Uang Perkebunan

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.
Menjinakan sang kuli dengan UANG PERKEBUNAN
UangPerkebunan 02.jpg

Buku Menjinakan Sang Kuli – Politik Kolonial, Tuan Kebun, dan Kuli Di Sumatra Timur pada awal Abad ke-20 ( Jan Bremen, Grafiti, Jakarta 1997 ) mungkin satu dari sedikit pustaka dalam bahasa Indonesia yang bisa bercerita tentang Uang Swasta yang kita kenal sebagai Uang Perkebunan.

Nama (karesidenan) Sumatra Timur masih dipakai hingga awal kemerdekaan, meliputi kurang lebih Propinsi Sumatra Utara sekarang. Di Eropa daerah ini lebih dikenal dengan nama Deli, nama salah satu kerajaan disana. Tak lain karena hasil budidaya tembakaunya yang laku dijual f. 1,50 /pon dibanding tembakau asal Jawa yang hanya 50C / pon. Berbeda dengan rempah-rempah yang asli Nusantara, Tembakau ( nicotiana tabacum ) dan karet ( Hevea brasiliensis ) adalah warisan lokal.

Kekuasaan Pemerintahan Hindia-Belanda di Sumatra berubah seiring dengan Perjanjian antara Belanda dan Inggris, atau lebih tepat perebutan pengaruh Belanda dan Inggris atas kerajaan-kerajaan di kedua sisi Selat Malaka. Traktat London 1824 misalnya, menukar Bengkulu-nya Inggris dengan Malaka-nya Belanda.

Pada kedua sisi Selat Malaka berdiri kerajaan-kerajaan Melayu yang saling bersaing. Kerajaan-kerajaan di pesisir Sumatra timur itu juga berusaha meluaskan pengaruhnya ke pedalaman yang dihuni suku Batak. Namun kerajaan-kerajaan itu juga menjadi ajang rebutan pengaruh Kerajaan Aceh di Utara dan Kerajaan Siak di Selatan.

Tahun 1745 Kerajaan Johor menyerahkan Siak kepada VOC, namun tidak terurus karena tidak menguntungkan secara ekonomi. Tahun 1858 Siak sekali lagi mangakui kedaulatan Belanda, disusul Deli (1862), lalu Serdang dan Asahan (1865). Perang Aceh yang pertama kali meletus tahun 1873 kiranya perlu pula dicatat.

Undang-undang Agraria tahun 1870 secara resmi mengakhiri masa Tanam Paksa yang agaknya hanya di Kawa. Patut kiranya dicatat bahwa tema besar dunia Barat ketika itu adalah penghapusan perbudakan. Pembebasan 776.000 budak di perkebunan-perkebunan Karibia-nya Inggris pada 31 Juli 1834 bisa menjadi salah satu contoh nyata. Selain perang Saudara di Amerika (1861-5) dan “Emancipation Proclamation” ( Pernyataan Emansipasi )-nya Abraham Lincoln pada 1 January 1863, buku “Manifest der Komunistischen Partei” ( Manifesto Partai Komunis )-nya Karl Marx dan Fredrich Engels yang terbit di London tahun 1848 patut dicatat sebagai warisan masa-masa itu.

Banyak sebab yang terkait dengan masalah ini. Penemuan mesin ( yang dikenal dengan revolusi Industri ) membutuhkan lebih sedikit buruh dibanding budak-budak yang dipekerjakan di kebun-kebun para tuan tanah, namun di sisi lain membutuhkan lebih banyak pembeli ( pasar), termasuk para budak. Jumlah budak yang terus bertambah juga mengganggu keseimbangan ras. Simak saja kutipan berikut : “Around 1800 about half the population of Brazil consisted of slaves, but that percentage declined......after the shutting off of imports around 1850 combined with free immigration to raise the proportion of Europeans”.

Konon, “The Dutch emancipated their slaves in 1863”. Tak jelas bagi kami apa dampaknya di Hindia . Anda mungkin perlu merenungkan apa maknanya dari Budak menjadi buruh. Kata Kuli ( Koelie – nya Belanda; Coolie-nya Inggris ) berasal dari bahasa Cina yang artinya “tenaga kasar”. Kelompok pertama para kuli kontrak di Sumatra Timur memang dikuasai orang-orang Cina yang dikerahkan lewat perantara di Penang dan Singapura, kemudian langsung dari Cina. Namun kelompok berikutnya lebih banyak dari Jawa. Konon, orang Melayu ( suku Penguasa ) menolak kerja upahan dan orang Batak ( pribumi yang masih berpola gotong-royong sesuku) menganggapnya tak layak. Kiranya patut direnungkan bahwa para budak di Amerika adalah orang Negro Afrika, bukan Indian.

