanda-tangan merah baru terdata pada pecahan 10 sen, ½, 1, dan 10 Rupiah. Yang bertanda-tangan hitam pecahan 10 sen, ½, 10, dan 100 Rupiah. Pecahan Rp1 yang bertanda-tangan hitam terdata “Reported, not confirmed”. Namun mengingat pecahan 10 sen, ½, dan 10 Rupiah muncul dalam 2 variasi warna, agaknya pecahan Rp1 yang bertanda-tangan hitam “hanya belum terdata”

Hanya pecahan 1, 10, 100 Rupiah yang berisi nomor. Dari pecahan Rp10 yang terdata lengkap dalam dua variasi, kita tahu yang berwarna hitam berisi nomor : “No”, 5 angka, dan 2 huruf besar. Yang merah : tanpa “No”, 6 angka, dan 2 huruf besar. Pecahan Rp100 yang berisi nomor tampil menyimpang. Kalau pada pecahan 1 dan 10 Rupiah yang tanda-tangannya merah seri nomornya merah, dan yang hitam juga hitam. URIBA Rp100 yang kami lihat bertanda-tangan hitam (juga yang tanpa seri nomor) namun seri nomornya merah (juga tanpa “No”, 5 angka, 2 huruf besar).

Uriba 03.jpg Uriba 05.JPG


Sekarang kita simak kutipan Bapak M. Hasan Basry berikut : “Dalam pengumuman Gubernur Aceh.......... Uang Republik hanya dapat ditukar dengan uang RIS dalam Jumlah yang dibulatkan seharga 5, 10, 15,......dan maksimum 50 uang RIS. Dan hanya satu kali kesempatan menukar...........ditetapkan pula, pengangkutan uang kertas Republik dalam jumlah diatas 10.000 dilarang..........” Dari data nilai tukarnya, jumlah maksimum yang dapat ditukar adalah Rp 6.250 URIPS, Rp9.000 URIPSU (Setara Rp 20 RIS; dibulatkan dan dibawah 10.000), atau Rp 87,50 URIBA (Kalau Rp1 RIS = Rp 1,75 URIBA)

Masalahnya, jika waktu itu ada memegang Rp100 URIBA berdasarkan ketentuan diatas anda tidak dapat menukarkanya. Mungkinkah? Mungkinkah Rp100 URIBA belum diedarkan? Lalu bagaimana dengan yang sudah berseri Nomor? Tetap Gelap.

Adi Pratomo

Jurnal Rupiah No. 6

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com


Personal tools