Wawancara dengan PEMALSU ORI

From Help

Jump to: navigation, search
menuju ke www.kintamoney.com
Lihat daftar artikel.

Wawancara dengan PEMALSU ORI

Seseorang yang tak dapat kami sebut namanya bersaksi hal kepalsuan ORI R.100 SDA-1 yang berlidah-tiga (J.Rp. 11/172). Kami juga pernah diajak Pak Soesantio mewawancarai seseorang (yang juga tak dapat kami sebut namanya) yang mengaku pernah memalsu UK tersebut. Lidah-tiga katanya, memang palsu. Terjadi secara tak sengaja saat pelat cetaknya dibuat. Kalau keteranganya benar, berarti tak ada Lidah-Tiga yang asli. Atau kembali kita dapati contoh pelat yang palsu. Tentang warnanya, ditambahkan bahwa yang dipakai adalah pewarna batik, dengan warna coklat (untuk baliknya) dan merah Lasem-nya yang terkenal. Runtutan kejadiannya, menurut penuturan Pak X yang hingga kini masih membuat batik di Lasem adalah : Semula dia mendapat pesanan pewarna batik dari Yogyakarta. Lasem kala itu masuk daerah Republik. Pengusaha Tionghoa dengan jaringan dagangnya adalah pelintas batas yang handal (dari dan ke wilayah pendudukan seperti Surabaya) dan diandalkan oleh Pemerintah, karena kekuatan modalnya, naluri dagangnya, dan walau mungkin dicurigai namun juga dibutuhkan kedua pihak. Pewarna adalah barang impor yang harus dibeli dengan UK NICA (seperti Dolar sekarang) yang dimiliki pengusaha, bukan ORI yang bisa dicetak Pemerintah.

OriR100 01.JPG

Sebagian mereka kemudian menyadari warna-warna itu dipakai untuk membuat ORI. Mereka yang berbakat segera menyadari adanya peluang yang menggiurkan. Patut diduga, kerjasama berlangsung antara pemilik percetakan dan pembuat warna, karena Pak X menyatakan tidak bekerja sendiri. Kertas menjadi salah satu masalah; konon, kertas yang tebal tapi lentur seperti UK aslinya sulit didapat. Pemalsuan, tambahnya, tak hanya terjadi di Lasem tapi juga di Surabaya, Bojonegoro, Kudus, Semarang, dan Jakarta. Konon pencetakan secara gelap juga dilakukan dikalangan orang dalam; mungkin maksudnya oleh sebagian pegawai percetakan negara. Pak X dan rekannya tidak mengedarkan “upal”-nya secara langsung tapi langsung menukarnya ke Rupiah Merah (UK NICA). Sayang kami lupa bertanya berapa jumlah UK dalam selembar besar yang dicetaknya dan apakah semuanya berlidah tiga. Yang mngejutkan, ternyata Pak X tak kenal ORI R.100 Tembakau yang ditanda-tangani Hatta atau Maramis. Mungkin hanya beredar di pedalaman, katanya. Pernyataan Pak Y dari Bojonegoro tentang si Lidah-Tiga yang dihargai lebih murah menunjukan bahwa keberadaan UK Palsu ini sudah menjadi rahasia umum. Dan umumnya pedagang tidak menolak. Uang (dalam benak mereka) hanya benar-benar palsu kalau tidak bisa dibelanjakan lagi. Lagipula apa yang dapat dilakukan kalau pembeli hanya memiliki uang yang demikian. Patut dimengerti bahwa kala itu banyak pejuang. Keterangan di atas dapat dianggap sebagai kesaksian bahwa ORI R.100 SDA-1 beredar bersama UK Palsu-nya. Pembuktianya bisa ditilik dari jarangnya kita temukan si Lidah-Tiga yang masih mulus. Mungkin inilah satu-satunya UK Palsu yang layak masuk koleksi. Kalau kita renungkan memang ada yang ganjil. Mengapa Pemerintah menetak UK tanpa nomor (hanya 2-huruf seri) pecahan :

  • R. 0,50 (tertanggal 26 Juli 1947)
  • R. 1,00 (salah satu ragam terbitan 17 Oktober 1945)
  • R. 2,50 (terbitan 26 Juli 1947)

Dan 2 UK terbitan 26 Juli 1947 yang tanpa seri dan nomor, yaitu :

  • R. 25 (SDX-1)
  • R. 100 (SDA-1)

Kedua pecahan besar ini tentunya mengundang pemalsuan, karena selain nilainya memadai juga mudah ditiru karena tidak berseri dan tidak bernomor. Kami tidak pernah menjumpai ORI.100 Tembakau yang palsu. Juga R.75 dan agaknya R.50, mungkin karena lebih sulit dan nilainya tanggung. Anda bisa menumpai ORI R.250 yang palsu, tentunya juga R.400; keduanya bisa diduga karena nilainya yang besar. Jadi penerbitan R.25 SDX-1 dan R.100 SDA-1 yang mungkin hanya diedarkan di daerah tertentu, misalnya di daerah yang bersebelahan atau berhubungan dengan daerah pendudukan (NICA), dapat dipikirkan sebagai upaya mengalihkan minat para pemalsu ORI. Namun penerbitan UK tanpa seri dan nomor juga mencerminkan minat Pemerintah mencetak lebih tanpa diketahui. Dengan adanya pemalsuan, jumlah yang beredar jelas semakin banyak lagi. Entah apa maksud Pemerintah yang sebenarnya dengan penerbitannya. Yang jelas, UK yang dicetak kemudian kembali memakai seri dan nomor. Tentang kapan ORI seri Inflasi ini mulai diedarkan, kami belum mendapatkan datanya

Adi Pratomo, 26 February 2000

Jurnal Rupiah No.56 (11 Juni 2000)

Lihat pula

menuju ke www.kintamoney.com
Personal tools