Menurut penilaian mereka, kuli Cina lebih disukai karena ketrampilan dan ketekunanya, tapi orang Jawa lebih penurut. Juga, kuli Jawa biasanya datang bersama keluarga, yang bisa dimanfaatkan tuan kebun sebagai tenaga tambahan pada musim sibuk. Tuan kebun agaknya kurang suka pada perempuan Cina yang cenderung menghasut suaminya agar meninggalkan perkebunan setelah kontrak selesai dan menetap di tempat lain sebagai petani sayur atau tukang.

Dengan traktat Sumatra 1871 mulai nampak bagaimana pembagian wilayah antara Malaka-nya Inggris dan Hindia-nya Belanda di kedua sisi Selat Malaka. Namun agaknya tak mudah mengabaikan ikatan perdagangan antara Sumatra Timur dan Penang, Singapura, Malaka ( yang disebut Straits Settlements – Hunian Selat ) dengan Jaringan perdagangan Cina-nya.

Upah dibayar dalam dollar, mula-mula Dollar Meksiko ( Marinus & van der laan ( 1829 ) juga menyebutkan Dollar Jepang ) kemudian Dollar Straits, atau setidaknya dinyatakan dengan mata uang itu. Hingga 1890 Dollar Meksiko setara dengan 2,,2 Gulden Hindia. Tahun-tahun berikutnya nilai tukarnya turun menjadi 1.25 Gulden Belanda.

Konon Kuli Jawa merasa tertipu karena para calo menyebutkan upah dalam dollar dan uang panjar mereka pun dihitung dengan nilai tukar ( 2 Gulde Hindia ! ). Nyataya menurut Endt ( 1919 ), nilainya nyaris sama dengan Gulden Hindia. Konon pula karena kata Jawa untuk Dollar adalah ringgit.

Melongok “World Coins”, Gulden Belanda adalah Perak 94,5 % ( diturunkan 72% sejak 1922) seberat 10 gram. Dollar Republik Meksiko yang 8-Real ( dicetak hingga 1897 ) yang selanjutnya ditulis 1 Peso ( sejak 1869 ) adalah Perak 90,3% seberat 27.07 gram ( dalam tara perak = 2,59 Gulden ), kemudian menjadi 18,13 gram Perak 80 % tahun 1918-9 ( = 1,53 Gulden ) dan 16,66 gram Perak 72 % sejak 1920 ( = 1,27 Gulden ). Yen atau Dollar Jepang adalah 26,9568 gram Perak 90 % ( = 2,57 Gulden ), namun sejak 1897 lebih dinilai sebagai Perak daripada Uang. Begitu pula Dolar Inggris yang dicetak di India ( 26,9568 gram Perak 90 % dengan tanda tahun 1895-1935 ).

Untuk memahami nilai tukar kala itu, berikut kami data Dolar Straits Settlements dan Gulden Hindia / Belanda :

UangPerkebunan 01.jpg

  • Pada katalog tertulis 90,0 % yang kami ragukan. Angka 2,28 – 1,92 – 1,17 jelas mengacu pada nilai tukar Dolar Straits yang menurut kutipan diatas setara 2,25 – 2 – 1,25 Gulden. Kembali kita melihat, telaah sosial politik tanpa pendalaman numismatik hanyalah omongkosong. Dan kita tentunya tahu bahwa gejolak tata perak masa itu terjadi sebagai dampak Perang Dunia I di Eropa.

Menurut para tuan kebun, mereka mengeluarkan alat tukar perusahaan ( Uang Perkebunan ) karena ada kekurangan mata uang kecil di Sumatra Timur. Bentuk penipuan lain yang dilakukan tuan kebun ialah kuli tidak diberi kebebasan membelanjakan upahnya........ Banyak perkebunan menggaji kulinya sebagian dengan uang buatan sendiri berupa kertas bon atau keping logam yang hanya dapat dibelanjakan di kedai perkebunan. Menurut para tuan kebun, mereka mengeluarkan alat tukar perusahaan karena ada kekurangan mata uang kecil di Sumatra Timur. Konon, Satu Dollar terdiri atas 100 “kupang” atau 1.000 “Duit”, dan keduanya itu disebut juga “Duit”

“Pernah terjadi, untuk mencegah ledakan ketidaksabaran, seorang majikan menggunting kaleng biskuit menjadi keping-keping bulat pipih, menuliskan angka-angka diatasnya, dan membayarkanya kepada para kuli Cina. Ia mengatakan, para kuli bisa menukarkan kepingan itu di Malaka. Kuli-kuli pun menyebrang ke Malaka tetapi beberapa hari kemudian datang kembali dengan kecewa. Tetapi, muslihat majikan sudah berhasil, yakni mendapatkan dolar dan mata uang logam yang diperlukanya ( Broersma 1919 )”.

