Uang Bambu Dari Tjirohani, Sukabumi

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

Jika anda melihat gambar benda yang akan diuraikan, maka jangan lekas terburu-buru mengira bahwa benda itu adalah sebuah sendok bekas es krim yang dipungkut dari tong sampah!! Dengan warna dekil kotor kehitam-hitaman, memang tak dapat disangkal jika benda itu dikatakan agak atau bahkan menjijikan. Seandainya benda itu ada di atas meja kerja anda, saya yakin benda ini akan langsung dilemparkan cepat-cepat ke keranjang sampah.

8B-191a.jpg

Sebelum kita bahas lebih jauh mengenai "benda menjijikkan ini", maka agar lebih gampang memahami apa yang akan diuraikan nanti, alangkah baiknya bila terlebih dahulu dijelaskan istilah-istilah yang akan sering digunakan, yaitu kata-kata numismatik dan token.

Numismatik adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang koin, token, uang kertas, dan alat-alat tukar lainnya, serta medali. Token dalam arti luas adalah alat yang biasanya dibuat oleh pihak swasta atau non-pemerintah, untuk tujuan sebagai alat tukar menukar, iklan jasa, atau untuk tujuan lainnya. Ciri khusus dari pada token adalah hanya berlaku dan terbatas pada suatu tempat dimana token tersebut dibuat.

Uang token (atau biasa disebut sebagai token), adalah suatu alat atau benda yang biasanya dikeluarkan oleh pihak swasta, untuk tujuan sebagai alat tukar menukar, dengan suatu nilai tertentu, dan dalam daerah peredaran yang sangat terbatas. Sebagai contoh token kasino adalah koin yang hanya dapat digunakan di kasino tempat token tersebut dicetak. Koin dari kasino A hanya dapat digunakan di kasino A. Koin kasino A tidak dapat digunakan di kasino B atau C, atau sebaliknya.

Token perjalanan, seperti tiket kereta api, bis, pesawat, kapal api dan sebagainya, mempunyai nilai dan hanya dapat digunakan di tempat tiket tersebut diterbitkan.

Jika istilah-istilah diatas telah dapat dipahami, maka marilah kita lanjutkan pembahasan tentang sebuah alat tukar yang sangat unik. Kita tidak bermaksud untuk membahas sebuah sendok es krim, melainkan pembahasan tentang sebuah "mata uang" yang dulu pernah beredar di "Lembur Kuring" Jawa Barat. Benda yang seperti sendok es krim itu adalah sebuah alat tukar yang dulu pernah berlaku di perkebunan Tjirohani, Sukabumi!

Uangbambu2.jpg

Alat tukar ini, atau dapat disebut sebagai token, dibuat oleh perkebunan Tjirohani, dan berlaku sebagai alat tukar hanya di area perkebunan Tjirohani saja. Jika pada umumnya suatu alat tukar dibuat dari logam atau kertas, maka token Tjirohani ini terbuat dari bambu dengan ukuran 1.5 cm X 10,50 cm. Pada kedua bagian muka dan belakanganya ditulis dengan menggunakan tinta cina "acht 8". Token tersebut mempunyai nilai nominal sebesar 8 sen. Token bambu ini dibuat sekitar tahun 1870-1885, yang pada waktu itu lebih dikenal dengan sebutan uang Bambu (Bamboogeld Token).

Fungsi Token

Mengapa dan apa gunanya token itu dibuat? Apakah pada waktu itu pemerintah sedang kekurangan uang sehingga dibuat semacam uang darurat? Di perkebunan Tjirohani, semua pekerja akan menerima pembayaran upahnya dengan menggunakan uang bambu tersebut. Setelah menerima uang bambu tersebut mereka dapat membeli barang-barang yang memang telah disediakan di kios-kios milik perusahaan, seperti rokok, garam, beras, jagung, pakaian dan barang-barang kebutuhan lainnya. Bahkan (mohon maaf), uang bamboo itu dapat juga dipakai sebagai alat pembayaran di tempat-tempat pelacuran yang ada disekitar perkebunan tersebut! Dengan pembayaran upah yang memakai uang bambu tersebut, maka perusahaan dapat mengontrol "lalu lintas" keluar masuknya tenaga kerja. Karena jika pembayaran upah menggunakan uang tunai, dikhawatirkan tenaga kerja tersebut langsung kabur atau pulang kampung segera setelah mereka menerima upahnya. Tentunya cara ini bukanlah ide yang baik yang dapat digunakan oleh para ibu-ibu rumah tangga dalam melakukan pembayaran upah kepada pembantu rumah tangganya!

Uangbambu3.jpg

Alasan lainnya, bahwa lokasi perkebunan pada umumnya jauh dari kota, sangat rawan kejahatan, dan transportasi pada waktu itu sangatlah terbatas. Bila setiap minggu harus bolak-balik ke kota untuk mengambil uang tunai, maka hal itu dirasakan sangat tidak praktis. Jika hal itupun dilakukan, maka dikhawatirkan terjadi pembegalan mengingat jauh dan sepinya tempat-tempat menuju perkebunan.

Kembali kepada perkebunan Tjirohani, bahwa dulunya Tjirohani merupakan daerah perkebunan karet. Sekitar tahun 1865 dilokasi Sinagar dilakukan penanaman "kina". Dalam perkembangannya, pada kira-kira tahun 1893 dikembangkan tanaman kopi dan coklat, dan akhirnya sekitar tahun 1928 mulai dilakukan penanaman teh secara besar-besaran. Perkebunan teh ini sampai sekarang masih dapat dinikmati di lokasi Tjirohani, Sukabumi.

Uang Bambu yang dibuat di perkebunan Tjirohani ada bermacam-macam bentuk dan ukurannya, tergantung dari nilai nominalnya masing-masing Token dengan nominal terkecil ½ sen, sedangkan nominal terbesarnya adalah 12 sen. Yang perlu diingat dari token bambu ini, bahwa keberadaanya sudah sangat langka sekali! Pada umumnya token terbuat dari bambu ini dijadikan pengorek bara api sebagai kayu bakar!

Uangbambu4.jpg

Saat ini, berdasarkan survey yang pernah dilakukan, hanya mendapatkan jumlah kurang dari 20-30 buah token bambu Tjirohani yang ada ditangan para kolektor atau museum-museum di Indonesia. Sebagian besar lainnya telah dimusnahkan oleh penduduk sebagai umpan kayu bakar !......

P.H
P.H Pengamat Numismatik

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools