Uang Daerah Bon Militer Aceh Timur

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

Bon ( Militer ) Aceh Timur

Bukti keberadaan “Bon Contan” yang dikeluarkan “Markas Pertahanan Atjeh Timur”, paling tidak diperkuat dengan dikeluarkannya “Maklumat Gubernur Atjeh No. 6-2-G.A – 1950 tertanggal 6 Mei 1950 di Kutaradja (= Banda Aceh). Lihat M. Hasan Basry, “Kemudian : Masa Uang Disunat”, Gatra, 13 April 1996. Maklumat itu tidak menyebut Bon Kontan yang diterbitkan di “Langsa, 2 January 1949” secara khusus. Tak jelas apakah karena hanya ada satu Bon Kontan itu diseluruh (waktu itu) Propinsi Aceh, atau karena ada bermacam-macam Bon Kontan lain. Yang jelas Bon Kontan ini masih dapat ditukarkan, atau digunakan untuk membayar “Penerimaan Negara” yang masih boleh “dilakukan dengan URIPS (R.) hingga tanggal 20 Mei 1950.

Maklumat itu pertama-tama membatalkan SK Gubernur Sumatra Utara No. 32/Oe tanggal 20 January 1949 (18 hari dari tanggal “Bon Langsa”), karena membuat “tidak lancarnya pemasukan Bon kontan ke Kas Negara di Kutaradja”, padahal pemerintah ingin “menarik Bon Kontan itu dari peredaran selekas mungkin”. Apa pasal ? (ini khas Sumatra). Kalau kami harus menduga, masalahnya kami kira adalah nilai tukarnya. Menurut tulisan pak Hasan Basry, ketika Uang Republik harus ditukar dengan Uang RIS (Maret 1950), nilai tukar Rp1,- RIS = Rp125URIPS = Rp450URIPSU. Berapa nilai tukar Rp1 Bon Langsa? Maklumat itu menegaskan nilainya setara dengan URIPS. URIPSU Rp250 menurut pak Hasan Basry dikeluarkan tanggal 1949 (sesuai tanggal UK-nya) di Kutaradja. Kami cenderung menduga SK tanggal 20 January 1949 yang dibatalkan itu mengaitkan Bon Langsa dengan URIPSU yang akan diedarkan. Siapa menyangka kalau kemudian URIPSU merosot nilainya (entah mengapa) hingga tinggal sekitar 30 %.

BonKontan 01.JPG
Sebelah kiri : Unused-notes Sebelah kanan : Used-notes

Agar pembaca dapat mengikuti kisahnya dengan lebih baik, marilah kita simak cerita bapak M. Hasan Basry, yang juga terangkum dalam “Uang Kita Pernah Berupa Bon Contan”, Intisari Mei 1992, bersama Sudarsono K. Kartodiwirio dan Slamet Soeseno.

Ketika URI lahir, pada tanggal 30 Oktober 1946 (Rabu Kliwon), untuk Propinsi Sumatra (juga daerah lain diluar Jawa dan Madura) nilai tukarnya ditetapkan Rp1,- URI = Rp100 Uang Jepang. Namun rupanya URI tak pernah beredar sampai ke Sumatra. Propinsi Sumatra mengelurakan URI Sumatra yang disebut URIPS. URI Propinsi Sumatra ini pertama kali dicetak di Pematang Siantar. Ketika Pematang Siantar jatuh pada Agresi Militer I (21 July 1947) Pemerintah RI Propinsi Sumatra, juga pencetakan URIPS, pindah ke Bukittinggi. Serbuan Belanda menyebabkan banyak daerah Republik terputus hubungannya dengan pemerintah propinsi di Bukittinggi.

Daerah Aceh yang kala itu berbentuk “Karesidenan” mencetak URIKA (URI Karesidenan Aceh) di “Koetaradja (Banda Aceh)” tertanggal “15 September 1947” dan “15 Djanoeari 1948”. Tahun 1948 Pemerintah RI Propinsi Sumatra mencetak “URIPS untuk daerah Atjeh” di Bukittinggi tertanggal “1-1-1948”. Jadi ada 2 macam URI yang beredar di Aceh, yang karena begitu sederhana banyak dipalsukan. Bapak M. Hasan Basry mencatat penarikan URIPS Aceh pecahan 21/2, 5, dan 10 rupiah. Pecahana inilah mungkin yang pada bulan Maret 1948 ditarik dari peredaran untuk diperiksa. Yang tidak palsu diedarkan kembali setelah dicap dengan lak merah. Menyusul pecahan Rp25 diubah warnanya, juga letak seri nomernya; yang lama tetap berlaku. Kemudian terhitung mulai 8 September 1948 URIPS Aceh pecahan Rp2. Rp50 dan URIPS cetakan Pematang Siantar pecahan Rp5 ditarik dari peredaran. Namun tidak berarti tiap pengumuman dapat terlaksana hingga selesai.