Tetapi maksud pokok mengeluarkan uang sendiri adalah memaksa kuli berbenlanja. Tuan kebun memborongkan hak berdagang di perkebunan kepada seorang pelamar, biasa seorang ( kepala ) pengawas, yang kemudian mengusahakan kepada istrinya atau sanaknya yang lain. Para kuli hanya dapat berbelanja disitu untuk keperluan mereka sehari-hari.

Praktek ini juga berlaku untuk bon beras- sebagian dari upah biasanya dibayar dengan bon tersebut. Majikan berdalih bahwa mereka melakukanya untuk mencegah kuli menjudikan atau membelanjakan penghasilanya untuk membeli madat. Majikanpun mengaku membeli beras dengan harga lebih tinggi dari harga jualnya kepada kuli.....

Pemilik kedai dengan mudah memberi kredit untuk beberapa macam barang, dan mereka memberi harga yang lebih tinggi dari harga di kota terdekat. Kuli dapat menukarkan bon atau keping logamnya di kedai perkebunan, tetapi mereka menerima uang yang nilainya jauh lebih rendah. Sering penukaran demikian merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh uang kontan.

Kedai perkebunan hanyalah satu dari mata rantai jaringan hutang yang memerangkap kuli, dan rasa tak puas kadang-kadang meluap juga. Pada 1902, kuli disebuah perkebunan menyerang administratur karena dia membayar hanya dengan uang kedai, tidak seperti biasanya, sebagian dengan mata uang perak atau tembaga dan sebagian lagi dengan kertas bon....... Serangan para kuli terhadap kedai perkebunan selalu saja terjadi. Desakan dari pemerintah agar perkebunan membayar upah dengan mata uang yang berlaku tidak dihiraukan oleh para majikan. Dengan mengeluarkan bon kedai atau bon “estate” ( perkebunan ) mereka memperkokoh cengkeraman atas para kuli. Maka belanja paksa pun berjalan terus ( Van der Brand 1907 ).

Upah tak boleh dibayarkan lewat pengawas, tetapi orang ini selalu hadir hingga dia langsung dapat menagih piutangnya. Tetapi, majikanlah yang pertama-tama menyita sebagian daari upah kuli....... Potongan terpenting tiap bulan dalam rekening kuli ialah angsuran untuk melunasi uang muka yang pernah diterimanya sewaktu dikontrak.......... Banyak kuli yang hampir tak bisa membebaskan diri dari hutang selama masa kontrak yang berlaku tiga tahun itu....

Pustaka lain kami tentang Uang Perkebunan adalah Scholten “( bab 9 – Particuliere Munten van Ondernemingen in Nederlandsch-Indie )”. ; Sayang hanya yang berupa Uang logam. Uang swasta ini ternyata tak hanya dipakai di Sumatra ( Asahan, Batu Bara, Deli, Langkat, Padang-Bedagei, Serdang ), tetapi juga di Kalimantan, Maluku ( Bacan ), dan Jawa ( Priangan, Pasuruhan ). Jadi semestinya dianggap cukup berhasil, walau dari uraian diatas merugikan para kuli.

Ada hikmah yang bisa dipetik. Uang yang tidak bernilai penuh menyebabkan adanya ikatan antara si pemegang dan si pembuat. Ikatan itu menjadi keterikatan apabila si pemegang berada di pihak yang lemah dan tak ada payung hukum yang memadai.

Scholten mendata sejumlah 51 pembuat dan 195 mata uang, yang rasanya juga bukan daftar yang lengkap. Bila berminat anda dapat menghimpunya dalam sebuah koleksi khusus. Terkait dengan uang logam Swasta yang didata Scholten, rasanya Uang NHM ( Nederlandsche Handel – Maatschappij, sub-agentschap Medan yang didata KUKI 1996 adalah Uang Kertas Swasta, walau dari nilai pecahanya : 1 – 2,50 – 5 – 10 – 25 – 50 – 100 dolla [ s ] sulit disebut uang para kuli. Kita mungkin bisa menelusurinya lewat tiga bahasa lain yang tersedia disana : ( menurut penyusunnya ) Cina, Tamil, dan Arab.

Adanya Uang Perkebunan dan Uang NHM Medan yang bernilai Dolar seharusnya menyadarkan kita tentang kawasan edar UK De Javasche Bank pada koleksi kita. Seperti namanya yang Bank Jawa, mungkin peredaranya semula hanya terpusat di Jawa. Juga melihat nilainya yang 5 Gulden keatas, boleh jadi bukan uang rakyat ( jelata ).

Berikut Uang Perkebunan yang sempat dihimpun Scholten : ( S. Scholten : De Munten van de Nederlanfsche Gebiedsdeelen Overzee 1601-1948, J. Schulman, Amsterdam 1951, bab 9 )

  • 1. Aer Kesoengei ( Asahan, Sumatra )
    • 1. 1Dollar, geel koper ( kuningan )
    • 2. 50 cents, nikkel ( nikel )
    • 3. 20 cents, kuningan
    • 4. 10 cents, koper ( tembaga )
    • 5. 5 cents, nikel
  • 2. Amsterdam-Borneo Tabak Mij. – Marienburg ( Borneo )
    • 6. 1 Dollar, kuningan
    • 7. 50 cents, nikel
    • 8. 20 cents, kuningan
    • 9. 10 cents, tembaga
    • 10. 5 cents, tembaga
  • 3. Argasari, thee-onderneming ( perkebunan teh ) ( Preanger, Java )
    • 11. ½ Arbeidsloon ( upah kerja ), kuningan : Nederlandsche en Javaansche opschrift en waarde-aanduilding. Twee gekruitse houweelen. Vierkant gat in het midden. Tulisan Jawa dan Belanda dan nilainya. Dua cangkul saling silang. Lubang segi-4 di tengah
    • 12. 20 centen, blik ( kaleng )
    • 13. Zonder waarde-aanduiding ( tanpa nilai ), kaleng
  • 4. 1 Gulden, nikel
  • 5. Bandar Poeloe ( Asahan Sumatra )
    • 15. 1 Dollar, kuningan
    • 16. 50 cents, nikel
    • 17. 20 cents, kuningan
    • 18. 10 cents, tembaga
    • 19. 5 cents, nikel
  • 6. Bedagei ( Padang-Bedagei – Sumatra ) Van Angelbeek & Brijner
    • 20. 1 Dollar, tin (?) ( Timah )
    • 21. 20 cents, timah (?)
    • 22. 5 cents, kuningan
  • 7. Begerpang Estate, Societe des tabacs de Deli ( Perkumpulan Perkebunan Tembakau Deli ) ( Serdang, Sumatra ).
    • 23. 1 Dollar, kuningan
    • 24. 50 cents, kuningan
    • 25. 20 cents, kuningan
    • 26. 10 cents, kuningan
    • 27. 5 cents, kuningan
  • 8. Binjei ( Asahan, Sumatra )
    • 28. 1 Dollar 1890, nikel
    • 29. 1/2 Dollar 1890, nikel
    • 30. 20 cents 1890, nikel
    • 31. 10 cents 1890, nikel
    • 32. 1 Dollar Reis 1890, kuningan : De waarde-aanduilding 1 Dollar Reis = 1 Dollar rijst ( beras ). Met centraal vierkant gat ( lubang segi-4 di tengah )
  • 9. Blimbing ( Batoe Bahra, Sumatra )
    • 33. 1 Dollar, kuningan
    • 34. 50 cents, tembaga
    • 35. 20 cents, tembaga
    • 36. 10 cents, kuningan
    • 37. 5 cents, timah
    • 38. 1 cents, tembaga
  • 10. Deli-Bedagei Tobacco Plantation Ld ( ltd ) ( Sumatra )
    • 39. 1 Dollar, timah
    • 40. 50 cents, timah
    • 41. 20 cents, timah
    • 42. 10 cents, kuningan
    • 43. 5 cents, kuningan
  • 11. Dolok Estate ( Batoe Bahra Sumatra )
    • 44. 1 Dollar, kuningan
    • 45. 1 Dollar, nikel : Ook aan Borneo toegeschreven ( dipakai di Borneo ? )
  • 12. Galang Exploitarie Maatschappij. Thee-onderneming ( Java )
    • 46. 5 (centen), kuningan : Waarde-cijger waarop driemaal G E M, omschrift ( naan ). Kz. G.E.M. boven drie theebladjes. Centraal doorboring. Angka nilai dikelilingi tulisan G E M 3-kali. Sisi balik : tulisan G.E.M. diatas 3-daun teh. Berlubang bulat ditengah.
  • 13. Gallia ( Serdang, Sumatra )
    • 47. 1 Dollar, kuningan
    • 48. 50 cents, kuningan
    • 49. 20 cents, kuningan
    • 50. 5 cents, kuningan
  • 14. Goerach Batoe ( Asahan, Sumatra )
    • 51. 1 Dollar 1890, nikel
    • 52. 1/2 Dollar 1890, nikel
    • 53. 20 cents 1890, nikel
    • 54. 10 cents 1890, nikel
    • 55. 1 Dollar Reis 18900, kuningan : vierkant ( segi-4 )
  • 15. Hessa ( Asahan, Sumatra )
    • 56. 1 Dollar 1888, nikel
    • 57. 1/2 Dollar 1888, nikel
    • 58. 20 cents 1888, nikel