Daerah Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo dibentuk setelah Agresi Belanda I tahun 1947. Tahun 1948 Sumatra dibagi menjadi tiga propinsi : Sumatra Utara; Tengah, dan Selatan. Akhir 1948 di Kutaradja berkedudukan Residen Aceh yang dijabat T. Tjik Mohd. Daoedsyah, Gubernur Sumatra Utara, Mr. S.M. Amin, dan Guberur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Tgk. M. Daoed Beureu’eh. Kemudian pada awal 1949 Mr. Sjafruddin Prawiranegara selaku Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Militer II. Langsa, Markas Pertahanan Aceh Timur, adalah pos terdepan untuk menghadapi NICA yang bercokol di Medan. URIPSU (URI Propinsi Sumatra Utara) yang hanya dikenal dengan 2 macam UK dengan nilai yang sama, Rp250, tertanggal 1 Maret 1949. Sekarang anda tentu maklum mengapa Markas Pertahanan Aceh Timur di Langsa diijinkan menetak BON CONTAN tertanggal “2 January 1949”.

....... PIC ..........

Mengacu pada tulisan bapak M. Hasan Basry, kedua Bon Militer ini dicetak di Percetakan ATC (Atjeh Trading Company), Langsa. Ditanda-tangani dengan cap oleh Mayor Usman Adamy, Kepala Keuangan Divisi X, dan Bupati Aceh Timur, Tengku Maimun Habsjah, sebagai saksi. Menurut buku M. Nur El Ibrahimy, “Teungku Muhammad Daud Beureueh”, Gunung Agung, Jakarta 1986, Mayor Usman Adamy adalah Direktur ATC dan Kepala Perlengkapan Divisi X TNI Sumatra dengan komandan “Djendral Major Tgk. M. Daoed Beureu’eh”.

Dalam SK dan SP-nya Gubernur Militer “Atjeh, Kaboepaten Langkat, dan Tanah Karo” (demikian semula disebut) hampir selalu mencantumkan jamnya, dan singkatan ”W.I” (Waktu Indonesia; semula malah “waktoe Soematra”). Perhatikan bahwa nama bulanya tidak “Djanuari”, yang mengingatkan kita pada URIBA yang memakai “Augustus”.

Kedua Bon Militer ini agaknya hanya berseri “AT” dengan 5 angka untuk pecahan Rp100 dan 6 angka untuk yang Rp250. Warna seri nomernya sama dengan warna UK nya : merah (Rp100) dan hijau (Rp250). Katalog Pick edisi 7 mendata warna hitam, selain hijau, untuk pecahan Rp250. Menilik bentuk huruf yang dipakai pada serinya serupa dengan yang dipakai pada tulisan “Dua Ratus Lima Puluh Rupiah”, dan warnanya yang sama, agaknya paling tidak serinya ikut dicetak. Yang juga menarik adalah penggunaan huruf miring untuk tulisan “Markas Pertahanan Atjeh Timur” sebagai hiasan tepi pecahan Rp100, yang karena tak sempurna diganti dengan huruf tegak pada pecahan Rp250. Yang disengaja agaknya pemakaian huruf “t” miring pada kata “Bu-pa-t-i” pecahan Rp100, dan ditambah huruf “e” miring pada kata “Atj-e-h” pecahan Rp250, entah untuk apa.

Ketika URIPSU beredar, kami kira semula Rp1 URIPSU = Rp1 URIPS, Bon Militer inipun kehilangan fungsinya, dan mungkin sekali tidak dipakai lagi. Tak heran banyak dijumpai Bon Contan yang masih kosong belum ditanda-tangani, dan dalam keadaan yang mulus pula. Terbitnya Maklumat Gubernur Aceh mungkin sekali karena ketidakpuasan pemegang Bon Contan kalau nilai rupiahnya harus dihargai serendah URIPSU, dan mungkin memang Bon Contan yang sempat beredar tidaklah sebanyak URIPSU yang mengalami inflasi (Rp100 URIPS=Rp360 URIPSU). Berapa banyak? Kita perlu mendatanya. Saat ini terdata : (960622)

  • Rp100 :
    • | | | dengan tt.
    • |32004|41661 | tanpa tt.
  • Rp250 :
    • |009786|012124| dengan tt.
    • |066106|066106| tanpa tt

Adi Pratomo

Jurnal Rupiah No. 11 (22 Juni 1996)

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com


Personal tools