    • 59. 10 cents 1888, nikel
    • 60. 1 Dollar reis 1888. Tembaga
    • 61. 1 Dollar 1890, nikel
    • 62. 1/2 Dollar 1890, nikel
    • 63. 20 cents 1890, nikel
    • 64. 10 cents, nikel
    • 65. 1 Dollar Reis 1890, nikel : Vijfhoekig ( segi-5 ). Duitsch opschrift ( tulisan Jerman )
============================== PIC_03==========
  • 16. Huttenbach & Co. ( Langkat, Sumatra )
    • 66. 1 Dollar, kuningan
    • 67. 50 cents, timah
    • 68. 20 cents, kuningan
    • 69. 10 cents, tembaga
    • 70. 5 cents, timah
  • 17. Jeloek Dalem ( Asahan, Sumatra )
    • 71. 1 Dollar, nikel
    • 72. 50 cents, tembaga
    • 73. 20 cents, kuningan
    • 74. 10 cents, nikel
    • 75. 5 cents, tembaga
  • 18. Kisaran ( Unternehmung ) ( Deli, Sumatra )
    • 76. 1 Dollar 1888, vernikkeld koper ( tembaga lapis nikel ) : Tulisan Jerman ; Gut Fur 1 Dollar.
  • 19. Kwala-begoemit ( Langkat, Sumatra )
    • 77. 1 Dollar bras, kuningan. Segi-4 : Tulisan Jerman : Gut fur 1 Dollar
    • 78. 50 cents, kuningan
    • 79. 20 cents, kuningan
    • 80. 10 cents, kuningan
    • 81. 5 cents, kuningan
  • 20. Lima Poeloe ( Batoe Bahra, Sumatra) Deli Batavia Maatschappij
    • 82. 500 Duiten, kaleng
    • 100 Duiten, kaleng
    • 50 Duiten, kaleng
  • 21. Lingga ( Langkat, Sumatra )
    • 85. 1 Dollar, kuningan
    • 86. 50 cents, kuningan
    • 87. 20 cents, kuningan
    • 88. 10 cents, kuningan
  • 22. Netherlands India Sumatra Tobacco Comp. ( The ) Lim
    • 89. 50 cents, kuningan
    • 90. 25 cents, timah
    • 91. 10 cents, tembaga
  • 23. Parakan Salak, thee-onderneming ( Preanger, Java )
    • 92. 10 centen, kuningan
    • 93. 5 centen, kuningan
    • 94. 2 ½ centen, kuningan : Met holle letters ( huruf Cekung ) 10 en ‘ PARAJAN SALAK ( melingkar )
    • 1 cents. Als voren ( sama seperti di atas ) met P 1 S
    • . 1/2 cent. Als voren met P ½ S
  • 24. Poeloe Radja ( Asahan, Sumatra )
    • 97. 1 Dollar 1890, nikel
    • 98. ½ Dollar 1890, nikel
    • 99. 20 cents 1890, nikel
    • 100. 10 cents 1890, nikel
    • 101. 1 Dollar Reis 1890, kuningan ( lubang bulat ditengah-tulisan Jerman
  • 25. Poeloe Samboe : Tengevolge van den Wereldoorlog 1914-18 ontstond op dit Nederlandsche Petroleum-eiland. Ongev. 10 mijl van Singapore, groot gebrek aan klein geld om de koelies te betalen. De verdere uitgifte werd spoedig door het Gouvernement verboden. Kurang lebih : Akibat Perang Dunia 1914-18 menyebabkan pulau minyak sekita 10 mil dari Singapore ini mengalami kelangkaan uang kecil. Kebijakan ini berlangsung singkat karena dilarang pemerintah.
    • 102. 1 cent, timah : Waarde-aanduiding 1 in een cirkel ( dalam lingkaran ), rondom ( melingkar ) _. SAMBOE Eenzijdig ( satu sisi ). A. Variant met P. SAMBOE (huruf ] sebagai 0 )
    • 103. 1/2 cent. Groote S ( S besar ) in een cirkel
  • 26. Rimboen ( Deli, Sumatra )
    • 104. 1 Gulden, tembaga
    • 105. 50 centen, tembaga
    • 106. 20 centen, tembaga
    • 107. 10 centen, tembaga
  • 27. Roema-kinangkong ( Deli, Sumatra)
    • 108. 1 Dollar, nikel-zink ( nikel-seng )
    • 109. 50 centen, nikel-seng
    • 20 centen, nikel-seng
    • 10 centen, nikel-seng
  • 28. Rotterdam-Borneo Maatschappij
    • 112. 1 Dollar, nikel
    • 113. 1/2 Dollar, nikel
  • 29. Saentis –Estate ( Deli, Sumatra )
    • 114. 1 Dollar (Reismarke ), kuningan : Reismarke = Teeken voor rijst ( tanda untuk beras )
  • 30. Semaian Rotterdam Estate. San Chong Hong ( Deli, Sumatra )
    • 115. 5 cents 1889, timah
    • 116. 1 cents 1889, timah
  • 31. Silau ( Asahan, Sumatra ) Asahan Tabak Maatschapppij
    • 117. 1 Dollar, nikel
    • . 1/2 Dollar, nikel
    • 119. 1/5 Dollar, nikel
    • 120. 1/10 Dollar, nikel

Tulisan Belanda dan Cina

  • 32. Simpang-tiga ( Asahan, Sumatra )
    • 121. 1 Dollar, kuningan
    • 122. 50 cents, nikel
    • 123. 20 cents, tembaga
    • 124. 10 cents, tembaga
    • 125. 5 cents, nikel

Tulisan Cina

    • 126. 1 Dollar, nikel
    • 127. 50 cents, nikel
    • 128. 20 cent, nikel
    • 129. 10 cent, nikel
    • 130. 5 cent, nikel

Maleisch opschrift ( Tulisan Melayu )

  • 33. Soember-Doeren ( Pasoeroehan, Java )

131. 50 cents, tembaga

    • 132. 25 cents, tembaga
    • 133. 10 cents, tembaga

Ook aan Borneo toegeschreven ( Dipakai di Borneo ? )

  • 34. Soember-Redjo ( Pasoeroehan, Java )
    • 134. 50 cents, tembaga
    • 135. 25 cents, tembaga
    • 136. 10 cents, tembaga

Ook aan Borneo toegeschreven ( Dipakai di Borneo ? )

  • 35. Soember-Soeka ( Pasoeroehan, Java )
    • 137. 50 cents, tembaga
    • 138. 25 cents, tembaga
    • 139. 10 cents, tembaga

Ook aan Borneo toegeschreven ( Dipakai di Borneo ? )

  • 36. Soember-Tangkep ( Pasoeroehan, Java )
    • 140. 50 cents, tembaga
    • 141. 25 cents, tembaga
    • 142. 10 cents, tembaga
    • 143. 5 cents, tembaga

Ook aan Borneo toegeschreven ( Dipakai di Borneo ? )

  • 37. Soember-Tempoer ( Pasoeroehan, Java )
    • 144. 50 cents, tembaga
    • 145. 25 cents, tembaga

Ook aan Borneo toegeschreven ( Dipakai di Borneo ? )

  • 38. Soengei Bamban ( Pasoeroehan, Java )
    • 146. 50 cents, timah ( alumunium ? )
    • 147. 10 cents, timah ( alumunium ? )
    • 148. 5 cents, timah ( alumunium? )
  • 39. Soengei Boenoet ( Asahan, Sumatra )
    • 149. 1 Dollar 1891, kuningan
    • 150. 50 cents 1891, nikel
    • 151. 20 cents 1891, tembaga
    • 152. 10 cents 1891, kuningan
    • 153. 5 cents 1891, nike;
  • 40. Soengei Sidkie ( Deli, Sumatra )
    • 154. 1 Dollar, tembaga
    • 155. 50 cents, tembaga
    • 156. 25 cents, tembaga
  • 41. Soengei Sikambing, Gambir Namoe Soeran & Soengei Poetih ( Deli, Sumatra )
    • 157. 4 Gantang brass, kuningan
    • 158. 3 Gantang bras, kuningan
    • 159. 2 Gantang bras, kuningan

De Guigne Freres. Met eenige Chineesche letterteekkens. 1 Gantang bras = kurang lebih 8,5 liter gepelde reijst

  • 42. Tabo ( Borneo ) Handelsonderneming “Amsterdam” Tabakonderneming
    • 160. 10 cents, kuningan
  • 43. Tanah Radja ( Asahan, Sumatra )
    • 161. 1 Dollar 1890, nikel
    • 162. 1/2 Dollar 1890, nikel
    • 163. 20 cents 1890, nikel
    • 164. 10 cents 1890, nikel
    • 165. 1 Dollar Reis 1890, nikel

Tulisan Jerman. Driehoekig ( segi-3 )

  • 44. Tandem Estate. Deli Batavia Maatschappij ( Deli, Sumatra )
    • 166. 500 Duiten ( 1/2 Dollar ), Kaleng
    • 167. 100 Duiten ( 1/10 Dollar ), kaleng
    • 168. 50 Duiten ( 1/20 Dollar ), kaleng
  • 45. Tandjong Kuba ( Padang & Bedagei, Sumatra )
    • 169. 100, nikel
    • 170. 50, kuningan
    • 171. 20, nikel
    • 172. 10, kuningan
  • 46. Tandjoeng Kasau ( Batoe Bahra, Sumatra )
    • 173. 1 Dollar, nikel
    • 174. 50 centen, nikel
    • 175. 25 centen, nikel
    • 176. 10 centen, nikel
    • 177. 5 centen, nikel
  • 47. Titian-oerat ( Serdang, Sumatra )
    • 178. 1 Mark, kuningan
    • 179. 50 ( Pfennige ), kuningan
    • 180. 25 ( Pfennige ), kuningan
    • 181. 10 ( Pfennige ), kuningan
  • 48 Tjinta-Radja ( Langkat, Sumatra )
    • 182. 20 cents, tembaga, brons ( perunggu )
    • 183. 10 cents, tembaga, perunggu
    • 184. 5 cents, tembaga, perunggu
    • 185. 3 cents, tembaga, perunggu
  • 49. Toentoengan, Eong Hong ( Deli, Sumatra )
    • 186. 20 cents, kuningan
    • 187. 10 cents, kuningan
    • 188. 5 cents, kuningan
  • 50. Wampoe ( Langkat, Sumatra )
    • 189. 1 Dollar, kuningan
    • 190. 50 cents, kuningan
    • 191. 20 cents, kuningan
    • 192. 10 cents, kuningan

GOED VOOR EEN DOLLAR ez. ( dan sebagainya ) en waarde in Chineesche lettereeken ( nilai dalam aksara Cina )

  • 51. Waspada, thee-en kina onderneming ( Preanger, Java )
    • 193. 10 cent, tembaga
    • 194. 5 cent, tembaga
    • 195. 1 cent, tembaga

“Waspada” vier (empat) javaansche letters en waarde-aan-duiding. Langwerpig ( persegi panjang )

Sekilas tampak bahwa daftar ini tak dapat dikatakan lengkap. Kita juga melihat satuan Dollar, Gulden, bahkan Mark, lalu cent, centen, dan duiten. Uang Perkebunan dengan jelas menggambarkan betapa rumitnya dunia numismatika tanah air yang luas ini.

Pembuat “Seing Huat Kedei” ( 38 ) jelas bukan pihak perkebunan tapi pemilik kedai (Melayu-nya “toko” yang kala itu mungkin masih bahasa asing ( Cina ); warung-nya Jawa ). Paling tidak ada 3 nama Cina ( 30, 38, 49 ); semuanya di Deli.

Mereka kiranya bisa dipastikan para pemilik toko, bukan tuan kebun, karena Jan Breman mencatat : Persaingan dari pihak Cina tidak dikehendaki oleh para tuan kebun Eropa. Merekapun menekan pemerintahan Kolonial dan dalam waktu singkat berhasil menutup kemungkinan pengusaha Cina untuk berusaha di bidang tanaman niaga ( Bool 1903 ).

Yang cukup menonjol dan mungkin mengejutkan kita adalah peran perkebunan Jerman. Ada beras yang Reis ( 8, 14, 15, 24, 29, 43 ), ada Duitsche opschrift ( 15, 18, 24, 43 ), malah ada yang dalam satuan Mark yang 100 Pfennige yang uang Jerman ( 47 ). Jan Breman memang mencatat, tahun 1884 warga Eropa di Sumatra Timur terdiri atas 390 orang Belanda, 123 orang Jerman, 88 orang Inggris, dari jumlah 512 orang.

Dari sebagian yang mencantumkan tahun ( 8, 14, 15, 18, 24, 30, 39, 43 ) tercatat paling awal bertahun 1888 ( 15, 18 ) dan terakhir tahun 1891 ( 39 ). Amati bahwa kelompok yang paling rajin mencantumkan tahun adalah pemakai Duitsche opschrift. Kelompok ini pula rupanya yang suka memberi Kupon Beras ( lihat Reis; 19 Dolar Bras; 41 Gantang Bras ).

Menilik tahunya yang 1888, sungguh mirip dengan Uang NHM Medan yang didata KUKI 1996 ( Medan, 14 Agustus 1888 – 14 Augustus 1890 ).Mestinya, alasan kelangkaan alat tukar ada benarnya. Yang masih tak jelas adalah penyebabnya.

Buku Scholten jelas tidak termasuk pustaka acuan Jan Breman. Dan sekali lagi kita melihat pakar Sejarah Sosial-Politik salah mengambil kesimpulan. Beras amat penting sebagai sumber tenaga para kuli, dan perlu dicukupi kebutuhanya. Pahami pula jatah beras bagi pegawai negri Indonesia.

Kelompok Jerman agaknya lebih biasa dengan ½ Dollar dari pada 50 cents. Nomor 39 Soengei Boenoet amat menarik, selain termasuk kelompok yang bertahun dan yang terakhir ( 1891 ), juga memakai 50 cents, tidak lagi 1/2 Dollar.

Selain Dollar, yang juga berbau Inggris adalah nilai 20, bukan 25 cents yang khas Belanda. Perkebunan di Jawa timur ( Pasuruhan ) memakai 25 cents. Perkebunan di Sumatra Timur rata-rata memakai 2 cents, kecuali soengei Diskie ( 40 ) dan Tandjoeng Kasau ( 46 centen ). Yang jelas memakai Gulden hanya Maluku ( 4 Batjan ) dan di Sumatera Timur hanya Rimboen ( 26 ); disana dipakai centen ( bukan cent ). Tak jelas apakah pemakaian centen menandai peralihan dari Dollar ke Gulden.

Jan Breman mencatat : Pada 1888 Chartered Bank membuka kantornya di Medan, dan tahun 1892 disusul oleh kantor Nederlandsche Handel-Maatschappij ( terbalik ? ). Penang sebagai pusat keuangan memang semakin berkurang artinya, tapi melepaskan diri dari hubungan lalu lintas keuangan dengan Straits Settlements belum dapat dilakukan. Baru pada 1908 Gulden Hindia Menggantikan Dolar sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Namun ini tidak berarti akhir dari Uang Perkebunan. Tengok saja Perkebunan di Jawa Timur yang juga menggunakanya ( untuk Borneo ? ).

Ada 2 Perkebunan ( 20, 44 ), mungkin 3 ( 45 ), yang memakai satuan Duit. Menurut Jan Breman : 1 Dollar = 100 cent = 1.000 Duit. Dari catatan pada nomer 44, memang 1 cent = 1- duit. Namun menurut R. Broersma ( 00stkust van Sumatra ), jilid 1 : De ontluiking van Deli, Batavia 1919, hal 16 ) : Als munten waren in gebruik Spaansche dollar en duiten van de Engelsche ).I.C ( 1 dollar = 20 cepongs = 240 duiten ). Untuk memahami satuan dalam Gantang Beras, Broersma mengutip Kol. Verslag 1882 dan 1885, mencatat harga : 20 tot 22 dollar de 100 gantang rijst ( hal. 116 ).

Maraknya Uang Perkebunan menunjukan berputarnya roda ekonomi di Sumatra Timur, dan orang yang disebut sebagai pionir adalah J. Nienhuys, yang tiba di Deli pada 1863. Bersama sejumlah rekan dan ditunjang oleh NHM, pada 1869 Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij, maskapai pertama yang beroperasi di Hindia-Belanda. Pada 1873 Deli, yang berada dibawah Siak, mendapat aisten residen yang semula berada di Labuan, tapi sejak 1879 pindah ke Medan. Pada awal 1880-an di Medan terdapat tak kurang dari 60 toko, kebanyakan milik orang Cina. Pada 1883 Medan mendapat kantor pos sendiri. Koran pertama di Deli terbit pada 1885. Trayek pertama Deli Spoorweg-Maatschappij ( Perusahaan Kereta Api Deli ) dibuka pada 1886. Pada 1887 Medan ditetapkan sebagai ibukota karesidenan baru Sumatra Timur. Pindahnya Sultan Deli ( dari Labuan ) membuat Medan juga menjadi tempat pemerintahan pribumi.

Demikianlah yang dapat kami dongengkan tentang Uang Perkebunan. Buku Scholten hanya menyajikan 10 contoh Uang Logam saja, yang walau mungkin tidak lengkap, telah berjasa memperkaya catatan Dunia Numismatika Indonesia. Kami tak tahu apakah ada kolektor Uang Perkebunan di Tanah Air, atau museum di tanah air yang menyimpan contohnya.

Penulis : Adi Pratomo 01 April 2006

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools